Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, hallo semuanya🌻
Apa kabar, teman-teman?
Semoga kalian selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam setiap langkah yang dijalani, yaa. Aamiin. 🤲✨
Di tulisan sebelumnya, aku sempat berjanji akan melanjutkan cerita perjalanan umrohku. Nah, akhirnya aku kembali lagi untuk menepati janji itu. Maaf banget ya kalau kelanjutannya cukup lama. Beberapa waktu terakhir aktivitasku lagi padat-padatnya, jadi baru sekarang bisa duduk tenang dan melanjutkan cerita ini.
Jujur, setiap kali mengingat perjalanan ini, rasanya masih hangat dan membekas di hati. Ada banyak momen seru, haru, dan tentunya penuh rasa syukur yang ingin aku bagikan ke kalian.
Kalau kalian sudah menunggu kelanjutannya, yuk kita lanjutkan perjalanannya bersama. Siapkan camilan atau secangkir minuman hangat, lalu mari kembali ke cerita saat langkahku mulai menapaki negeri yang selama ini hanya bisa aku impikan.
Selamat membaca guys
Manasik Umroh
21 September 2025
Pagi itu aku bangun dan melakukan rutinitas seperti biasa yaitu merapikan tempat tidur, sholat Subuh, sarapan, mandi dan berpakaian. Namun Minggu kali ini terasa jauh lebih istimewa. Sejak membuka mata, ada rasa senang, antusias, dan bersemangat yang sulit dijelaskan, karena hari itu adalah hari pelaksanaan manasik umroh.
Bukan hanya aku yang bersemangat, bapak dan mamaku juga tampak ikut bahagia. Mereka dengan penuh perhatian mengantarku dan bahkan berencana menunggu hingga kegiatan selesai. Rasanya hangat sekali melihat mereka mendukung perjalanan yang sudah lama aku impikan ini.
Sekitar pukul 07.00 pagi, kami berangkat menuju gedung milik travel tempat manasik dilaksanakan. Sesampainya di sana, kami disambut ramah oleh Mbak Diana dan Mbak Nabila. Senyum mereka membuat suasana terasa nyaman sejak awal. Aku diarahkan ke meja administrasi untuk mengisi daftar hadir. Setelah selesai, aku menerima kaos, snack, dan satu kotak makan siang yang sudah disiapkan panitia.
Tak lama kemudian, kami diarahkan menuju aula di lantai tiga. Begitu memasuki ruangan, aku mengucapkan salam dan mulai berkenalan dengan calon jamaah lainnya. Suasananya hangat dan akrab, meskipun sebagian besar dari kami baru pertama kali bertemu.
Saat sedang menunggu acara dimulai, seorang ibu yang wajahnya mengingatkanku pada almarhumah mbah uti bertanya dengan ramah “Neng, umrohnya yang biasa atau yang plus Turki?”
Aku tersenyum dan menjawab “Saya umroh plus Türkiye, Uti.”
Mata beliau langsung berbinar “Alhamdulillah, akhirnya ada temannya juga.”
Ternyata dari beberapa jamaah yang sudah beliau tanyai sebelumnya, baru aku yang mengambil paket yang sama. Melihat beliau begitu senang membuatku ikut tersenyum. Kadang rasa tenang memang muncul hanya karena mengetahui bahwa kita punya teman seperjalanan.
Percakapan kami terhenti ketika pembimbing umroh memasuki aula. Acara pun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan kajian tentang haji dan umroh, lalu simulasi pelaksanaan umroh.
Menjelang akhir acara, para jamaah dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai paket keberangkatan masing-masing. Manasik hari itu diikuti oleh jamaah dari beberapa kloter, mulai dari Kafilah Umroh 1 Oktober 2025 Plus Türkiye, Kafilah Umroh 4 Oktober 2025, hingga Kafilah Umroh 20 Oktober 2025.
Karena aku mengambil paket keberangkatan 1 Oktober 2025 Plus Türkiye, aku langsung bergabung dengan kelompokku. Dalam sesi ini, kami mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai jadwal perjalanan, titik kumpul, barang bawaan yang dianjurkan, hingga berbagai aturan selama perjalanan.
Yang paling menyenangkan justru sesi perkenalan.
Kelompok kami hanya berisi lima orang, tetapi masing-masing memiliki cerita hidup yang menarik. Ada Uti Atun yang ternyata sudah melaksanakan haji dan beberapa kali melaksanakan umroh. Ada Bu Ren, seorang mantan calon anggota DPR RI. Lalu ada Firda dan Paul, pasangan pengusaha muda yang baru beberapa bulan menikah. Dan tentu saja aku, seorang staf kantor swasta yang sedang bersiap melakukan perjalanan umroh pertamaku seorang diri.
Meski baru saling mengenal, suasana langsung terasa akrab. Kami berbagi cerita, saling bertanya, dan sesekali tertawa bersama.
Setelah sesi selesai, kami menunaikan salat Zuhur berjamaah. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Kegiatan manasik pun ditutup dengan makan siang bersama sebelum akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Saat perjalanan pulang, aku mulai menyadari bahwa keberangkatan ini benar-benar semakin dekat.
Hari-Hari Menjelang Keberangkatan
Seminggu sebelum keberangkatan, aku memberanikan diri masuk ke ruangan Head of Department di kantorku untuk mengajukan cuti selama dua minggu.
Beliau menyambutku dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya cukup wajar.
“Sudah yakin mau berangkat sendiri?”
“Travel-nya terpercaya kan?”
“Keluarga mengizinkan?”
Aku menjelaskan bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Aku juga menceritakan bahwa aku sudah mengikuti manasik dan bahkan sudah berkenalan dengan calon jamaah lainnya.
Setelah mendengarkan penjelasanku, beliau akhirnya mengizinkanku untuk cuti sambil tersenyum.
“Selamat beribadah, semoga dilancarkan oleh Allah”
Aku langsung mengurus formulir cuti dan menyerahkannya ke sekretaris kantor. Rasanya lega sekali.
Hari-hari menjelang keberangkatan umroh aku lalui seperti biasa. Setiap pagi aku bangun, salat Subuh, sarapan, bersiap-siap, lalu berangkat kerja. Aku masih berdesakan di KRL, transit di Stasiun Manggarai, turun di Stasiun Sudirman, kemudian melanjutkan perjalanan dengan MRT menuju kantor.
Di sela-sela rutinitas itu, sesekali aku tersenyum sendiri.
Dalam hitungan hari, perjalanan yang selama ini hanya ada dalam doa dan impianku akan benar-benar akan segera dimulai.
Hari Keberangkatan
1 Oktober 2025
Hari yang kutunggu akhirnya tiba.
Pagi itu aku bangun dengan perasaan campur aduk antara bahagia, gugup, dan tidak percaya. Setelah sarapan, aku dan keluarga mulai bersiap menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri berpamitan kepada beberapa tetangga. Mereka mendoakan agar perjalanan kami lancar dan ibadah umrohku diterima Allah SWT.
Sekitar pukul 10.00 pagi kami berangkat dari rumah. Perjalanan menuju bandara memakan waktu kurang lebih dua setengah jam. Saat mobil melaju di jalan tol, aku beberapa kali memandangi langit dari jendela sambil membayangkan perjalanan panjang yang akan kulalui.
Pukul 12.30 kami tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, kami pun langsung menunaikan sholat Zuhur bergantian dan makan siang, setelah makan siang aku mulai berkomunikasi dengan para jamaah melalui grup WhatsApp. Tak lama kemudian, aku menuju titik kumpul di area Tiang B.
| Aku bersiap menuju tiang B terminal 3 Bandara Soekarno Hatta |
Di sana suasananya sangat ramai. Para jamaah datang bersama keluarga masing-masing. Ada yang bercengkerama, ada yang berfoto, ada pula yang tampak menahan haru karena sebentar lagi harus berpisah sementara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar