Home About Me Instagram

Sabtu, 06 Juni 2026

Paspor dan Visa Pertamaku, memenuhi undanganNya - Tahap Manasik dan Tahap Keberangkatan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, hallo semuanya🌻

Apa kabar, teman-teman?

Semoga kalian selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam setiap langkah yang dijalani, yaa. Aamiin. 🤲✨

Di tulisan sebelumnya, aku sempat berjanji akan melanjutkan cerita perjalanan umrohku. Nah, akhirnya aku kembali lagi untuk menepati janji itu. Maaf banget ya kalau kelanjutannya cukup lama. Beberapa waktu terakhir aktivitasku lagi padat-padatnya, jadi baru sekarang bisa duduk tenang dan melanjutkan cerita ini.

Jujur, setiap kali mengingat perjalanan ini, rasanya masih hangat dan membekas di hati. Ada banyak momen seru, haru, dan tentunya penuh rasa syukur yang ingin aku bagikan ke kalian.

Kalau kalian sudah menunggu kelanjutannya, yuk kita lanjutkan perjalanannya bersama. Siapkan camilan atau secangkir minuman hangat, lalu mari kembali ke cerita saat langkahku mulai menapaki negeri yang selama ini hanya bisa aku impikan.

Selamat membaca guys

Manasik Umroh 

21 September 2025

Pagi itu aku bangun dan melakukan rutinitas seperti biasa yaitu merapikan tempat tidur, sholat Subuh, sarapan, mandi dan berpakaian. Namun Minggu kali ini terasa jauh lebih istimewa. Sejak membuka mata, ada rasa senang, antusias, dan bersemangat yang sulit dijelaskan, karena hari itu adalah hari pelaksanaan manasik umroh.

Bukan hanya aku yang bersemangat, bapak dan mamaku juga tampak ikut bahagia. Mereka dengan penuh perhatian mengantarku dan bahkan berencana menunggu hingga kegiatan selesai. Rasanya hangat sekali melihat mereka mendukung perjalanan yang sudah lama aku impikan ini.

Sekitar pukul 07.00 pagi, kami berangkat menuju gedung milik travel tempat manasik dilaksanakan. Sesampainya di sana, kami disambut ramah oleh Mbak Diana dan Mbak Nabila. Senyum mereka membuat suasana terasa nyaman sejak awal. Aku diarahkan ke meja administrasi untuk mengisi daftar hadir. Setelah selesai, aku menerima kaos, snack, dan satu kotak makan siang yang sudah disiapkan panitia.

Tak lama kemudian, kami diarahkan menuju aula di lantai tiga. Begitu memasuki ruangan, aku mengucapkan salam dan mulai berkenalan dengan calon jamaah lainnya. Suasananya hangat dan akrab, meskipun sebagian besar dari kami baru pertama kali bertemu.

Saat sedang menunggu acara dimulai, seorang ibu yang wajahnya mengingatkanku pada almarhumah mbah uti bertanya dengan ramah “Neng, umrohnya yang biasa atau yang plus Turki?”

Aku tersenyum dan menjawab “Saya umroh plus Türkiye, Uti.”

Mata beliau langsung berbinar “Alhamdulillah, akhirnya ada temannya juga.”

Ternyata dari beberapa jamaah yang sudah beliau tanyai sebelumnya, baru aku yang mengambil paket yang sama. Melihat beliau begitu senang membuatku ikut tersenyum. Kadang rasa tenang memang muncul hanya karena mengetahui bahwa kita punya teman seperjalanan.

Percakapan kami terhenti ketika pembimbing umroh memasuki aula. Acara pun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan kajian tentang haji dan umroh, lalu simulasi pelaksanaan umroh.

Menjelang akhir acara, para jamaah dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai paket keberangkatan masing-masing. Manasik hari itu diikuti oleh jamaah dari beberapa kloter, mulai dari Kafilah Umroh 1 Oktober 2025 Plus Türkiye, Kafilah Umroh 4 Oktober 2025, hingga Kafilah Umroh 20 Oktober 2025.

Karena aku mengambil paket keberangkatan 1 Oktober 2025 Plus Türkiye, aku langsung bergabung dengan kelompokku. Dalam sesi ini, kami mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai jadwal perjalanan, titik kumpul, barang bawaan yang dianjurkan, hingga berbagai aturan selama perjalanan.

Yang paling menyenangkan justru sesi perkenalan.

Kelompok kami hanya berisi lima orang, tetapi masing-masing memiliki cerita hidup yang menarik. Ada Uti Atun yang ternyata sudah melaksanakan haji dan beberapa kali melaksanakan umroh. Ada Bu Ren, seorang mantan calon anggota DPR RI. Lalu ada Firda dan Paul, pasangan pengusaha muda yang baru beberapa bulan menikah. Dan tentu saja aku, seorang staf kantor swasta yang sedang bersiap melakukan perjalanan umroh pertamaku seorang diri.

Meski baru saling mengenal, suasana langsung terasa akrab. Kami berbagi cerita, saling bertanya, dan sesekali tertawa bersama.

Setelah sesi selesai, kami menunaikan salat Zuhur berjamaah. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Kegiatan manasik pun ditutup dengan makan siang bersama sebelum akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.

Saat perjalanan pulang, aku mulai menyadari bahwa keberangkatan ini benar-benar semakin dekat.

Hari-Hari Menjelang Keberangkatan

Seminggu sebelum keberangkatan, aku memberanikan diri masuk ke ruangan Head of Department di kantorku untuk mengajukan cuti selama dua minggu.

Beliau menyambutku dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya cukup wajar.

“Sudah yakin mau berangkat sendiri?”

“Travel-nya terpercaya kan?”

“Keluarga mengizinkan?”

Aku menjelaskan bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Aku juga menceritakan bahwa aku sudah mengikuti manasik dan bahkan sudah berkenalan dengan calon jamaah lainnya.

Setelah mendengarkan penjelasanku, beliau akhirnya mengizinkanku untuk cuti sambil tersenyum.

“Selamat beribadah, semoga dilancarkan oleh Allah”

Aku langsung mengurus formulir cuti dan menyerahkannya ke sekretaris kantor. Rasanya lega sekali.

Hari-hari menjelang keberangkatan umroh aku lalui seperti biasa. Setiap pagi aku bangun, salat Subuh, sarapan, bersiap-siap, lalu berangkat kerja. Aku masih berdesakan di KRL, transit di Stasiun Manggarai, turun di Stasiun Sudirman, kemudian melanjutkan perjalanan dengan MRT menuju kantor.

Di sela-sela rutinitas itu, sesekali aku tersenyum sendiri.

Dalam hitungan hari, perjalanan yang selama ini hanya ada dalam doa dan impianku akan benar-benar akan segera dimulai. 

Hari Keberangkatan

1 Oktober 2025

Hari yang kutunggu akhirnya tiba.

Pagi itu aku bangun dengan perasaan campur aduk antara bahagia, gugup, dan tidak percaya. Setelah sarapan, aku dan keluarga mulai bersiap menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri berpamitan kepada beberapa tetangga. Mereka mendoakan agar perjalanan kami lancar dan ibadah umrohku diterima Allah SWT.

Sekitar pukul 10.00 pagi kami berangkat dari rumah. Perjalanan menuju bandara memakan waktu kurang lebih dua setengah jam. Saat mobil melaju di jalan tol, aku beberapa kali memandangi langit dari jendela sambil membayangkan perjalanan panjang yang akan kulalui.

Pukul 12.30 kami tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, kami pun langsung menunaikan sholat Zuhur bergantian dan makan siang, setelah makan siang aku mulai berkomunikasi dengan para jamaah melalui grup WhatsApp. Tak lama kemudian, aku menuju titik kumpul di area Tiang B.

Aku bersiap menuju tiang B terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

Di sana suasananya sangat ramai. Para jamaah datang bersama keluarga masing-masing. Ada yang bercengkerama, ada yang berfoto, ada pula yang tampak menahan haru karena sebentar lagi harus berpisah sementara.

Ketika ustadz dan pembimbing datang, kami diarahkan menuju area depan counter Thai Airways untuk menyerahkan koper kepada tim handling travel. Setelah itu kami menerima passport dan boarding pass. Perlahan suasana keberangkatan pun terasa semakin nyata.

Aku bersama para calon jamaah dan pembimbing saat makan bersama di Bandara

Sore menjelang malam, kami makan bersama sambil berbincang-bincang. Di saat yang sama, panitia membagikan ID card, syal rombongan, dan perangkat tour guide system yang akan digunakan selama umroh. Tak terasa waktu perpisahan pun tiba. Satu per satu jamaah berpamitan dengan keluarganya. Ada pelukan, doa, dan mata yang berkaca-kaca. Aku juga memeluk keluargaku sebelum berjalan menuju area pemeriksaan keamanan.

Di ruang tunggu keberangkatan, kami sempat khawatir karena waktu boarding sudah dekat sementara kami belum melaksanakan shalat Magrib. Kami mencoba memastikan waktu keberangkatan dengan melihat flight information display system, ternyata penerbangan menuju Bangkok mengalami keterlambatan.

Alhamdulillah, awalnya kami cemas karena tidak sempat melaksanakan sholat, tiba-tiba ada informasi bahwa pesawat mengalami keterlambatan dan menjadi kesempatan untuk melaksanakan salat jamak Magrib dan Isya dengan tenang.

Tak lama setelah salat selesai, terdengar pengumuman boarding, kami pun bersiap-siap baris dan menyiapkan passport serta boarding pass untuk ditunjukan kepada petugas.  

Saat itulah aku benar-benar sadar bahwa perjalanan ini segera dimulai.

Begitu masuk ke dalam pesawat, aku langsung merasa nyaman. Kursinya empuk, suasananya tenang, dan setiap penumpang mendapatkan layar hiburan sendiri untuk menemani perjalanan. Kami juga diberikan earphone yang boleh dibawa pulang. Tidak ketinggalan, makanan dan camilan pun beberapa kali dibagikan oleh awak kabin. Sambil menikmati hidangan yang disajikan, sesekali aku menonton film dan melihat-lihat aktivitas para penumpang di sekitarku.

Uti Atun, aku, dan Bu Ren di penerbangan menuju Bangkok



Pasutri pengusaha muda di penerbangan menuju Bangkok

Penerbangan dari Jakarta menuju Bangkok memakan waktu sekitar tiga jam lebih. Kami boarding pukul 19.40 WIB dan tiba di Bandara Bangkok sekitar pukul 23.02 waktu setempat. Namun, setibanya di sana kami tidak sempat berlama-lama menikmati suasana bandara, karena penerbangan lanjutan menuju Türkiye sudah hampir diberangkatkan.

Begitu keluar dari pesawat, kami langsung disambut oleh petugas maskapai yang sudah menunggu. Dengan langkah cepat, bahkan sesekali setengah berlari, kami mengikuti arahan mereka menyusuri bandara yang panjang. Rasanya seperti sedang mengikuti adegan di film, berlari mengejar pesawat agar tidak tertinggal.

Saat tiba di area pemeriksaan, passport kami diperiksa satu per satu. Kami juga sempat menjelaskan kepada petugas bahwa penerbangan dari Jakarta menuju Bangkok mengalami keterlambatan sehingga waktu transit kami menjadi sangat singkat. Setelah proses pemeriksaan selesai, kami kembali diminta bergegas menuju gate keberangkatan.

Transit di Bangkok menjadi salah satu pengalaman yang paling seru sekaligus menegangkan selama perjalanan ini. Bayangkan saja, kami hanya memiliki waktu sekitar tiga puluh menit sebelum pesawat berikutnya benar-benar lepas landas. Bahkan, rombongan kami menjadi penumpang terakhir yang naik ke pesawat. Saat akhirnya berhasil duduk di kursi masing-masing, aku menghela napas panjang sambil tersenyum lega.

Alhamdulillah, tidak tertinggal.

Perjalanan menuju Türkiye jauh lebih panjang. Untuk mengisi waktu perjalanan, aku menikmati makanan yang disajikan, menonton film, tertidur sebentar, dan sesekali membuka peta penerbangan di layar kursi. Aku senang sekali melihat garis perjalanan pesawat yang perlahan bergerak melintasi berbagai negara.

Flight map selama perjalanan

Makanan selama perjalanan

Masya Allah, ternyata perjalanan menuju Istanbul benar-benar jauh. Dari Bangkok, pesawat kami melintasi Myanmar, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Azerbaijan, dan Georgia sebelum akhirnya tiba di Türkiye. Setiap kali melihat nama negara yang muncul di layar, aku merasa takjub. Negara-negara yang selama ini hanya kulihat di peta atau kubaca di buku, kini sedang kulintasi dari ketinggian puluhan ribu kaki.

Selama perjalanan, aku berkali-kali memandangi layar flight map sambil tersenyum sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa aku yang selama ini jarang berpegian naik pesawat benar-benar sedang berada di perjalanan menuju negeri yang selama ini hanya ada dalam daftar impianku. Semakin jauh pesawat terbang, semakin besar pula rasa syukur yang memenuhi hati. Aku terus berdoa dan mengucap Alhamdulillah, karena Allah telah mengizinkanku dalam perjalanan ini dan memberikan kesempatan untuk menyaksikan begitu banyak keindahan ciptaan-Nya.

Nah, bagaimana? Sudah mulai penasaran dengan kisahku selama di Türkiye dan perjalanan ibadah di Tanah Suci? Tenang, ceritanya sudah aku tulis kok. Hanya saja masih berupa draft yang perlu sedikit dirapikan sebelum aku bagikan ke kalian.

Insya Allah, di postingan berikutnya aku akan bercerita tentang hari-hari pertamaku di Türkiye, tempat-tempat yang kami kunjungi, pengalaman yang paling berkesan, hingga perjalanan menuju Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah umroh.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya, ya. Terima kasih sudah menemani perjalanan ini dari awal sampai akhir. Semoga setiap kisah yang aku bagikan bisa membawa manfaat, inspirasi, dan menambah semangat kita semua untuk suatu hari bisa berkunjung ke Baitullah.

Wassalamu'alaikum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright© 2012-2024. All Right reserved by Riztanty Ayudia