Home About Me Instagram

Sabtu, 13 Juni 2026

Paspor dan Visa Pertamaku untuk memenuhi undanganNya - Merangkai Kenangan di Negeri Dua Benua Part 1

Assalamu'alaikum dan hallo semuanya!

Akhirnya kita bertemu lagi di cerita perjalanan Türkiye yang sempat tertunda. Kalau di tulisan sebelumnya aku membagikan perjalanan menuju negeri dua benua ini, kali ini petualangan sesungguhnya akan dimulai.

Siapkan secangkir teh atau kopi favorit kalian, lalu ikutlah berjalan bersamaku menyusuri Istanbul yang penuh sejarah, menikmati sarapan dengan pemandangan perairan yang menenangkan, hingga mengagumi masjid-masjid megah yang selama ini mungkin hanya kita lihat di buku atau layar ponsel.

Selamat membaca guys

Di Bawah Langit Istanbul

Sekitar pukul 05.31 waktu Türkiye, roda pesawat yang kami tumpangi akhirnya menyentuh landasan Istanbul Airport. Saat itu aku mengembuskan napas panjang dan berbisik pelan,"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sampai juga."

Rasa syukur, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu. Sebagai seseorang yang tidak terlalu sering bepergian dengan pesawat, perjalanan kali ini terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena ini adalah perjalanan ke luar negeri, tetapi juga karena untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Benua Eropa.

Begitu keluar dari pesawat, udara pagi Istanbul langsung menyambut kami. Dingin. Jauh lebih dingin dibandingkan udara pagi yang biasa kurasakan di Indonesia.

Aku refleks merapatkan jaket sambil tersenyum sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Kota yang selama ini hanya kulihat melalui foto, video, dan berbagai tulisan perjalanan orang lain kini benar-benar ada di hadapanku.

Sepanjang berjalan menuju area imigrasi, mataku terus bergerak ke sana kemari, memperhatikan setiap sudut bandara. Ada perasaan seperti mimpi yang perlahan berubah menjadi kenyataan.

Proses pemeriksaan imigrasi berjalan lancar, setelah passport diperiksa dan beberapa pertanyaan standar dijawab, kami menuju area pengambilan bagasi. Selesai mengambil koper, kami menunaikan shalat Subuh terlebih dahulu sebelum melanjutkan agenda hari itu.




Foto dan video setelah melewati pemeriksaan imigrasi, menuju pengambilan bagasi

Ada sesuatu yang menenangkan ketika bisa memulai hari dengan shalat setelah perjalanan panjang semalaman. Tubuh memang lelah, tetapi hati terasa ringan.

Sambil menunggu tour guide datang menjemput, aku mencoba menarik uang tunai menggunakan kartu Debit Paspor BCA yang kubawa dari Indonesia.

Jujur saja, awalnya aku agak deg-degan dan berucap dalam hati "Semoga bisa dipakai ni kartu"

Beberapa detik kemudian mesin ATM mengeluarkan lembaran Lira Türkiye

Yeayyy, berhasil!

Entah kenapa ada rasa puas tersendiri saat pertama kali memegang mata uang lokal sebuah negara yang baru saja kita datangi. Meskipun sebelumnya aku sudah menukarkan sejumlah uang di Indonesia, memiliki cadangan uang tunai tetap membuatku merasa lebih tenang selama perjalanan.

Tak lama kemudian, seorang tour guide menghampiri rombongan kami dengan senyum hangat khas orang yang sudah terbiasa menyambut tamu dari berbagai negara.

Setelah saling berkenalan, dia mengajak kami menuju kendaraan yang akan menemani perjalanan selama di Türkiye.

Dan di sinilah kejutan berikutnya menunggu kami.

Mobil yang digunakan adalah Mercedes-Benz Vito.

Begitu pintu geser dibuka, aku langsung memahami mengapa kendaraan ini begitu populer untuk perjalanan wisata di Türkiye.

Kabinnya luas, nyaman, dan terasa premium. Bagasinya mampu menampung lima koper besar, lima ransel, dan satu koper kecil tanpa kesulitan. Kursi baris kedua dan ketiga saling berhadapan sehingga suasana perjalanan terasa lebih akrab. Ditambah lagi ada port USB untuk mengisi daya ponsel, lampu ambient di langit-langit kabin, AC yang sejuk, dan kursi empuk yang membuat perjalanan terasa seperti duduk di kabin business class.

Kabin mobil kami

Tak lama kemudian, mobil mulai melaju meninggalkan bandara. Pagi itu Istanbul perlahan terbangun. Di balik jendela, aku melihat jalanan yang mulai ramai, deretan bangunan yang khas, dan langit cerah yang menyambut hari baru. 

Pemandangan menuju restoran


Suasana jalan menuju restoran

Perjalanan menuju tempat sarapan terasa begitu menyenangkan. Beberapa dari kami tampak menikmati pemandangan di luar jendela sambil sesekali bercengkerama. Ada yang sibuk mengabadikan momen, ada pula yang memilih duduk santai menikmati suasana. Aku sendiri tidak ingin melewatkan satu pun pemandangan yang ada. Sesekali aku merekam suasana jalanan, lalu kembali menatap ke luar jendela, menikmati kenyataan bahwa aku benar-benar sedang berada di Istanbul.

Rasanya sayang jika momen seperti ini dilewatkan begitu saja.

Kami  terlalu asyik menikmati perjalanan, sehingga tanpa terasa kendaraan kami perlahan memasuki area parkir restoran Halic Sosyal Tesisleri.

Begitu turun dari mobil, udara pagi yang sejuk langsung menyentuh wajah. Langkah kami terasa ringan menyusuri jalan menuju restoran. Namun yang paling mencuri perhatian adalah pemandangan di sekitar kami.

Indahnya perairan Haliç

Tak jauh dari area parkir, terbentang perairan Haliç yang tenang dan memantulkan cahaya matahari pagi. Airnya berkilauan lembut, sementara bangunan-bangunan di kejauhan berdiri anggun menghiasi tepian. Sulit rasanya menggambarkan keindahan pemandangan itu dengan kata-kata. Aku hanya bisa berhenti sejenak, memandanginya, lalu bersyukur karena bisa menyaksikan langsung pemandangan yang selama ini hanya kulihat di foto dan di postingan orang lain.

Begitu memasuki restoran, aroma roti hangat yang baru dipanggang langsung menyambut, berpadu dengan wangi khas teh Türkiye yang menenangkan. Kami memilih duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan Haliç yang membentang luas selama sarapan.

Tak lama kemudian, secangkir teh Türkiye hangat tersaji di hadapan kami. Gelas kecil berbentuk tulip itu terasa pas di tangan, menghangatkan tubuh yang masih menyesuaikan diri dengan udara pagi Istanbul.

Satu per satu hidangan sarapan mulai memenuhi meja. Ada aneka roti segar, irisan tomat dan mentimun yang segar, telur, madu, selai, hingga kentang goreng. Semuanya tersaji sederhana, tetapi begitu menggugah selera.

Suasana meja pun terasa hangat. Obrolan ringan mengalir di antara kami, diselingi tawa kecil dan rasa penasaran saat mencicipi berbagai hidangan khas Türkiye. Sesekali pandanganku beralih ke luar jendela, memperhatikan kapal-kapal yang melintas perlahan di perairan Haliç.

Saat itu aku menyadari bahwa sarapan ini bukan sekadar mengisi perut setelah perjalanan panjang. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Duduk bersama teman seperjalanan, menikmati secangkir teh hangat, sambil memandangi perairan yang tenang di pagi hari membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.


Video singkat saat sarapan

Tanpa terasa, sarapan pun usai, dengan perut kenyang dan hati yang gembira, kami berjalan kembali menuju area parkir. Sebelum naik ke mobil, tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama dengan latar belakang perairan Haliç yang indah. Senyum mengembang di wajah kami, seolah perjalanan ini baru saja dimulai dan sudah menghadiahkan begitu banyak kesan indah.



Menyempatkan berfoto sebelum masuk ke mobil

Tak lama kemudian, kami kembali masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup, mesin dinyalakan, dan kendaraan perlahan meninggalkan Haliç.

Dari balik jendela, pemandangan pagi yang baru saja kami nikmati perlahan menjauh. Namun rasa hangat dari sarapan, keindahan perairan Haliç, dan antusiasme untuk menjelajahi Istanbul masih tersimpan erat.

Perjalanan menuju destinasi berikutnya pun dimulai.

Destinasi itu adalah Eyüp Sultan Mosque.

Begitu turun dari mobil dan melangkah memasuki kawasan masjid, suasananya langsung terasa berbeda. Padahal di luar sana Istanbul sedang ramai dengan aktivitas warganya, tetapi di sini semuanya terasa lebih tenang. Udara pagi yang sejuk, suara langkah para peziarah, dan kepakan sayap merpati yang beterbangan menciptakan suasana yang menenangkan hati.

Kami berjalan perlahan melewati halaman masjid yang luas. Cahaya matahari pagi menyinari kubah-kubah dan bangunan batu berwarna krem yang berdiri anggun di hadapan kami. Sesekali terdengar percakapan pelan dalam berbagai bahasa dari para peziarah yang datang dari berbagai negara.

Entah mengapa, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti datang ke tempat yang baru pertama kali kukunjungi, tetapi sekaligus terasa begitu akrab.

Di sekitar kompleks masjid terdapat air mancur bergaya kuno yang dipercaya sebagian orang memiliki keberkahan, pohon-pohon besar yang menaungi halaman, deretan pohon cemara yang menjulang tenang, serta makam-makam bersejarah yang mengelilingi area masjid. Semuanya menyatu membentuk suasana yang damai dan teduh.

Namun yang membuat kunjungan ini terasa semakin istimewa bukan hanya keindahan tempatnya, melainkan kisah yang tersimpan di baliknya.

Di kompleks inilah dimakamkan Abu Ayyub al-Ansari, sahabat Rasulullah yang dikenal sebagai tuan rumah beliau saat hijrah ke Madinah. Mendengar kisah itu membuatku sejenak terdiam. Nama yang selama ini sering kubaca dalam buku-buku sejarah Islam kini terasa begitu dekat.

Abu Ayyub al-Ansari wafat saat mengikuti ekspedisi menuju Konstantinopel. Berabad-abad kemudian, setelah kota itu ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1453, makam beliau ditemukan kembali dan kawasan ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ziarah terpenting dalam sejarah Kesultanan Utsmaniyah.

Saat berdiri di sana, aku mencoba membayangkan perjalanan panjang yang telah dilalui tempat ini selama ratusan tahun. Begitu banyak orang yang datang dan pergi, begitu banyak doa yang dipanjatkan, dan begitu banyak kisah yang tersimpan di setiap sudutnya.

Untuk beberapa saat, aku hanya memilih diam dan menikmati suasananya.

Kadang ada tempat yang tidak perlu banyak kata untuk membuat kita terkesan. Dan bagiku, Eyüp Sultan Mosque adalah salah satunya.

Dari Eyüp Sultan Mosque, perjalanan kami berlanjut menuju salah satu ikon paling terkenal di Istanbul yaitu Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal sebagai Blue Mosque.

Enam menara masjid itu sudah terlihat menjulang tinggi di kejauhan. Langit Istanbul pagi itu tampak biru cerah tanpa awan tebal, membuat siluet masjid terlihat semakin menawan.

 Semakin dekat, semakin terasa kemegahannya.

Kubah-kubah bertingkat yang tersusun harmonis seakan mendominasi cakrawala kota. Di sekelilingnya, wisatawan dari berbagai negara berjalan berdampingan dengan warga lokal yang datang untuk beribadah. Suasananya hidup, tetapi tetap terasa tertib dan nyaman.

Sesampainya di halaman masjid, aku sengaja memperlambat langkah.

Aku ingin menikmati momen itu lebih lama.

Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, burung-burung beterbangan di atas halaman, dan bangunan megah yang selama ini hanya kulihat di foto kini berdiri tepat di hadapanku.

Setelah melepas sepatu dan memasuki ruang utama masjid, aku benar-benar terpukau.

Mataku langsung tertuju ke langit-langit yang menjulang tinggi. Cahaya matahari masuk melalui ratusan jendela dan memantul pada ribuan keramik Iznik yang menghiasi dinding bagian dalam. Warna biru, hijau, putih, dan ungu berpadu begitu indah hingga menciptakan suasana yang hangat sekaligus menenangkan.

Tidak heran jika masjid ini dijuluki Blue Mosque.

Di setiap sudut, terdapat detail-detail kecil yang membuatku terus menoleh ke sana kemari. Kaligrafi yang indah, pilar-pilar marmer yang kokoh, lampu gantung yang menggantung rendah, serta permainan cahaya yang membuat interior masjid tampak hidup.

Sambil mengagumi keindahannya, tour guide kami mulai menceritakan sejarah masjid ini.



Blue Mosque dibangun atas perintah Sultan Ahmed I pada awal abad ke-17. Saat itu, beliau ingin menghadirkan sebuah masjid yang menjadi simbol kebesaran Kesultanan Utsmaniyah sekaligus menunjukkan kejayaan arsitektur Islam. Lokasinya yang berada tepat berhadapan dengan Hagia Sophia membuat kedua bangunan ini seperti saling berdialog melintasi zaman. Namun yang paling membuatku terkesan adalah kenyataan bahwa hingga hari ini Blue Mosque masih berfungsi sebagai masjid aktif.

Di tengah banyaknya wisatawan yang datang setiap tahun, tempat ini tetap menjadi ruang ibadah bagi masyarakat setempat. Ketika waktu shalat tiba, sebagian area ditutup dan suasananya berubah menjadi jauh lebih khusyuk.

Perpaduan antara sejarah, seni, dan kehidupan spiritual yang masih berlangsung hingga sekarang membuat pengalaman berada di sini terasa begitu istimewa.

Saat meninggalkan masjid, aku sempat menoleh sekali lagi ke belakang.

Kubah-kubahnya masih berdiri megah di bawah langit Istanbul.

Dan saat itu aku merasa seolah baru saja melakukan perjalanan singkat melintasi beberapa abad sejarah.

Tepat di seberang Blue Mosque berdiri bangunan yang namanya sudah sangat akrab bahkan sebelum aku datang ke Türkiye, Hagia Sophia.

Kebetulan saat itu waktu Zuhur telah tiba, kami memutuskan untuk melaksanakan shalat di sana.

Dari luar, Hagia Sophia terlihat begitu megah, tenang, dan penuh wibawa. Rasanya seperti sedang menatap seseorang yang telah melihat begitu banyak hal dalam hidupnya, seorang saksi tua yang diam-diam menyimpan cerita dari berabad-abad perjalanan manusia.

Sebelum datang ke sini, aku sudah berkali-kali melihat fotonya. Aku juga pernah membaca kisah sejarahnya di internet dan buku. Namun, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan perasaanku saat berdiri langsung di hadapannya. Ada rasa kagum yang sulit dijelaskan. Ada rasa penasaran yang membuat mata terus menelusuri setiap sudut bangunannya, dan entah kenapa, ada sedikit rasa merinding ketika membayangkan begitu banyak peristiwa besar yang pernah berlangsung di tempat ini.

Begitu melangkah masuk, refleks aku langsung mendongakkan kepala. Kubah raksasa di atas sana terasa begitu tinggi hingga sulit dipercaya dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu. Cahaya matahari yang masuk menciptakan suasana hangat yang membuat ruangan terasa hidup.

Di satu sisi terlihat kaligrafi Arab berukuran besar berlafaz Allah dan Rasulullah. Di sisi lain tampak mosaik-mosaik kuno peninggalan Bizantium yang masih bertahan hingga sekarang.

Pemandangan itu terasa unik. Seolah dua peradaban besar sedang bercerita bersama dalam satu ruang yang sama.

Setelah menunaikan salat Zuhur, aku memilih duduk sejenak. Aku membiarkan diri larut dalam suasana, memandangi orang-orang yang datang dan pergi, lalu mengamati setiap sudut ruangan yang penuh jejak masa lalu. Di momen itulah aku mulai mengerti mengapa jutaan orang dari berbagai penjuru dunia rela datang jauh-jauh ke sini.

Hagia Sophia bukan hanya bangunan bersejarah. Tempat ini terasa seperti sebuah buku raksasa yang setiap dinding, pilar, dan kubahnya menyimpan kisah tentang hampir 1.500 tahun perjalanan manusia. Aku membayangkan para kaisar Bizantium yang pernah melangkah di lorong yang sama, para sultan Utsmaniyah yang menjadikannya masjid, hingga para pelancong dari berbagai bangsa yang datang dengan rasa kagum yang mungkin tidak jauh berbeda dengan yang kurasakan hari itu.

Saat akhirnya melangkah keluar dan kembali menyusuri jalanan Istanbul yang ramai, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti baru saja melakukan perjalanan melintasi berabad-abad sejarah hanya dalam satu hari. Hingga sekarang, momen itu tetap menjadi salah satu kenangan paling hangat dan paling membekas dari perjalananku di Türkiye.

Dari sana, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menikmati suasana kota Istanbul. Siang itu udaranya terasa begitu nyaman. Matahari bersinar cerah, tetapi tidak terasa menyengat seperti di Indonesia. Angin sepoi-sepoi sesekali berhembus, membuat langkah kaki terasa ringan. Tidak heran jika banyak warga maupun wisatawan memilih berjalan kaki untuk menikmati kota ini.


Sepanjang jalan, deretan toko souvenir berjajar rapi di kanan dan kiri jalan. Etalasenya dipenuhi berbagai barang khas Türkiye yang menarik perhatian. Mulai dari syal warna-warni, sajadah, gantungan kunci, tempelan kulkas, pajangan cantik, pulpen, kaos, tas, jilbab, hingga berbagai pernak-pernik unik lainnya. Rasanya ingin berhenti di setiap toko untuk melihat-lihat lebih lama.

Hingga akhirnya kami mampir ke salah satu toko souvenir. Dari luar tokonya terlihat sederhana, tetapi begitu masuk ke dalam, pilihan barangnya ternyata sangat lengkap. Aku pun mulai memilih beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Beberapa kaos, sajadah, tempelan kulkas, dan gantungan kunci masuk ke keranjang belanjaku untuk keluarga di rumah dan beberapa sahabat dekat. Di sisi lain, Ibu Ren tampak sibuk memilih kaos untuk keluarganya. Firda terlihat asyik melihat-lihat koleksi syal, sementara Uti Atun juga membeli beberapa kaos dan syal sebagai buah tangan.

Saat semua belanjaan selesai dibayar, ada kejutan kecil yang membuat kami tersenyum. Sang penjual tiba-tiba memberikan masing-masing dari kami satu kotak jus buah kemasan. Mungkin terlihat sederhana, tetapi setelah cukup lama berjalan kaki, minuman dingin itu terasa sangat istimewa. Begitu tegukan pertama masuk ke tenggorokan, rasa segarnya langsung terasa. Kami pun saling tersenyum sambil menikmati jus tersebut. Momen kecil seperti itu justru sering menjadi kenangan manis yang tidak terlupakan saat bepergian.

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan siang. Sebelum naik tram, tour guide kami mengingatkan agar selalu waspada dan menjaga tas masing-masing karena transportasi umum di Istanbul cukup ramai dan rawan copet. Kami pun langsung memastikan tas dan barang bawaan berada dalam pengawasan.

Hari itu kami menuju kawasan Fatih menggunakan tram. Bagiku, ini adalah pengalaman pertama naik tram. Ada rasa penasaran sekaligus antusias. Saat pintu tram terbuka, suasana di dalamnya sudah cukup padat. Banyak orang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Ada yang pulang kerja, ada yang sedang bepergian, dan ada pula wisatawan seperti kami yang menikmati pengalaman baru. Dari balik jendela, pemandangan kota Istanbul terus berganti, membuat perjalanan singkat itu terasa menyenangkan.

Beberapa menit kemudian, kami tiba di tujuan. Setelah turun dari tram, kami menyeberangi jalan dan berjalan menyusuri trotoar menuju restoran. Saat itu waktu sudah beranjak dari siang menuju sore. Udara terasa semakin sejuk dan angin berhembus lembut sepanjang jalan. Langkah kaki terasa santai, ditemani suasana kota yang hidup namun tetap nyaman dinikmati.

Tidak terasa, kami akhirnya tiba di restoran tujuan. Perut yang sejak tadi mulai lapar langsung semakin bersemangat ketika melihat hidangan yang tersaji di meja. Kami makan di sebuah restoran Malaysia bernama Tea Amo Bubble Tea. Menu makan siang kami adalah Gumush Chicken Fried Rice, nasi goreng yang disajikan dengan potongan ayam, telur, bawang bombai, wortel, kacang polong, dan tomat segar.

Aroma harum nasi gorengnya langsung menggugah selera. Setelah seharian berjalan kaki dan berkeliling kota, makanan hangat seperti ini terasa sangat nikmat. Suapan pertama langsung membuatku tersenyum puas. Rasanya gurih, hangat, dan pas di lidah. Porsinya pun cukup besar sehingga benar-benar mengenyangkan. Sambil menikmati makan siang, kami berbincang santai tentang pengalaman hari itu. Rasanya sederhana, tetapi justru momen-momen seperti inilah yang membuat perjalanan terasa semakin berkesan.

Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Panorama 1453 History Museum. Perjalanan berlangsung santai, hingga akhirnya kami tiba di area museum. Satu per satu dari kami mulai turun dari mobil. Beberapa bahkan sudah sibuk berfoto dengan latar bangunan museum sebelum masuk ke dalam.

Saat aku hendak turun, tiba-tiba Uti Atun memanggilku.

"Sebentar ya, tunggu Uti dulu."

Beliau lalu membuka tasnya dan mulai mencari sesuatu. Awalnya aku mengira hanya mencari ponsel atau barang kecil lainnya. Namun setelah beberapa menit, ekspresi wajahnya mulai berubah. Satu per satu barang di dalam tas dikeluarkan dan diperiksa, tetapi dompet yang dicari tidak kunjung ditemukan.

Perasaanku langsung ikut tidak tenang.

Aku segera memanggil tour guide yang saat itu sudah berada di luar mobil. Beliau pun masuk ke dalam mobil dan membantu mencari. Semua kantong dan resleting tas diperiksa kembali dengan teliti. Namun hasilnya tetap sama. Dompet Uti Atun benar-benar tidak ada.

Suasana mendadak berubah hening.

Uti Atun terlihat sangat sedih. Matanya mulai berkaca-kaca sambil perlahan memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Melihat beliau seperti itu membuat kami semua ikut merasa prihatin.

Tour guide kemudian mencoba menenangkan beliau. Kemungkinan besar dompet tersebut terjatuh atau diambil seseorang saat kami berjalan kaki ataupun ketika berada di dalam tram yang cukup ramai sebelumnya.

Demi memberi waktu untuk menyelesaikan masalah ini, tour guide akhirnya memutuskan untuk menunda kunjungan ke museum dan menjadwalkannya kembali keesokan hari. Kami memahami situasinya dan tidak ada yang keberatan.

Di dalam mobil, Uti Atun kemudian menelepon anaknya di Indonesia dan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Syukurlah, sang anak langsung menenangkan beliau dan berjanji membantu mengurus pemblokiran kartu ATM yang ada di dalam dompet. Bahkan ia juga berencana mengirimkan uang pengganti melalui pembimbing umrah yang akan berangkat bersama rombongan lain beberapa hari kemudian.

Sedikit demi sedikit wajah Uti Atun mulai terlihat lebih tenang.

Beliau lalu berkata kepada kami sambil tersenyum tipis,

"Alhamdulillah yang hilang cuma dompet. Passport masih ada. Coba kalau passport ikut hilang, bisa repot urus ke kedutaan dan besok mungkin kita enggak jadi jalan-jalan."

Kami semua mengangguk setuju. Dalam situasi seperti itu, memang selalu ada hal yang masih bisa disyukuri.

Tak lama kemudian beliau kembali berkata dengan nada yang lebih ringan,

"Mungkin ini cara Allah mengingatkan Uti. Mungkin akhir-akhir ini Uti kurang bersedekah."

Ucapan itu membuat suasana yang sempat tegang perlahan mencair kembali.

Setelah keadaan lebih tenang, perjalanan kami pun berlanjut menuju salah satu aktivitas yang paling kutunggu selama berada di Istanbul, yaitu menyusuri Selat Bosphorus dengan kapal ferry.

Bagi yang belum tahu, Selat Bosphorus adalah selat yang membelah Istanbul menjadi dua bagian sekaligus menjadi batas alami antara benua Eropa dan Asia. Selat ini juga menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam, sehingga memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah dan perdagangan dunia.

Sesampainya di dermaga, kami langsung menuju ferry yang sudah bersiap berangkat. Ketika naik ke kapal, ternyata area dek bagian atas sudah dipenuhi penumpang. Akhirnya kami memilih duduk di bagian bawah.

Awalnya aku sempat berpikir pemandangan dari bawah mungkin tidak akan terlalu menarik. Namun ternyata aku salah. Dari tempat kami duduk, panorama Bosphorus tetap terlihat sangat indah.

Perlahan kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga. Angin sejuk berembus dari permukaan air, sementara pemandangan kota Istanbul membentang di kedua sisi selat.


Sepanjang perjalanan, kami disuguhi berbagai landmark terkenal yang selama ini hanya kulihat di foto dan internet.

Di sisi Eropa tampak megahnya Dolmabahçe Palace dengan arsitektur bergaya Eropa yang menjadi simbol kemewahan Kesultanan Ottoman pada masa akhir pemerintahannya.

Tak lama kemudian terlihat Ortaköy Mosque yang berdiri anggun tepat di tepi perairan dengan latar belakang Jembatan Bosphorus yang membentang megah.

Kami juga melewati Rumeli Hisarı, benteng bersejarah yang dibangun oleh Sultan Mehmed II sebagai bagian dari strategi penaklukan Konstantinopel.

Tak jauh dari sana, berdiri pula Maiden's Tower yang tampak cantik di atas sebuah pulau kecil di tengah perairan.

Namun ada satu hal yang paling membuatku terpesona.

Sepanjang perjalanan, puluhan burung camar terus mengikuti kapal kami. Mereka terbang rendah di atas permukaan air, kadang mendekat ke sisi kapal, lalu kembali melayang mengikuti arah angin. Pemandangan itu terasa begitu indah dan menenangkan.

Aku berkali-kali mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen tersebut, tetapi rasanya foto apa pun tidak akan mampu menangkap keindahan yang kulihat saat itu.

Subhanallah.

Laut biru yang tenang, langit cerah, siluet bangunan-bangunan bersejarah, dan burung-burung camar yang menemani perjalanan membuat dua jam di atas Bosphorus terasa berlalu begitu cepat.

Tanpa terasa, pelayaran pun berakhir.

Menjelang malam, kami langsung menuju hotel untuk beristirahat.

Begitu memasuki lobi hotel, kesan pertama yang muncul adalah nyaman dan elegan. Ruangannya sangat luas, bersih, dan terang. Lampu gantung kristal berkilauan menghiasi langit-langit, sementara cermin-cermin besar di dinding membuat ruangan terlihat semakin mewah.

Staf hotel menyambut kami dengan ramah dan membantu membawa koper menuju kamar masing-masing.

Pembagian kamar pun dilakukan. Uti Atun sekamar dengan Bu Reni, Firda sekamar dengan Paul, sedangkan aku sekamar dengan tour guide.

Sesampainya di kamar, rasa lelah setelah seharian beraktivitas seakan langsung terbayar. Kamarnya bersih dan nyaman, dilengkapi dua tempat tidur, lemari pakaian, meja kecil, kamar mandi yang luas, serta sebuah balkon yang menghadap ke luar.

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, aku sempat berbincang cukup lama dengan tour guide. Kami mengobrol tentang kesehariannya, pengalamannya mendampingi wisatawan dari berbagai negara, hingga cerita-cerita unik yang pernah ia alami selama bekerja.

Percakapan ringan itu menjadi penutup yang menyenangkan untuk hari yang panjang.

Tak terasa mata mulai terasa berat. Setelah seharian berjalan kaki, naik tram, kehilangan dompet, menyusuri Bosphorus, dan menikmati keindahan Istanbul, akhirnya kami pun tertidur dengan nyenyak.

Nah, sampai di sini dulu sharing perjalanan hari pertama di Türkiye.

Bagaimana? Sudah mulai penasaran dengan petualangan kami selanjutnya di Türkiye?

Masih banyak cerita menarik yang belum sempat kupublikasikan dan kurapikan karena sebagian masih berupa draft. Jadi, tunggu cerita berikutnya ya. Aku akan segera membagikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright© 2012-2024. All Right reserved by Riztanty Ayudia