Assalamu'alaikum dan hallo semuanya!
Akhirnya kita bertemu lagi di cerita perjalanan Türkiye yang sempat tertunda. Kalau di tulisan sebelumnya aku membagikan perjalanan menuju negeri dua benua ini, kali ini petualangan sesungguhnya akan dimulai.
Siapkan secangkir teh atau kopi favorit kalian, lalu ikutlah berjalan bersamaku menyusuri Istanbul yang penuh sejarah, menikmati sarapan dengan pemandangan perairan yang menenangkan, hingga mengagumi masjid-masjid megah yang selama ini mungkin hanya kita lihat di buku atau layar ponsel.
Selamat membaca guys
Di Bawah Langit Istanbul
Sekitar pukul 05.31 waktu Türkiye, roda pesawat yang kami tumpangi akhirnya menyentuh landasan Istanbul Airport. Saat itu aku mengembuskan napas panjang dan berbisik pelan,"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sampai juga."
Rasa syukur, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu. Sebagai seseorang yang tidak terlalu sering bepergian dengan pesawat, perjalanan kali ini terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena ini adalah perjalanan ke luar negeri, tetapi juga karena untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Benua Eropa.
Begitu keluar dari pesawat, udara pagi Istanbul langsung menyambut kami. Dingin. Jauh lebih dingin dibandingkan udara pagi yang biasa kurasakan di Indonesia.
Aku refleks merapatkan jaket sambil tersenyum sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Kota yang selama ini hanya kulihat melalui foto, video, dan berbagai tulisan perjalanan orang lain kini benar-benar ada di hadapanku.
Sepanjang berjalan menuju area imigrasi, mataku terus bergerak ke sana kemari, memperhatikan setiap sudut bandara. Ada perasaan seperti mimpi yang perlahan berubah menjadi kenyataan.
Proses pemeriksaan imigrasi berjalan lancar, setelah passport diperiksa dan beberapa pertanyaan standar dijawab, kami menuju area pengambilan bagasi. Selesai mengambil koper, kami menunaikan shalat Subuh terlebih dahulu sebelum melanjutkan agenda hari itu.
![]() |
| Foto dan video setelah melewati pemeriksaan imigrasi, menuju pengambilan bagasi |
Ada sesuatu yang menenangkan ketika bisa memulai hari dengan shalat setelah perjalanan panjang semalaman. Tubuh memang lelah, tetapi hati terasa ringan.
Sambil menunggu tour guide datang menjemput, aku mencoba menarik uang tunai menggunakan kartu Debit Paspor BCA yang kubawa dari Indonesia.
Jujur saja, awalnya aku agak deg-degan dan berucap dalam hati "Semoga bisa dipakai ni kartu"
Beberapa detik kemudian mesin ATM mengeluarkan lembaran Lira Türkiye
Yeayyy, berhasil!
Entah kenapa ada rasa puas tersendiri saat pertama kali memegang mata uang lokal sebuah negara yang baru saja kita datangi. Meskipun sebelumnya aku sudah menukarkan sejumlah uang di Indonesia, memiliki cadangan uang tunai tetap membuatku merasa lebih tenang selama perjalanan.
Tak lama kemudian, seorang tour guide menghampiri rombongan kami dengan senyum hangat khas orang yang sudah terbiasa menyambut tamu dari berbagai negara.
Setelah saling berkenalan, dia mengajak kami menuju kendaraan yang akan menemani perjalanan selama di Türkiye.
Dan di sinilah kejutan berikutnya menunggu kami.
Mobil yang digunakan adalah Mercedes-Benz Vito.
Begitu pintu geser dibuka, aku langsung memahami mengapa kendaraan ini begitu populer untuk perjalanan wisata di Türkiye.
Kabinnya luas, nyaman, dan terasa premium. Bagasinya mampu menampung lima koper besar, lima ransel, dan satu koper kecil tanpa kesulitan. Kursi baris kedua dan ketiga saling berhadapan sehingga suasana perjalanan terasa lebih akrab. Ditambah lagi ada port USB untuk mengisi daya ponsel, lampu ambient di langit-langit kabin, AC yang sejuk, dan kursi empuk yang membuat perjalanan terasa seperti duduk di kabin business class.
| Kabin mobil kami |
Tak lama kemudian, mobil mulai melaju meninggalkan bandara. Pagi itu Istanbul perlahan terbangun. Di balik jendela, aku melihat jalanan yang mulai ramai, deretan bangunan yang khas, dan langit cerah yang menyambut hari baru.
![]() |
| Pemandangan menuju restoran |
![]() |
| Suasana jalan menuju restoran |
Perjalanan menuju tempat sarapan terasa begitu menyenangkan. Beberapa dari kami tampak menikmati pemandangan di luar jendela sambil sesekali bercengkerama. Ada yang sibuk mengabadikan momen, ada pula yang memilih duduk santai menikmati suasana. Aku sendiri tidak ingin melewatkan satu pun pemandangan yang ada. Sesekali aku merekam suasana jalanan, lalu kembali menatap ke luar jendela, menikmati kenyataan bahwa aku benar-benar sedang berada di Istanbul.
Rasanya sayang jika momen seperti ini dilewatkan begitu saja.
Kami terlalu asyik menikmati perjalanan, sehingga tanpa terasa kendaraan kami perlahan memasuki area parkir restoran Halic Sosyal Tesisleri.
Begitu turun dari mobil, udara pagi yang sejuk langsung menyentuh wajah. Langkah kami terasa ringan menyusuri jalan menuju restoran. Namun yang paling mencuri perhatian adalah pemandangan di sekitar kami.
| Indahnya perairan Haliç |
Tak jauh dari area parkir, terbentang perairan Haliç yang tenang dan memantulkan cahaya matahari pagi. Airnya berkilauan lembut, sementara bangunan-bangunan di kejauhan berdiri anggun menghiasi tepian. Sulit rasanya menggambarkan keindahan pemandangan itu dengan kata-kata. Aku hanya bisa berhenti sejenak, memandanginya, lalu bersyukur karena bisa menyaksikan langsung pemandangan yang selama ini hanya kulihat di foto dan di postingan orang lain.
Begitu memasuki restoran, aroma roti hangat yang baru dipanggang langsung menyambut, berpadu dengan wangi khas teh Türkiye yang menenangkan. Kami memilih duduk di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan Haliç yang membentang luas selama sarapan.
Tak lama kemudian, secangkir teh Türkiye hangat tersaji di hadapan kami. Gelas kecil berbentuk tulip itu terasa pas di tangan, menghangatkan tubuh yang masih menyesuaikan diri dengan udara pagi Istanbul.
Satu per satu hidangan sarapan mulai memenuhi meja. Ada aneka roti segar, irisan tomat dan mentimun yang segar, telur, madu, selai, hingga kentang goreng. Semuanya tersaji sederhana, tetapi begitu menggugah selera.
Suasana meja pun terasa hangat. Obrolan ringan mengalir di antara kami, diselingi tawa kecil dan rasa penasaran saat mencicipi berbagai hidangan khas Türkiye. Sesekali pandanganku beralih ke luar jendela, memperhatikan kapal-kapal yang melintas perlahan di perairan Haliç.
Saat itu aku menyadari bahwa sarapan ini bukan sekadar mengisi perut setelah perjalanan panjang. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Duduk bersama teman seperjalanan, menikmati secangkir teh hangat, sambil memandangi perairan yang tenang di pagi hari membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.
Tanpa terasa, sarapan pun usai, dengan perut kenyang dan hati yang gembira, kami berjalan kembali menuju area parkir. Sebelum naik ke mobil, tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama dengan latar belakang perairan Haliç yang indah. Senyum mengembang di wajah kami, seolah perjalanan ini baru saja dimulai dan sudah menghadiahkan begitu banyak kesan indah.
| Menyempatkan berfoto sebelum masuk ke mobil |
Tak lama kemudian, kami kembali masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup, mesin dinyalakan, dan kendaraan perlahan meninggalkan Haliç.
Dari balik jendela, pemandangan pagi yang baru saja kami nikmati perlahan menjauh. Namun rasa hangat dari sarapan, keindahan perairan Haliç, dan antusiasme untuk menjelajahi Istanbul masih tersimpan erat.
Perjalanan menuju destinasi berikutnya pun dimulai.
Destinasi itu adalah Eyüp Sultan Mosque.
Begitu turun dari mobil dan melangkah memasuki kawasan masjid, suasananya langsung terasa berbeda. Padahal di luar sana Istanbul sedang ramai dengan aktivitas warganya, tetapi di sini semuanya terasa lebih tenang. Udara pagi yang sejuk, suara langkah para peziarah, dan kepakan sayap merpati yang beterbangan menciptakan suasana yang menenangkan hati.
Entah mengapa, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti datang ke tempat yang baru pertama kali kukunjungi, tetapi sekaligus terasa begitu akrab.
Di sekitar kompleks masjid terdapat air mancur bergaya kuno yang dipercaya sebagian orang memiliki keberkahan, pohon-pohon besar yang menaungi halaman, deretan pohon cemara yang menjulang tenang, serta makam-makam bersejarah yang mengelilingi area masjid. Semuanya menyatu membentuk suasana yang damai dan teduh.
Namun yang membuat kunjungan ini terasa semakin istimewa bukan hanya keindahan tempatnya, melainkan kisah yang tersimpan di baliknya.
Di kompleks inilah dimakamkan Abu Ayyub al-Ansari, sahabat Rasulullah yang dikenal sebagai tuan rumah beliau saat hijrah ke Madinah. Mendengar kisah itu membuatku sejenak terdiam. Nama yang selama ini sering kubaca dalam buku-buku sejarah Islam kini terasa begitu dekat.
Abu Ayyub al-Ansari wafat saat mengikuti ekspedisi menuju Konstantinopel. Berabad-abad kemudian, setelah kota itu ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1453, makam beliau ditemukan kembali dan kawasan ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ziarah terpenting dalam sejarah Kesultanan Utsmaniyah.
Saat berdiri di sana, aku mencoba membayangkan perjalanan panjang yang telah dilalui tempat ini selama ratusan tahun. Begitu banyak orang yang datang dan pergi, begitu banyak doa yang dipanjatkan, dan begitu banyak kisah yang tersimpan di setiap sudutnya.
Untuk beberapa saat, aku hanya memilih diam dan menikmati suasananya.
Kadang ada tempat yang tidak perlu banyak kata untuk membuat kita terkesan. Dan bagiku, Eyüp Sultan Mosque adalah salah satunya.
Dari Eyüp Sultan Mosque, perjalanan kami berlanjut menuju salah satu ikon paling terkenal di Istanbul yaitu Masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal sebagai Blue Mosque.
Enam menara masjid itu sudah terlihat menjulang tinggi di kejauhan. Langit Istanbul pagi itu tampak biru cerah tanpa awan tebal, membuat siluet masjid terlihat semakin menawan.
Semakin dekat, semakin terasa kemegahannya.
Kubah-kubah bertingkat yang tersusun harmonis seakan mendominasi cakrawala kota. Di sekelilingnya, wisatawan dari berbagai negara berjalan berdampingan dengan warga lokal yang datang untuk beribadah. Suasananya hidup, tetapi tetap terasa tertib dan nyaman.
Sesampainya di halaman masjid, aku sengaja memperlambat langkah.
Aku ingin menikmati momen itu lebih lama.
Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, burung-burung beterbangan di atas halaman, dan bangunan megah yang selama ini hanya kulihat di foto kini berdiri tepat di hadapanku.
Setelah melepas sepatu dan memasuki ruang utama masjid, aku benar-benar terpukau.
Mataku langsung tertuju ke langit-langit yang menjulang tinggi. Cahaya matahari masuk melalui ratusan jendela dan memantul pada ribuan keramik Iznik yang menghiasi dinding bagian dalam. Warna biru, hijau, putih, dan ungu berpadu begitu indah hingga menciptakan suasana yang hangat sekaligus menenangkan.
Tidak heran jika masjid ini dijuluki Blue Mosque.
Di setiap sudut, terdapat detail-detail kecil yang membuatku terus menoleh ke sana kemari. Kaligrafi yang indah, pilar-pilar marmer yang kokoh, lampu gantung yang menggantung rendah, serta permainan cahaya yang membuat interior masjid tampak hidup.
Sambil mengagumi keindahannya, tour guide kami mulai menceritakan sejarah masjid ini.
Blue Mosque dibangun atas perintah Sultan Ahmed I pada awal abad ke-17. Saat itu, beliau ingin menghadirkan sebuah masjid yang menjadi simbol kebesaran Kesultanan Utsmaniyah sekaligus menunjukkan kejayaan arsitektur Islam. Lokasinya yang berada tepat berhadapan dengan Hagia Sophia membuat kedua bangunan ini seperti saling berdialog melintasi zaman. Namun yang paling membuatku terkesan adalah kenyataan bahwa hingga hari ini Blue Mosque masih berfungsi sebagai masjid aktif.
Di tengah banyaknya wisatawan yang datang setiap tahun, tempat ini tetap menjadi ruang ibadah bagi masyarakat setempat. Ketika waktu shalat tiba, sebagian area ditutup dan suasananya berubah menjadi jauh lebih khusyuk.
Perpaduan antara sejarah, seni, dan kehidupan spiritual yang masih berlangsung hingga sekarang membuat pengalaman berada di sini terasa begitu istimewa.
Saat meninggalkan masjid, aku sempat menoleh sekali lagi ke belakang.
Kubah-kubahnya masih berdiri megah di bawah langit Istanbul.
Dan saat itu aku merasa seolah baru saja melakukan perjalanan singkat melintasi beberapa abad sejarah.
Tepat di seberang Blue Mosque berdiri bangunan yang namanya sudah sangat akrab bahkan sebelum aku datang ke Türkiye, Hagia Sophia.
Kebetulan saat itu waktu Zuhur telah tiba, kami memutuskan untuk melaksanakan shalat di sana.
Dari luar, Hagia Sophia terlihat begitu megah, tenang, dan penuh wibawa. Rasanya seperti sedang menatap seseorang yang telah melihat begitu banyak hal dalam hidupnya, seorang saksi tua yang diam-diam menyimpan cerita dari berabad-abad perjalanan manusia.
Sebelum datang ke sini, aku sudah berkali-kali melihat fotonya. Aku juga pernah membaca kisah sejarahnya di internet dan buku. Namun, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan perasaanku saat berdiri langsung di hadapannya. Ada rasa kagum yang sulit dijelaskan. Ada rasa penasaran yang membuat mata terus menelusuri setiap sudut bangunannya, dan entah kenapa, ada sedikit rasa merinding ketika membayangkan begitu banyak peristiwa besar yang pernah berlangsung di tempat ini.
Begitu melangkah masuk, refleks aku langsung mendongakkan kepala. Kubah raksasa di atas sana terasa begitu tinggi hingga sulit dipercaya dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu. Cahaya matahari yang masuk menciptakan suasana hangat yang membuat ruangan terasa hidup.
Di satu sisi terlihat kaligrafi Arab berukuran besar berlafaz Allah dan Rasulullah. Di sisi lain tampak mosaik-mosaik kuno peninggalan Bizantium yang masih bertahan hingga sekarang.
Pemandangan itu terasa unik. Seolah dua peradaban besar sedang bercerita bersama dalam satu ruang yang sama.
Setelah menunaikan salat Zuhur, aku memilih duduk sejenak. Aku membiarkan diri larut dalam suasana, memandangi orang-orang yang datang dan pergi, lalu mengamati setiap sudut ruangan yang penuh jejak masa lalu. Di momen itulah aku mulai mengerti mengapa jutaan orang dari berbagai penjuru dunia rela datang jauh-jauh ke sini.
Hagia Sophia bukan hanya bangunan bersejarah. Tempat ini terasa seperti sebuah buku raksasa yang setiap dinding, pilar, dan kubahnya menyimpan kisah tentang hampir 1.500 tahun perjalanan manusia. Aku membayangkan para kaisar Bizantium yang pernah melangkah di lorong yang sama, para sultan Utsmaniyah yang menjadikannya masjid, hingga para pelancong dari berbagai bangsa yang datang dengan rasa kagum yang mungkin tidak jauh berbeda dengan yang kurasakan hari itu.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar