Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh dan hello semuanya 🤍
Apa kabar kalian hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan penuh kebahagiaan, ya.
Masih ingat perjalanan kita minggu lalu? Hari terakhir di Türkiye, kami sempat menyeberang ke Kota Bursa menggunakan kapal ferry, menikmati makan siang bersama, membuat beberapa konten video, membeli oleh-oleh, hingga akhirnya bergegas menuju bandara. Di sana sempat terjadi drama kecil ketika boarding pass Paul hilang. Alhamdulillah, karena kami datang lebih awal, semuanya bisa teratasi dengan tenang. Kami masih sempat shalat, makan, dan akhirnya duduk di kursi pesawat masing-masing.
Nah, di tulisan kali ini, aku akan melanjutkan cerita perjalanan kami menuju Jeddah. Yuk, ikut terbang bersamaku✈️
Di dalam kabin pesawat, Firda dan Paul duduk di deretan sebelah kiri bersama Uti Atun. Sementara aku mendapat kursi di sisi kanan bersama Bu Ren. Kursi di samping jendela masih kosong. Sepertinya pemiliknya belum datang.
Begitu duduk dan mengencangkan sabuk pengaman, aku mengembuskan napas panjang.
Alhamdulillah...
Akhirnya, perjalanan menuju Jeddah benar-benar dimulai.
Drama boarding pass Paul yang sempat membuat kami panik beberapa saat sebelumnya menjadi pelajaran yang tidak akan kami lupakan. Untungnya kami tiba di bandara sekitar tiga jam sebelum keberangkatan. Waktu yang cukup panjang itu membuat kami bisa mencari boarding pass yang hilang tanpa tergesa-gesa, menunaikan shalat dengan tenang, bahkan masih sempat makan sebelum boarding.
Aku memandangi langit dari balik jendela pesawat. Hati ini penuh rasa syukur.
Selama beberapa hari di Türkiye, Allah begitu banyak menjaga setiap langkah kami. Begitu banyak kemudahan yang diberikan, begitu banyak orang baik yang dipertemukan, dan begitu banyak momen indah yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Dalam hati aku terus berdoa.
"Ya Allah, terima kasih telah membersamai setiap langkah perjalanan kami di Türkiye. Semoga Engkau kembali memberikan kemudahan, keselamatan, dan kelancaran dalam perjalanan kami menuju Jeddah. Aamiin."
Beberapa menit kemudian, seorang pria bule datang menghampiri deretan kursi kami.
Posturnya tinggi, wajahnya tampan dengan garis wajah yang tegas namun tetap terlihat ramah. Rambutnya tertata rapi, penampilannya bersih dan sangat terawat. Saat ia mendekat, tercium aroma parfum yang lembut dan elegan. Bukan parfum yang menyengat, tetapi cukup meninggalkan kesan.
Dengan sopan ia berkata,
"Excuse me, that's my seat. It's seat 23F" sambil menunjukkan kursi kosong di sebelahku.
Ternyata kursi di sebelah jendela, tepat di sampingku, memang miliknya.
Dalam hati aku hanya bisa tersenyum.
Masya Allah tabarakallah... perjalanan menuju Jeddah ternyata ditemani Bu Ren dan seorang penumpang yang begitu sopan.
Tak lama kemudian pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu.
Beberapa saat setelah lepas landas, pria itu langsung tertidur pulas.
Perjalanan dari Istanbul Sabiha Gökçen Airport menuju Jeddah memakan waktu sekitar tiga jam empat puluh lima menit. Selama penerbangan, aku menghabiskan waktu bermain game offline di ponsel. Sesekali Bu Ren mengajakku bercanda.
"Tan... coba kenalan tuh sama yang di sebelah. Siapa tahu jodoh."
Aku langsung tertawa.
"Wkwkwk... enggak enak, Bu. Orangnya lagi tidur. Kalaupun nanti bangun juga sungkan. Lagian siapa tahu sudah punya istri."
Bu Ren malah tertawa.
"Kamu tuh enggak mau ambil kesempatan emas."
Kami pun kembali tertawa kecil bersama, kemudian aku lanjut bermain game dan Bu Ren tertidur.
Beberapa saat kemudian, pria itu terbangun.
Ia melihat ke luar jendela cukup lama, lalu berdiri sedikit dari kursinya. Awalnya kukira ia hendak ke toilet.
Ternyata ia menoleh kepadaku sambil tersenyum.
"Would you like to switch seats with me? You can enjoy the beautiful view from here."
Aku benar-benar tidak menyangka.
Tanpa berpikir lama aku menjawab,
"Yes, sir. Thank you very much for your kindness."
Kami pun bertukar tempat duduk.
Dalam hati aku senang bukan main, karena bisa menikmati window seat.
Sementara Bu Ren yang akhirnya bisa duduk di samping pria itu hanya melirikku sambil tersenyum jahil, seolah berkata, "Nah kan..."
Pria tersebut kemudian membaca majalah yang dibawanya, sementara aku benar-benar menikmati hadiah kecil yang baru saja kudapat.
Dari balik jendela pesawat, langit sore terlihat begitu indah.
Gradasi jingga, keemasan, dan biru perlahan berpadu sebelum akhirnya berubah menjadi langit malam yang gelap.
Aku sesekali mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan pemandangan itu. Rasanya sayang sekali jika momen seindah ini hanya tersimpan dalam ingatan.
Tak terasa hampir empat jam berlalu.
Terdengar pengumuman dari awak kabin dalam bahasa Arab yang menginformasikan bahwa kami akan segera mendarat di King Abdulaziz International Airport, Jeddah.
Pesawat mulai menurunkan ketinggian secara perlahan.
Aku kembali menempelkan wajah ke jendela.
Di bawah sana, lampu-lampu Kota Jeddah berkelap-kelip seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi.
Dadaku tiba-tiba terasa sesak oleh rasa haru.
Masya Allah...
Beberapa bulan sebelumnya, perjalanan ini hanya sebatas doa yang kupanjatkan.
Kini aku benar-benar berada di atas langit Jeddah.
Kota yang selama ini hanya kulihat lewat foto dan video, kini ada tepat di bawahku.
Berulang kali bibir ini mengucapkan tasbih dan hamdalah.
"Subhanallah... Alhamdulillah..."
Aku kembali mengambil ponsel dan merekam beberapa detik terakhir sebelum roda pesawat menyentuh landasan.
Aku ingin suatu hari nanti, ketika rindu itu datang, aku bisa kembali melihat video sederhana ini dan mengingat bagaimana rasanya menjadi tamu Allah untuk pertama kalinya.
Tak lama kemudian, pesawat pun mendarat dengan mulus.
Setelah benar-benar berhenti, kami mulai berdiri, mengambil barang bawaan, lalu bersiap turun dari pesawat.
Aku, Bu Ren, Uti Atun, serta pasangan pengusaha muda berjalan bersama mengikuti arus penumpang menuju loket imigrasi.
Kulihat bandara dipenuhi wajah-wajah dari berbagai negara, sebagian besar membawa tujuan yang sama, memenuhi undangan Allah. Sambil menunggu antrean imigrasi bergerak perlahan, Paul menghubungi Pak Ustadz Hikmat melalui WhatsApp untuk memberi kabar bahwa kami telah tiba.
Begitu paspor selesai diperiksa dan stempel kedatangan menghiasi halamannya, rasa lega perlahan memenuhi hati. Alhamdulillah, satu proses telah terlewati. Kami pun segera menuju area baggage claim untuk mengambil koper, lalu bergegas ke toilet dan musala bandara untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya. Rasanya menenangkan sekali bisa bersujud untuk pertama kalinya di Tanah Suci, setelah perjalanan panjang yang membawa kami dari Istanbul hingga akhirnya menginjakkan kaki di Arab Saudi.
Usai shalat, kami berjalan menuju area penjemputan untuk bertemu dengan mutawif yang telah menunggu. Di tengah langkah yang perlahan, pandanganku tiba-tiba terpaku pada sebuah akuarium raksasa yang berdiri megah di Terminal 1 King Abdulaziz International Airport.
Di balik dinding kaca yang menjulang tinggi, ikan-ikan berwarna-warni berenang dengan tenang. Gerakannya begitu lembut, seolah menjadi jeda di tengah hiruk-pikuk para jemaah yang baru tiba dari berbagai penjuru dunia. Entah mengapa, melihatnya membuat hati ikut tenang. Rasanya seperti sambutan pertama yang begitu hangat dari Kota Jeddah.
Aku hanya bisa tersenyum sendiri.
Beberapa jam yang lalu kami masih berjalan menyusuri jalanan Istanbul, menikmati udara sejuk di Türkiye. Kini, kami sudah berdiri di Arab Saudi, negara yang selama ini hanya kulihat di Instagram.
Perjalanan ini akhirnya benar-benar dimulai.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah sebuah akuarium di dalam bandara. Namun bagiku, ia menjadi bagian dari kenangan pertama di Jeddah. Sebuah pengingat bahwa perjalanan menuju rumah Allah bukan hanya tentang tiba di tujuan, tetapi juga tentang setiap langkah yang Allah hiasi dengan keindahan-keindahan kecil. Bahkan di sebuah bandara, Allah menghadirkan cara-Nya sendiri untuk menenangkan hati para tamu-Nya sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah.
Karena terlalu menikmati pemandangan itu, tanpa terasa kami sudah sampai di area penjemputan.
Di sana, seorang pria berwajah teduh dengan postur khas orang Indonesia menghampiri kami. Beliau mengenakan kopiah putih dan gamis sederhana. Dengan ramah beliau memastikan bahwa kami adalah rombongan travel yang baru tiba dari Türkiye.
"Assalamu'alaikum, saya Hikmat"
Begitulah beliau memperkenalkan diri sambil berjabat tangan dengan Paul.
Ternyata beliau adalah mutawif yang akan mendampingi perjalanan kami selama di Tanah Suci.
Setelah berkenalan satu per satu, kami diajak menuju lantai bawah tempat kendaraan telah menunggu. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Uti Atun berkata sambil tersenyum malu,
"Pak Ustadz... kami lapar. Sejak sebelum boarding di Türkiye belum makan nasi, tadi cuma sempat makan roti."
Pak Ustadz hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Sebentar ya, tunggu di kursi itu aja dulu"
Beliau kemudian meminta kami duduk di kursi-kursi yang tersedia di area penjemputan, sementara beliau keluar sebentar.
Beberapa menit kemudian, Pak Ustadz kembali sambil membawa beberapa kantong makanan.
"Tadi saya belikan dulu buat makan."
Seketika wajah kami langsung berbinar. Kami pun mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada beliau.
Setelah hampir seharian bepergian dan berjam-jam berada di udara tanpa sempat menikmati sepiring nasi hangat, rasa lapar perlahan berubah menjadi kerinduan pada makanan yang sederhana.
Wajar rasanya, saat kotak Albaik pertama kami di Arab Saudi akhirnya terbuka, rasanya seperti hadiah kecil setelah perjalanan yang begitu panjang.
Aroma ayam goreng yang masih hangat berpadu dengan nasi putih, saus bawang putih khas Albaik, dan kentang goreng yang renyah seketika mengusir rasa lelah. Suapan pertama terasa begitu nikmat. Bukan semata karena Albaik memang terkenal, tetapi karena setiap gigitan dipenuhi rasa syukur yang sulit dijelaskan.
Benar juga, ternyata setelah menunggu cukup lama, makanan sederhana bisa terasa begitu istimewa.
Di tanah yang menjadi tujuan perjalanan ini, Allah mengajarkan kami bahwa kenikmatan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang, seporsi nasi hangat setelah perjalanan panjang pun sudah cukup membuat hati dipenuhi syukur.
Selesai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pak Ustadz mengajak kami menuju mobil yang akan membawa kami ke Terminal Haji dan Umrah untuk bergabung dengan rombongan Kafilah Umrah 4 Oktober 2025.
Travel kami memang menggabungkan dua rombongan. Kami yang sebelumnya mengikuti perjalanan Turkiye tiba di Jeddah menggunakan penerbangan Flynas dan mendarat di Terminal 1. Sementara itu, rombongan Kafilah Umrah 4 Oktober 2025 berangkat langsung dari Indonesia menggunakan AirAsia dengan transit di Kuala Lumpur, sehingga mereka mendarat di Terminal Haji dan Umrah.
Perjalanan menuju terminal tersebut memakan waktu sekitar lima belas hingga dua puluh menit. Mobil yang kami tumpangi mengingatkanku pada kendaraan yang beberapa hari terakhir menemani kami berkeliling Istanbul. Sepanjang perjalanan, Pak Ustadz banyak bertanya tentang pengalaman kami selama di Türkiye. Obrolan mengalir begitu saja, dari tempat-tempat yang kami kunjungi hingga makanan yang paling berkesan selama di sana.
Karena terlalu asyik mengobrol, tanpa terasa kami pun sudah tiba di Terminal Haji dan Umrah untuk bertemu keluarga baru yang akan menemani perjalanan menuju Kota Madinah.
Setibanya di Terminal Haji dan Umrah, kami akhirnya bertemu dengan rombongan Kafilah Umrah 4 Oktober 2025. Rasanya seperti bertemu teman lama, padahal sebenarnya kami baru sekali berkenalan saat manasik di Indonesia. Lucunya, kami sama-sama saling tersenyum sambil berusaha mengingat nama masing-masing. Maklum, waktu itu hanya sempat berkenalan sebentar. Meski begitu, suasananya langsung terasa akrab. Mungkin karena kami memiliki tujuan yang sama yaitu menjadi tamu Allah.
Sementara para petugas membantu menyusun koper ke dalam bagasi bus, kami mengumpulkan koper di dekat kendaraan agar prosesnya lebih mudah. Setelah semua bagasi selesai dimuat, satu per satu jamaah dipersilakan naik ke dalam bus yang akan mengantarkan kami menuju Madinah.
Perjalanan dari Jeddah menuju Madinah memerlukan waktu sekitar lima hingga enam jam. Begitu bus mulai melaju meninggalkan bandara, Pak Ustadz Hikmat mengawali perjalanan dengan mengucapkan rasa syukur karena seluruh jamaah telah tiba di Arab Saudi dalam keadaan sehat dan selamat.
Beliau kemudian mengajak kami membaca doa memohon keselamatan selama perjalanan menuju Madinah. Dzikir dan shalawat pun mengalun pelan memenuhi suasana bus, disusul dengan tausiyah singkat yang mengingatkan kami tentang keutamaan Kota Madinah dan adab sebagai tamu Allah. Perjalanan malam itu terasa berbeda. Bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi seperti sedang melangkah menuju tempat yang selama ini hanya kami sebut dalam doa.
Di sela-sela tausiyah, Mbak Diana selaku Tour Leader berkeliling mengumpulkan paspor satu per satu. Semua paspor disimpan oleh pihak travel agar lebih aman selama kami berada di Tanah Suci. Cara ini membuat kami merasa lebih tenang karena tidak perlu khawatir paspor terselip atau hilang.
Sekitar pertengahan perjalanan, bus berhenti sejenak di sebuah rest area. Sebagian jamaah memanfaatkan waktu untuk ke toilet, membeli camilan, atau sekadar meregangkan badan setelah duduk cukup lama. Udara malam terasa sejuk, sementara langit gurun begitu tenang.
Sebelum bus kembali melanjutkan perjalanan, nama setiap jamaah dipanggil satu per satu. Tidak ada yang terburu-buru. Semua dipastikan sudah kembali ke dalam bus agar tidak ada seorang pun yang tertinggal. Setelah jumlah jamaah lengkap, perjalanan menuju Madinah kembali dilanjutkan.
Semakin malam, obrolan di dalam bus perlahan mulai berkurang. Rasa lelah yang sejak tadi ditahan akhirnya mulai terasa di seluruh tubuh. Tak lama kemudian, lampu utama bus dipadamkan. Yang tersisa hanyalah cahaya-cahaya kecil yang temaram, cukup untuk menemani perjalanan tanpa mengganggu jamaah yang ingin beristirahat.
Suasana berubah begitu hening.
Di balik jendela, jalanan panjang menuju Madinah terbentang dalam gelap. Sesekali hanya terlihat cahaya lampu kendaraan lain yang melintas. Sementara itu, satu per satu jamaah mulai memejamkan mata. Ada yang menyandarkan kepala ke jendela, ada pula yang masih menggenggam tasbih di tangannya.
Saat itu aku menyadari bahwa Allah menghadirkan begitu banyak nikmat dalam bentuk yang sederhana. Lampu redup, kursi bus yang nyaman, udara dingin dari pendingin ruangan, dan rasa kantuk yang perlahan datang, semuanya terasa seperti hadiah kecil setelah perjalanan panjang sejak meninggalkan Türkiye.
Malam itu, tidur bukan sekadar melepas lelah. Rasanya seperti Allah sedang mempersiapkan tubuh dan hati kami sebelum akhirnya bertemu dengan Kota Madinah.
Entah sudah berapa lama kami terlelap.
Tiba-tiba lampu utama bus kembali menyala. Suara Pak Ustadz Hikmat terdengar pelan membangunkan kami.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai di hotel di Madinah."
Aku segera membuka mata dan meraih ponsel yang masih berada di dalam tas kecil. Saat layar menyala, jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
MasyaAllah...
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa kami sampai juga di Kota Madinah.
Rasa kantuk seolah langsung menghilang, berganti dengan perasaan haru yang sulit dijelaskan. Kota yang selama ini hanya kami dengar dalam kisah hijrah Rasulullah, kini benar-benar aku kunjungi.
Kami pun turun dari bus satu per satu. Sementara itu, koper-koper kami tetap berada di bagasi karena sudah ada petugas handling hotel yang akan mengantarkannya langsung ke depan kamar masing-masing.
Sesampainya di lobi hotel, seluruh jamaah berkumpul untuk pembagian kunci kamar. Pihak travel telah mengatur pembagian kamar berisi tiga hingga empat orang.
Kebetulan, seluruh jamaah perempuan dari Kafilah 1 Oktober ditempatkan dalam kamar yang sama. Hanya Paul yang bergabung dengan beberapa jamaah pria dari Kafilah 4 Oktober.
Setelah menerima kunci, kami segera menuju kamar masing-masing. Lucunya, kamar Paul ternyata persis berada di sebelah kamar kami. Jadi, kalau Firda kangen Paul, enggak perlu jalan jauh. Tinggal keluar kamar, duduk sebentar di kursi yang tersedia di depan kamar, sudah bisa mengobrol.
Begitu pintu kamar terbuka, rasa lelah seolah kembali mengingatkan bahwa perjalanan hari itu benar-benar panjang. Kami langsung membuka koper, menggantung pakaian di lemari agar tidak kusut, lalu bergantian cuci muka dan mengenakan gamis.
Meski waktu sudah menunjukkan dini hari, tidak ada yang ingin berlama-lama beristirahat.
Justru ada semangat yang sulit dijelaskan.
Beberapa saat lagi, untuk pertama kalinya dalam hidup, kami akan melangkahkan kaki menuju Masjid Nabawi. Tempat yang selama ini hanya kami lihat dalam foto di internet maupun televisi. Tempat yang namanya selalu kami dengar saat pengajian.
Malam itu, rasa lelah perlahan berubah menjadi rindu.
Rindu yang sebentar lagi akan dipertemukan.
Sekitar pukul empat pagi, kami sudah selesai mengisi perut dengan sedikit camilan yang dibawa dari Indonesia. Satu per satu kami mengenakan perlengkapan shalat, memastikan semua sudah siap sebelum turun ke lobi hotel. Hari ini merupakan pagi pertama kami di Madinah. Tour leader dan mutawif meminta seluruh jamaah berkumpul karena kami akan berangkat bersama menuju Masjid Nabawi. Selain untuk shalat Subuh berjamaah, mutawif juga akan menunjukkan jalan dari hotel menuju masjid agar setelahnya kami bisa pergi sendiri tanpa khawatir tersesat.
Di lobi, kulihat wajah-wajah yang masih menyimpan sisa kantuk perlahan berubah menjadi penuh semangat. Ada yang sesekali menguap sambil tersenyum malu, ada yang sibuk merapikan kerudung dan peci, ada pula yang saling menyapa dengan suara pelan agar tidak mengganggu tamu hotel yang masih beristirahat. Di sela-sela obrolan ringan itu, sesekali terdengar pertanyaan, "Sudah siap semua?" yang langsung disambut anggukan dan senyum antusias dari yang lain.
Tak lama kemudian, tour leader dan mutawif memastikan tidak ada jamaah yang tertinggal. Setelah rombongan lengkap, kami pun melangkah keluar hotel bersama-sama.
Sepanjang perjalanan, deretan toko suvenir sudah tampak berjajar rapi di kanan dan kiri jalan. Lampu-lampu toko masih menyala, sementara udara dini hari Madinah terasa begitu sejuk. Kami baru berjalan beberapa menit ketika gerbang Masjid Nabawi bertuliskan Gate 327 sudah di depan mata. Saat itu kami baru benar-benar menyadari bahwa hotel kami ternyata sangat dekat dengan masjid. Rasanya seperti mendapat hadiah kecil yang membuat hati semakin bersyukur.
Meskipun langit masih gelap dan matahari belum menampakkan diri, pelataran Masjid Nabawi sudah dipenuhi ribuan jamaah. Pemandangan itu begitu indah. Saf laki-laki dan perempuan tertata rapi. Ada yang masih berdiri menunaikan tahajud, ada yang tenggelam dalam lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, dan ada pula yang duduk diam sambil menengadahkan tangan, memanjatkan doa dalam keheningan menjelang fajar. Hamparan karpet di pelataran dipenuhi orang-orang yang datang dengan harapan dan doa masing-masing, tetapi semuanya menghadap Tuhan yang sama.
Kami memilih duduk tidak jauh dari Gate 327. Aku berada di samping Mbak Diana dan Bu Ren. Suasananya begitu damai hingga rasanya sayang jika hanya menunggu waktu berlalu. Aku pun menunaikan beberapa rakaat shalat tahajud, lalu membuka dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Entah mengapa, ayat-ayat yang biasa kubaca di rumah terasa berbeda ketika dilantunkan di Masjid Nabawi. Hati terasa lebih tenang, seolah setiap kata menemukan tempatnya.
Tak lama kemudian, azan Subuh berkumandang. Suaranya menggema memenuhi pelataran dan ruang-ruang Masjid Nabawi. Saat itu, waktu seakan berhenti sesaat. Sulit menjelaskan apa yang kami rasakan. Haru, syukur, bahagia, sekaligus tidak percaya bercampur menjadi satu. Kami saling berpandangan sambil tersenyum kecil. Allah benar-benar mengabulkan doa yang selama ini kami panjatkan. Kami akhirnya bisa menyambut Subuh di Masjid Nabawi.
Setelah azan, kami menunaikan dua rakaat sunnah Fajar. Ketika iqamah dikumandangkan, ribuan jamaah serentak berdiri dan merapatkan saf. Di kanan dan kiri kami berdiri orang-orang dari berbagai negara, dengan bahasa, budaya, dan warna kulit yang berbeda. Tidak ada yang saling mengenal, tetapi semua mengangkat takbir yang sama, bersujud kepada Allah yang sama, dan memanjatkan doa dengan hati yang sama. Saat itulah aku benar-benar merasakan indahnya persaudaraan dalam Islam.
Ada satu pengalaman yang membuatku tertegun pagi itu. Setelah imam mengucapkan salam, kukira rangkaian shalat telah selesai. Namun, beberapa saat kemudian terdengar imam mengucapkan kalimat singkat dalam bahasa Arab. Aku dan Bu Ren saling berpandangan, sama-sama bingung. Mengapa semua jamaah tetap berdiri?
Barulah beberapa detik kemudian kami memahami bahwa shalat jenazah akan segera dimulai.
Itulah pertama kalinya aku mengetahui bahwa di Masjid Nabawi, shalat jenazah sangat sering dilaksanakan setelah shalat fardu. Dalam sekejap, ribuan jamaah kembali berdiri, bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk mendoakan seseorang yang bahkan tidak mereka kenal.
Momen itu begitu menyentuh hati. Tidak ada yang bertanya siapa orang tersebut, dari negara mana asalnya, atau apa jabatan dan kedudukannya semasa hidup. Di hadapan Allah, semua itu seolah luruh. Yang tersisa hanyalah doa-doa yang dipanjatkan oleh ribuan saudara seiman, memohon agar Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amalnya, dan melapangkan tempat peristirahatan terakhirnya.
Saat itu aku tak henti bertanya dalam hati, "Ya Allah, amal apa yang telah beliau lakukan hingga Engkau takdirkan begitu banyak orang berdiri bersama mendoakannya di Masjid Nabawi?"
Pertanyaan itu terus terngiang hingga kini. Ia mengingatkanku bahwa yang benar-benar berharga dalam hidup bukanlah gelar, jabatan, ataupun harta yang kita kumpulkan. Semua akan tertinggal. Yang akan menemani kita hanyalah iman, amal saleh, dan setiap kebaikan yang pernah kita lakukan karena Allah.
Usai shalat jenazah, langit Madinah perlahan berubah warna. Cahaya keemasan mulai muncul dari balik ufuk, dan satu per satu payung raksasa di pelataran Masjid Nabawi terbuka dengan gerakan yang begitu anggun. Rasanya seperti bunga-bunga putih raksasa yang sedang mekar menyambut pagi. Banyak jamaah berhenti sejenak hanya untuk menikmati pemandangan itu, termasuk kami.
Hingga hari ini, setiap kali melihat foto-foto itu, yang paling kami rindukan bukan hanya kemegahan Masjid Nabawi, melainkan ketenangan yang Allah titipkan di hati kami pagi itu. Rasanya seperti ada sebagian hati yang masih tertinggal di sana.
Setelah puas menikmati pagi pertama di Masjid Nabawi, kami pun berjalan santai kembali ke hotel. Langkah terasa lebih ringan dibanding saat berangkat tadi. Mungkin karena hati sudah dipenuhi rasa syukur setelah bisa menyambut Subuh di Masjid Nabawi.
Di sepanjang perjalanan, perhatian kami tiba-tiba tertuju pada sekumpulan merpati yang memenuhi pelataran. Burung-burung itu berjalan santai, lalu sesekali terbang rendah ketika ada jamaah yang melintas. Aku, Bu Ren, dan Uti Atun spontan saling berpandangan, lalu tertawa kecil. Tanpa direncanakan, kami ikut berlari kecil mengejar merpati-merpati itu sambil berusaha mengabadikan momen dalam beberapa foto. Tentu saja, begitu kami mendekat, mereka langsung beterbangan ke segala arah. Bukannya menyerah, kami justru semakin tertawa melihat tingkah mereka. Momen sederhana itu terasa begitu membahagiakan. Di tengah perjalanan ibadah yang penuh kekhusyukan, Allah masih menghadiahkan tawa kecil yang membuat pagi itu terasa semakin hangat.
Setelah puas bermain sejenak dengan merpati-merpati yang memenuhi pelataran Masjid Nabawi, kami kembali melangkahkan kaki menuju hotel. Tawa kecil masih sesekali terdengar saat kami saling menunjukkan hasil foto yang baru saja diambil. Momen sederhana itu membuat perjalanan pulang terasa begitu menyenangkan.
Sesampainya di hotel, kami langsung menuju restoran di lantai dua. Aroma nasi goreng yang baru matang langsung menyeruak ke hidung. Harumnya begitu akrab, mengingatkanku pada masakan rumahan yang sering kami nikmati di Indonesia.
Di meja prasmanan kulihat sudah tersusun aneka hidangan, mulai dari nasi goreng, telur orak-arik, sosis, kentang, roti hangat, buah-buahan segar, kurma, hingga teh hangat, kopi, dan orange juice. Setelah berjalan kaki sejak dini hari, menunaikan shalat, dan menikmati indahnya pagi di Masjid Nabawi, sarapan itu terasa begitu istimewa. Barangkali bukan karena menunya yang mewah, melainkan karena kami menikmatinya dengan hati yang penuh syukur dan tubuh yang akhirnya bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ibadah berikutnya.
Selesai sarapan, tour leader mengingatkan kami agar beristirahat di kamar hotel sampai menjelang Zuhur, sore nanti masih ada rangkaian ziarah ke beberapa tempat bersejarah di sekitar Masjid Nabawi, sehingga kondisi tubuh harus benar-benar dijaga.
Kami pun berjalan menuju area lift. Di depan lift sudah berdiri cukup banyak jamaah dari berbagai negara yang juga hendak kembali ke kamar masing-masing. Ada yang berbincang pelan dalam bahasa yang tidak kami pahami, ada yang menggenggam tasbih sambil terus berzikir, dan ada pula yang hanya berdiri tenang dengan senyum ramah di wajahnya. Beberapa kali pintu lift terbuka, tetapi kabinnya sudah penuh. Kami hanya saling tersenyum kecil, lalu mundur selangkah untuk menunggu lift berikutnya. Anehnya, antrean yang panjang itu sama sekali tidak terasa melelahkan. Tidak terdengar keluhan atau wajah yang menunjukkan rasa kesal. Semua menunggu dengan sabar, saling memberi kesempatan, seolah memahami bahwa setiap orang datang ke tempat ini dengan tujuan yang sama yaitu memenuhi undangan Allah.
Sesampainya di kamar lantai delapan, kami akhirnya bisa benar-benar merebahkan badan. Rasanya baru kali itu tubuh menyadari betapa lelahnya perjalanan yang baru saja kami lalui. Sambil berbaring, kami masih sempat mengobrol ringan tentang pengalaman pagi tadi. Kami saling bercerita, mengingat kembali momen saat azan Subuh berkumandang di Masjid Nabawi, shalat jenazah yang begitu menyentuh, hingga tingkah kami yang sibuk mengejar merpati sepulang dari masjid. Obrolan itu sesekali diselingi tawa kecil yang membuat suasana kamar terasa begitu hangat.
Tak lama kemudian, satu per satu suara mulai menghilang. Tidak ada lagi obrolan, hanya napas yang mulai teratur. Perjalanan panjang dari Istanbul, ditambah ibadah sejak dini hari, membuat tubuh kami akhirnya menyerah pada rasa lelah. Tanpa terasa, kami pun tertidur.
...
Entah sudah berapa lama terlelap, tiba-tiba suara alarm dari beberapa ponsel berbunyi hampir bersamaan. Aku meraih ponsel yang berada di samping bantal. Kulihat di layar hp sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. "Wah, cepat banget ya" gumamku dalam hati. Rasanya baru saja memejamkan mata, tetapi waktu istirahat sudah berakhir.
Kami pun segera bergantian mandi, mengenakan gamis, lalu mulai bersiap kembali menuju Masjid Nabawi untuk menunaikan shalat Zuhur. Suasana kamar yang tadi hening kembali ramai aktivitas. Ada yang sibuk merapikan gamisnya, ada yang bercermin memastikan hijabnya sudah rapi, sementara yang lain menyiapkan tas dan perlengkapan shalat.
Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba Firda menoleh sambil tersenyum.
"Utiii... nanti aku berangkat ke masjid sama Mas ya. Kunci aku titip di resepsionis aja ya nanti."
Uti Atun langsung menjawab sambil tersenyum penuh perhatian.
"Oalaa nduk... Enggak bisa jauh dari masnya ya."
Aku dan Bu Ren spontan saling berpandangan, lalu tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus manis melihat Firda yang masih ingin selalu berangkat bersama suaminya. Momen-momen sederhana seperti itu justru membuat perjalanan kami terasa semakin hangat, seperti bepergian bersama keluarga sendiri.
Setelah semuanya siap, kami berpamitan dengan Firda yang akan berangkat bersama suaminya.
"Hati-hati ya, Fir"
"Iya, sampai ketemu di masjid"
Kami pun melangkah keluar kamar, turun menuju lobi hotel, lalu kembali menyusuri jalan menuju Masjid Nabawi. Matahari Madinah kini sudah bersinar cukup terik, tetapi semangat kami rasanya tidak berkurang sedikit pun. Justru ada rasa tidak sabar untuk kembali menginjakkan kaki di masjid yang sejak pagi tadi sudah membuat hati kami begitu jatuh cinta.
Sesampainya di Masjid Nabawi, kali ini kami sepakat untuk mencoba shalat di bagian dalam masjid. Pagi tadi kami beribadah di pelataran, sedangkan sekarang kami ingin merasakan suasana di dalam bangunan masjid.
Sebelum memasuki masjid, kami mengikuti kebiasaan para jamaah lainnya. Sandal kami lepas terlebih dahulu, lalu masing-masing dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak mengotori tas. Setelah itu, kantong plastik berisi sandal kami simpan rapi di dalam tas yang selalu kami bawa.
Di pintu masuk, beberapa askar wanita berjaga dengan sigap. Mereka memeriksa isi tas setiap jamaah satu per satu dengan ramah namun teliti. Setelah memastikan semuanya sesuai, mereka mengangguk sambil mempersilakan kami masuk.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam Masjid Nabawi, aku spontan memperlambat langkah. Rasanya seperti memasuki tempat yang selama ini hanya kulihat melalui instagram dan tiktok orang lain. tetapi kini benar-benar ada di hadapanku. Hati berdebar pelan, sementara mataku sibuk menjelajahi setiap sudut masjid.
Hal pertama yang membuatku terpaku adalah keindahan arsitekturnya. Tiang-tiang masjid berdiri megah dengan ornamen bernuansa krem, putih, dan sentuhan hijau yang begitu anggun. Semuanya terlihat begitu serasi. Cahaya dari lampu-lampu yang menempel di dinding dan lampu gantung besar memancar lembut, membuat seluruh ruangan terasa hangat sekaligus menenangkan. Tanpa sadar aku mendongakkan kepala. Di atas sana, bagian dalam kubah terlihat begitu indah dengan detail ornamen yang rumit dan simetris. Semakin lama kupandangi, semakin banyak detail kecil yang baru kusadari. Rasanya mata ini tidak pernah puas menikmati setiap ukiran yang menghiasi langit-langit masjid.
Di bawah kemegahan itu terbentang hamparan karpet hijau yang begitu luas dan rapi. Ribuan jamaah duduk dengan tenang di atasnya. Ada yang larut membaca Al-Qur'an, ada yang berzikir dengan tasbih di tangan, ada pula yang hanya menengadahkan tangan, memanjatkan doa dalam diam. Meskipun dipenuhi begitu banyak orang dari berbagai penjuru dunia, suasananya tetap terasa teduh. Tidak ada suara gaduh. Yang terdengar hanyalah lantunan ayat suci Al-Qur'an yang mengalun pelan dari berbagai sudut masjid.
Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat deretan tempat penyimpanan air zamzam. Gelas-gelas kecil sudah tertata rapi di sampingnya. Aku pun mengambil segelas air zamzam dan meminumnya perlahan. Airnya terasa begitu sejuk dan menyegarkan. Entah karena memang sedang haus atau karena hati dipenuhi rasa syukur, setiap teguknya terasa begitu nikmat. Sebelum beranjak, aku juga mengisi botol minum yang kubawa. Lumayan, nanti di hotel ada persediaan air zamzam untuk diminum.
Setelah itu, aku, Uti Atun, dan Bu Ren berjalan perlahan mencari saf yang masih kosong. Kami memilih duduk berdampingan, lalu meletakkan tas kecil di depan kami. Sambil menunggu azan Zuhur berkumandang, aku kembali mendongakkan kepala. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Rasanya selalu ada detail baru yang menarik perhatian. Lampu gantung yang megah, kubah yang menawan, dan ornamen-ornamen yang begitu indah membuatku berkali-kali mengucap, "MasyaAllah..." dalam hati.
Beberapa saat kemudian aku mengambil Al-Quran yang tersedia di suatu sudut masjid dan mulai membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Di sela-sela itu, aku dan Uti juga sempat mengabadikan momen dengan berfoto bersama. Kami saling tersenyum sederhana. Foto itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi kenangan yang tersimpan di dalamnya rasanya akan bertahan seumur hidup.
Tak lama kemudian, lantunan azan Zuhur menggema memenuhi seluruh ruangan Masjid Nabawi. Suaranya begitu merdu dan menenangkan, seolah mengajak setiap hati untuk kembali menghadap Allah. Setelah azan selesai, kami menunaikan dua rakaat shalat sunah, lalu kembali duduk sambil berdoa menunggu iqamah.
Saat iqamah dikumandangkan, seluruh jamaah berdiri dan merapatkan saf. Dalam hitungan detik, ribuan orang dari berbagai negara berdiri sejajar tanpa memandang perbedaan bahasa, warna kulit, maupun asal-usul. Kami semua menghadap kiblat yang sama, mengangkat takbir yang sama, dan bersujud kepada Allah yang sama. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika akhirnya bisa menunaikan shalat Zuhur berjamaah di Masjid Nabawi untuk pertama kalinya.
Seperti yang kami alami sejak shalat Subuh tadi pagi, setelah imam mengucapkan salam, beliau kembali mengumumkan akan dilaksanakannya shalat jenazah. Kulihat banyak jamaah tetap berdiri di tempatnya. Aku pun ikut berdiri bersama ribuan muslim lainnya.
Sekali lagi aku terdiam dalam hati. Kami mendoakan seseorang yang bahkan tidak kami ketahui namanya. Tidak ada yang bertanya siapa dirinya, dari mana asalnya, atau bagaimana kehidupannya semasa di dunia. Yang kami lakukan hanyalah mengangkat tangan, memohon agar Allah mengampuni dosanya, menerima amal baiknya, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Di momen itu aku kembali diingatkan bahwa pada akhirnya, setiap manusia akan pulang menghadap Allah dengan membawa bekal iman, amal saleh, dan setiap kebaikan yang pernah ia lakukan. Semoga kelak, ketika tiba giliran kami kembali kepada-Nya, Allah juga berkenan menghadirkan doa-doa tulus dari saudara-saudara seiman, sebagaimana yang kami panjatkan siang itu di Masjid Nabawi.
Setelah itu, kami memanjatkan doa untuk diri kami sendiri kemudian kembali berjalan kaki menuju hotel. Matahari Madinah mulai terasa lebih terik dibandingkan pagi tadi. Meski begitu, langkah kami tetap ringan. Setibanya di hotel, kami langsung menuju restoran di lantai dua. Aroma masakan hangat kembali menyambut kami. Namun, kali ini hidangan yang tersaji berbeda dengan menu sarapan tadi pagi.
Bila pagi tadi meja prasmanan dipenuhi nasi goreng, telur orak-arik, sosis, kentang, roti hangat, buah-buahan segar, kurma, serta aneka minuman seperti teh hangat, kopi, dan jus, siang itu yang menanti kami adalah hidangan makan siang yang lebih mengenyangkan. Nasi putih hangat tersusun rapi di dalam wadah besar, ditemani ayam berbumbu yang harum, semur daging yang lembut, tumis sayuran, sup hangat, sambal, dan acar. Di sudut meja juga tersedia potongan buah segar sebagai pencuci mulut, lengkap dengan ice tea, orange juice, dan air mineral yang siap menemani makan siang kami.
Mungkin bagi sebagian orang menu itu terlihat sederhana. Namun, setelah berjalan kaki, beribadah, dan menikmati hangatnya matahari Madinah sejak pagi, setiap suapan terasa begitu nikmat. Tidak ada yang tersisa di piring kami. Sesekali kami saling bertukar komentar.
"Hmmm enak ya"
"Iya, apalagi makannya pas lagi lapar begini"
Kami pun tersenyum sambil melanjutkan makan. Di meja-meja lain, jamaah dari berbagai travel di Indonesia juga tampak menikmati hidangan mereka. Ada yang saling berbagi cerita tentang pengalaman pertama masuk ke dalam Masjid Nabawi, ada yang sibuk mengambil tambahan lauk, dan ada pula yang sudah mulai membicarakan rencana ziarah sore nanti.
Suasana restoran terasa hangat, bukan hanya karena aroma masakan yang memenuhi ruangan, tetapi juga karena kebersamaan yang perlahan mulai terjalin di antara kami. Rasanya, setiap waktu makan bukan sekadar mengisi perut, melainkan juga menjadi momen untuk beristirahat sejenak, berbagi cerita, dan mengumpulkan tenaga sebelum kembali melanjutkan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Setelah selesai makan siang, kami kembali ke kamar hotel untuk beristirahat sejenak sambil menunggu waktu Asar. Matahari Madinah sedang berada di puncaknya. Udara di luar terasa cukup terik, sehingga kembali ke kamar yang sejuk menjadi pilihan terbaik sebelum melanjutkan rangkaian kegiatan sore nanti.
Sesampainya di kamar, kami bergantian menggunakan kamar mandi untuk menyegarkan badan. Setelah semuanya selesai, kami berkumpul kembali di dalam kamar. Firda belum terlihat, ia sedang berjalan-jalan menikmati suasana Kota Madinah bersama suaminya, Paul.
Suasana kamar terasa begitu santai. Tidak ada yang terburu-buru. Aku, Bu Ren, dan Uti Atun duduk di ranjang masing-masing sambil menikmati waktu istirahat. Dari obrolan ringan yang awalnya hanya membahas perjalanan hari itu, pembicaraan perlahan mengalir ke pengalaman-pengalaman Uti Atun saat menunaikan ibadah haji dan umrah di tahun-tahun sebelumnya.
Beliau bercerita dengan penuh semangat, seolah setiap kenangan itu masih begitu dekat di hatinya. Sesekali beliau tersenyum saat mengenang sudut-sudut Kota Madinah yang dirindukannya, lalu bercerita tentang Makkah yang selalu membuatnya ingin kembali. Dari cara beliau bercerita, aku bisa merasakan bahwa kerinduan kepada Tanah Suci bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Kerinduan itu benar-benar tumbuh dari hati.
"Kalau sudah pernah ke sini, biasanya pengin balik lagi," ucap beliau sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk pelan. Saat itu aku mulai memahami mengapa begitu banyak orang mengatakan bahwa Tanah Suci selalu memiliki cara untuk memanggil kembali orang-orang yang merindukannya.
Aku benar-benar kagum dengan Uti Atun. Selama perjalanan, beliau selalu tampil sederhana, rendah hati, dan tidak pernah sedikit pun menunjukkan apa yang beliau miliki. Cara beliau berbicara, bersikap, bahkan bergaul dengan kami pun terasa begitu hangat dan apa adanya.
Dalam hati aku berkata, "MasyaAllah... betapa indahnya ketika Allah memberikan rezeki yang cukup, lalu menggerakkan hati seseorang untuk terus kembali menjadi tamu-Nya."
Saat itu aku diam-diam memanjatkan doa.
"Ya Allah, jika Engkau berkenan, limpahkanlah rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat kepadaku. Izinkan aku kembali menjadi tamu-Mu, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali, sebagaimana Engkau telah memberi kesempatan kepada Uti Atun. Semoga setiap langkah menuju Tanah Suci selalu menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Mu."
Tak lama kemudian, obrolan kami pun perlahan berakhir. Entah siapa yang lebih dulu memulai, tetapi satu per satu kami mulai meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping tempat tidur. Rasanya, setelah berbagi cerita tentang perjalanan di Tanah Suci, hati kami serempak teringat pada orang-orang yang sedang menunggu kabar dari rumah.
Suasana kamar yang tadi dipenuhi cerita tentang Mekah dan Madinah kini berubah menjadi ramai oleh suara percakapan melalui telepon. Uti Atun tampak tersenyum lebar saat berbincang dengan anak dan cucu-cucunya. Sesekali terdengar beliau tertawa kecil, membuat kami ikut tersenyum melihatnya. Di sudut lain, Bu Ren menghubungi suami dan anak-anaknya, menanyakan kabar mereka satu per satu dengan penuh perhatian.
Aku pun segera menghubungi kedua orang tuaku dan adik-adikku di Indonesia. Begitu suara mereka terdengar dari seberang telepon, rasanya hati langsung lega. Kami saling bertukar cerita, menanyakan kabar, lalu aku mulai bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang baru saja kulalui di Madinah.
Di saat seperti itulah aku menyadari, ternyata rasa bahagia dan rasa rindu bisa hadir bersamaan. Kami begitu bersyukur karena Allah mengizinkan kami menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada orang-orang yang diam-diam kami rindukan di rumah. Jarak ribuan kilometer memang memisahkan kami, tetapi mendengar suara mereka beberapa menit saja rasanya sudah cukup untuk mengobati rindu dan membuat hati kembali tenang.
Tak terasa waktu terus berjalan. Ketika kulihat jam di ponsel, waktu Asar sudah semakin dekat. Kami pun mengakhiri panggilan satu per satu, lalu kembali bersiap. Sajadah kecil, botol minum, payung, kipas portabel, hingga tas kecil kami pastikan sudah siap dibawa. Sore itu, setelah shalat Asar, rombongan kami akan mengikuti ziarah ke beberapa tempat bersejarah di sekitar Masjid Nabawi.
Tak lama kemudian, kami kembali melangkahkan kaki menuju Masjid Nabawi. Jalan yang pagi dan siang tadi terasa begitu baru, kini mulai terasa akrab. Kami sudah hafal jalan kecil menuju gerbang masjid, deretan toko suvenir yang kami lewati, hingga beberapa sudut yang mulai terasa seperti bagian dari perjalanan sehari-hari di Madinah.
Sesampainya di masjid, kami kembali memilih shalat di bagian dalam. Kami melepas sandal, memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu menyimpannya di dalam tas. Setelah pemeriksaan tas oleh askar wanita selesai, kami pun dipersilakan masuk.
Begitu berada di dalam, aku kembali mengambil segelas air zamzam. Rasanya sudah seperti kebiasaan yang selalu ingin kulakukan setiap kali memasuki Masjid Nabawi. Air zamzam yang sejuk itu kuminum perlahan, lalu aku kembali mengisi botol minum sebagai persediaan untuk dibawa ke hotel nanti.
Aku dan Uti kemudian memilih saf yang masih cukup longgar. Kami duduk berdampingan sambil menunggu azan Asar berkumandang. Seperti sebelumnya, waktu itu kuisi dengan membaca beberapa ayat Al-Qur'an dan memperbanyak doa.
Ketika azan selesai dikumandangkan, aku kembali menengadahkan tangan. Di tempat yang begitu mulia itu, aku memohon kepada Allah dengan penuh harap. Salah satu doa yang terus kupanjatkan adalah semoga Allah segera mempertemukanku dengan jodoh terbaik menurut-Nya, seseorang yang kelak dapat menemaniku dalam ketaatan dan bersama-sama melangkah menuju surga-Nya. Rasanya hati menjadi jauh lebih tenang setelah menyerahkan semua harapan itu kepada Allah.
Tak lama kemudian, iqamah berkumandang. Seluruh jamaah berdiri dan merapatkan saf. Kami pun kembali menunaikan shalat Asar berjamaah bersama ribuan muslim dari berbagai penjuru dunia.
Seperti shalat-shalat sebelumnya, setelah imam mengucapkan salam, shalat jenazah kembali dilaksanakan. Kami pun tetap berdiri di tempat dan ikut mendoakan saudara kami yang telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah. Meskipun tidak mengenal siapa beliau, doa yang terucap terasa begitu tulus. Setiap kali mengikuti shalat jenazah di Masjid Nabawi, hatiku selalu kembali diingatkan bahwa pada akhirnya, yang akan menemani setiap manusia hanyalah iman dan amal salehnya.
Setelah seluruh rangkaian shalat selesai, aku membuka ponsel sejenak untuk melihat grup WhatsApp Kafilah Umroh Travel. Ternyata mutawif sudah mengirimkan pengumuman agar seluruh jamaah segera berkumpul di Gate 326. Dari sanalah kami akan memulai ziarah sore mengelilingi kawasan bersejarah di sekitar Masjid Nabawi.
Aku menoleh ke arah Uti dan Bu Ren.
"Yuk buibu, kita ke Gate 326. Kayaknya yang lain juga sudah mulai kumpul."
Kami pun segera membereskan barang-barang, lalu melangkah menuju pintu keluar dengan hati yang penuh semangat. Sesampainya di Gate 326, suasananya sudah cukup ramai. Jamaah dari rombongan travel kami tampak berkumpul sambil menunggu seluruh peserta hadir. Ada yang berdiri sambil mengobrol santai, ada yang duduk di pinggir pelataran, dan ada pula yang sibuk mengipas-ngipas wajah karena udara sore Madinah masih terasa cukup hangat. Di tengah keramaian itu, kami pun bergabung dengan rombongan.
Beberapa menit kemudian, mutawif meminta perhatian seluruh jamaah. Sebelum memulai ziarah, beliau terlebih dahulu mengingatkan agar kami memastikan tidak ada satu pun anggota rombongan yang tertinggal.
"Yuk, dicek dulu teman sekamarnya masing-masing" ujar beliau.
Kami pun saling menoleh dan mulai menghitung satu per satu wajah yang ada di sekitar kami. Aku, Uti Atun, dan Bu Ren spontan saling berpandangan.
"Lho... Firda sama Paul mana?"
Kami kembali melihat ke sekeliling, tetapi keduanya memang belum terlihat. Rupanya mereka belum tiba di titik kumpul. Mutawif pun segera menghubungi mereka melalui WhatsApp untuk memastikan keberadaan mereka. Syukurlah, tidak lama kemudian Firda dan Paul terlihat berjalan cepat sambil sesekali melambaikan tangan ke arah rombongan.
"Nah, sudah lengkap semua ya" kata mutawif sambil tersenyum.
Kami pun ikut tersenyum lega. Rasanya baru tenang kalau seluruh rombongan sudah berkumpul tanpa ada yang tertinggal.
Setelah memastikan semua jamaah hadir, mutawif membuka kegiatan sore itu dengan mengucapkan salam. Kami menjawab salam beliau hampir bersamaan, lalu suasana perlahan menjadi lebih tenang. Beliau kemudian menjelaskan secara singkat bahwa sore itu kami akan mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang berada di sekitar Masjid Nabawi. Tempat-tempat yang selama ini mungkin hanya kami baca di buku sejarah atau dengar saat kajian.
Mendengar penjelasan itu, rasa lelah setelah berjalan sejak siang tadi seolah menghilang. Aku justru semakin bersemangat. Rasanya tidak sabar ingin mengetahui kisah-kisah yang pernah terjadi di setiap sudut Kota Madinah.
Tak lama kemudian, mutawif mengajak kami mulai berjalan meninggalkan Gate 326. Langkah kami menyusuri jalan sekitaran Masjid Nabawi dengan tertib mengikuti rombongan. Sambil berjalan, beliau mulai menunjuk beberapa bangunan di sekitar kami dan menceritakan sejarahnya satu per satu. Perhentian pertama kami adalah Masjid Al-Ghamamah. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Ali bin Abi Thalib, kemudian Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di setiap tempat, mutawif tidak hanya menunjukkan letaknya, tetapi juga membagikan kisah-kisah yang membuat bangunan-bangunan itu terasa jauh lebih hidup. Sesekali kami berhenti sejenak untuk mendengarkan penjelasan beliau, lalu kembali melanjutkan langkah menuju lokasi berikutnya sambil menikmati suasana sore di Kota Madinah yang terasa begitu damai.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri mengabadikan momen bersama di dekat Masjid Al-Ghamamah. Satu per satu ponsel mulai dikeluarkan. Kami saling bergantian mengambil foto, sesekali tertawa kecil ketika ada yang belum siap atau salah melihat kamera. Rasanya sederhana, tetapi setiap foto yang kami ambil sore itu terasa begitu berharga.
Setelah puas berfoto, mutawif kembali mengajak kami berjalan. Tak jauh dari sana, beliau mengarahkan pandangan kami ke arah Kubah Hijau yang begitu ikonik di Masjid Nabawi.
"Di balik Kubah Hijau itulah Rasulullah dimakamkan" tutur beliau dengan suara yang tenang.
"Bersama dua sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu."
Mendengar penjelasan itu, langkah kami seolah melambat dengan sendirinya. Pandanganku tak lepas dari Kubah Hijau yang berdiri anggun di hadapan kami. Sulit rasanya menggambarkan perasaan saat itu. Ada haru, ada syukur, dan ada rasa takjub karena Allah mengizinkan kami berdiri begitu dekat dengan tempat yang begitu mulia bagi seluruh umat Islam.
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami kembali mengabadikan momen bersama dengan Kubah Hijau sebagai latar belakang. Rasanya tidak ingin melewatkan kesempatan itu begitu saja. Sambil tersenyum ke arah kamera, dalam hati aku berdoa semoga Allah mengizinkan kami kembali lagi ke Madinah suatu hari nanti.
Perjalanan ziarah kemudian dilanjutkan menuju Pemakaman Baqi. Di sana, mutawif menjelaskan secara singkat tentang Baqi, tempat peristirahatan terakhir bagi banyak sahabat Rasulullah, keluarga beliau, dan kaum muslimin sejak masa awal Islam.
Beliau juga mengingatkan bahwa hanya jamaah laki-laki yang diperbolehkan memasuki area pemakaman untuk berziarah. Sementara itu, jamaah perempuan diarahkan untuk kembali masuk ke dalam Masjid Nabawi melalui pintu khusus wanita yang berada di dekat Gate 327 sambil menunggu waktu Maghrib tiba.
Kami pun mengikuti arahan tersebut. Bersama tour leader, para jamaah perempuan berjalan kembali menuju pintu masuk khusus wanita. Langkah kami terasa ringan. Rasanya seperti pulang ke tempat yang sejak pagi tadi telah menghadirkan begitu banyak ketenangan. Setelah melewati pemeriksaan askar wanita, kami kembali memasuki Masjid Nabawi untuk mengisi waktu dengan beribadah sambil menanti lantunan azan Maghrib berkumandang.
Tak lama kemudian, lantunan azan Maghrib menggema memenuhi seluruh sudut Masjid Nabawi. Suaranya begitu merdu, seolah mengajak setiap hati untuk kembali menghadap Allah. Aku pun menengadahkan tangan, memanfaatkan waktu di antara azan dan iqamah untuk memanjatkan doa-doa yang sudah lama kusimpan di dalam hati. Di tempat semulia ini, rasanya setiap doa dipanjatkan dengan harapan yang jauh lebih besar.
Beberapa saat kemudian, iqamah berkumandang. Seluruh jamaah berdiri dan kembali merapatkan saf. Kami pun menunaikan shalat Maghrib berjamaah bersama ribuan muslim dari berbagai penjuru dunia.
Seperti shalat-shalat sebelumnya, setelah imam mengucapkan salam, shalat jenazah kembali dilaksanakan. Kami pun tetap berdiri di tempat, ikut mendoakan saudara kami yang telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah.
Di tengah shalat jenazah itu, tanpa sadar hatiku kembali berbisik kepada Allah.
"Ya Allah, jika Engkau berkenan, kelak ketika tiba waktuku kembali kepada-Mu, izinkan aku mendapatkan husnul khatimah dan jika itu yang terbaik menurut-Mu, izinkan pula aku disalatkan di Masjid Nabawi."
Doa itu terucap begitu saja. Bukan karena merasa pantas, tetapi karena hati benar-benar tersentuh setiap kali melihat ribuan kaum muslimin berdiri bersama mendoakan seseorang yang bahkan tidak mereka kenal. Betapa indahnya jika di akhir kehidupan nanti seseorang diantarkan dengan doa-doa tulus di tempat semulia ini.
Setelah shalat jenazah selesai, kami kembali larut dalam doa masing-masing. Masjid Nabawi menjelang malam terasa begitu damai. Sebagian jamaah masih membaca Al-Qur'an, sebagian lagi berzikir dengan tasbih di tangan, sementara yang lain memilih duduk tenang menikmati suasana yang menenteramkan hati.
Aku, Uti Atun, dan Bu Ren pun sepakat untuk tetap berada di dalam masjid hingga waktu Isya tiba. Rasanya sayang sekali jika harus kembali ke hotel terlebih dahulu. Selagi menunggu, aku melanjutkan membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Sesekali aku mengangkat pandangan ke langit-langit masjid yang begitu indah, lalu kembali tenggelam dalam bacaan.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Lantunan azan Isya akhirnya berkumandang. Seperti sebelumnya, aku kembali menengadahkan tangan, memohon kepada Allah dengan doa-doa terbaik yang mampu kupanjatkan. Setelah iqamah dikumandangkan, kami berdiri dan kembali menunaikan shalat Isya berjamaah.
Usai shalat Isya, shalat jenazah kembali dilaksanakan. Untuk kelima kalinya hari itu, kami berdiri bersama ribuan jamaah lainnya, memohon agar Allah mengampuni, merahmati, dan memberikan tempat terbaik bagi saudara kami yang telah lebih dahulu kembali kepada-Nya. Setiap kali mengikuti shalat jenazah di Masjid Nabawi, hati ini selalu diingatkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan yang begitu singkat.
Selesai berdoa, kami pun saling berpandangan dan tersenyum kecil.
"Yuk, kita ke hotel. Perut juga sudah mulai lapar" kataku sambil merapikan tas.
Kami bertiga pun melangkah keluar dari Masjid Nabawi menuju hotel. Udara malam Madinah terasa jauh lebih sejuk dibandingkan siang tadi. Di sepanjang jalan, cahaya lampu-lampu kota berpadu dengan ramainya para jamaah yang masih berlalu-lalang. Hari itu terasa begitu panjang, tetapi juga begitu indah. Sejak sebelum Subuh hingga selepas Isya, hampir seluruh waktu kami dihabiskan di Masjid Nabawi. Tubuh memang mulai lelah, tetapi hati justru terasa semakin penuh oleh rasa syukur.
Sesampainya di restoran hotel, aroma masakan hangat langsung menyambut kami. Malam itu meja prasmanan dipenuhi nasi putih, oseng tempe, tumis sayuran, serta buah-buahan segar sebagai pencuci mulut. Di sudut lain sudah tersedia teh hangat dan air mineral. Setelah seharian berjalan kaki, beribadah, dan mengikuti ziarah di sekitar Masjid Nabawi, makan malam sederhana itu terasa begitu nikmat.
Setelah selesai makan malam, kami masih duduk sejenak di restoran. Sebelum para jamaah kembali ke kamar masing-masing, tour leader mengingatkan agenda untuk esok hari. Esok setelah sarapan, kami akan mengikuti ziarah ke beberapa tempat bersejarah di Kota Madinah, di antaranya Masjid Quba, Jabal Uhud, dan kebun kurma. Mendengar rencana itu, kami saling berpandangan sambil tersenyum. Rasanya baru satu hari berada di Madinah, tetapi begitu banyak pengalaman indah yang sudah kami rasakan. Besok, petualangan baru kembali menanti.
Tak lama kemudian, kami menuju lift untuk kembali ke kamar di lantai delapan. Malam itu antrean lift tidak seramai pagi tadi. Suasananya juga terasa lebih tenang. Sebagian jamaah tampak mulai kelelahan setelah seharian beribadah dan mengikuti ziarah, sementara yang lain masih sempat berbincang ringan tentang pengalaman mereka hari itu.
Sesampainya di kamar, Firda belum kembali. Rupanya ia masih menikmati suasana malam Kota Madinah bersama suaminya, Paul. Sementara itu, aku, Bu Ren, dan Uti Atun bergantian mandi, lalu berganti pakaian yang lebih nyaman. Setelah semuanya selesai, kami mulai menyiapkan gamis, kerudung, sandal, botol minum, dan perlengkapan lain yang akan dibawa untuk ziarah esok pagi. Rasanya menyenangkan bisa menyiapkan semuanya tanpa terburu-buru.
Setelah semua beres, aku merebahkan tubuh di atas kasur. Kelelahan mulai terasa di seluruh badan, tetapi entah mengapa mata ini belum juga ingin terpejam. Aku menoleh ke samping. Bu Ren dan Uti Atun rupanya sudah lebih dulu terlelap. Napas mereka terdengar pelan, menandakan hari yang panjang akhirnya benar-benar usai.
Aku kembali menatap langit-langit kamar hotel.
MasyaAllah... aku benar-benar sedang berada di Madinah.
Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Rasanya masih sulit dipercaya. Kota yang selama ini hanya kulihat di televisi, media sosial, dan buku-buku perjalanan, kini menjadi tempatku berpijak.
Ada satu hal lagi yang baru kusadari. Sudah beberapa hari ini aku sama sekali tidak membuka laptop. Tidak ada laporan audit yang harus diselesaikan, tidak ada email pekerjaan yang perlu dibalas, tidak ada rapat ataupun tenggat waktu yang biasanya memenuhi pikiranku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku benar-benar diberi ruang untuk beristirahat.
Di tengah lamunanku, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Firda.
"Tan, nanti tidur aja duluan ya. Pintu kamarnya ditutup aja, tapi jangan dikunci. Aku lagi ngopi sama Mas di teras hotel."
Aku pun tersenyum sambil membalas pesannya.
"Okaaay, aman. Selamat menikmati indahnya Madinah malam ini berdua ya." 😊
Setelah mengirim balasan itu, aku meletakkan ponsel di samping bantal. Perlahan kupejamkan mata.
Hari pertama di Madinah akhirnya berakhir.
Hari yang penuh langkah, doa, rasa takjub, dan syukur. Hari yang mungkin akan selalu menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidupku. Dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur, aku pun terlelap, bersiap menyambut pagi berikutnya di Kota Rasulullah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar