Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hallo semuanya! 🤍
Senang sekali bisa bertemu lagi dengan kalian. Kali ini aku ingin mengajak kalian melanjutkan sharing perjalananku di Türkiye.
Di hari kedua ini, aku akan meninggalkan hiruk pikuk Istanbul dan menuju Kota Bursa, salah satu kota yang memiliki jejak panjang Kesultanan Utsmaniyah. Tapi sebelum berangkat, tentu masih banyak pengalaman yang ingin aku bagikan.
Jadi, yuk ambil camilan atau minuman favorit kalian, duduk yang nyaman, lalu ikut berjalan bersamaku menikmati perjalanan hari ini.
Panorama 1453 Museum: Destinasi yang Akhirnya Kami Kunjungi
Pagi itu, alarm berbunyi sekitar pukul lima pagi. Aku perlahan membuka mata, sementara tour guide yang sekamar denganku masih tertidur pulas. Sebelum mandi, aku berjalan mendekati jendela kamar hotel dan membuka tirainya perlahan.
Di balik kaca, Kota Istanbul masih diselimuti gelapnya pagi. Lampu-lampu kota masih menyala, jalanan terlihat lengang, dan udara dingin seolah langsung menyapa begitu jendela sedikit terbuka. Suasananya begitu tenang. Rasanya seperti kota ini masih tertidur, menunggu matahari muncul untuk memulai aktivitasnya.
Aku berdiri beberapa saat menikmati pemandangan itu. Dalam hati rasanya masih sulit dipercaya.
"Ya Allah... aku benar-benar sedang berada di Istanbul."
Setelah puas menikmati suasana pagi, aku menutup kembali jendela lalu bersiap mandi. Ketika aku selesai mandi dan bersiap-siap, barulah tour guide bangun untuk bergantian menggunakan kamar mandi. Sementara menunggu, aku menunaikan shalat Subuh.
Di Istanbul saat itu, waktu Subuh masuk sekitar pukul 05.31.
Selesai shalat, aku mengambil Al-Qur'an kecil yang sengaja kubawa dari Indonesia. Aku membaca beberapa halaman sambil menikmati suasana kamar yang masih hening.
Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan. Beberapa bulan sebelumnya perjalanan ini hanyalah sebuah rencana. Kini aku benar-benar sedang duduk di sebuah hotel di Istanbul, mengawali pagi dengan membaca Al-Qur'an di negeri yang selama ini hanya kulihat lewat buku dan internet.
MasyaAllah... nikmat Allah memang selalu datang dengan cara yang tak pernah kita duga.
Tak lama kemudian kami bersiap menuju restoran hotel untuk sarapan.
Sebelum turun, aku menghubungi Bu Ren, Uti Atun, pasangan pengusaha muda, dan Ustadz Prima melalui WhatsApp agar semuanya bersiap-siap. Hari itu perjalanan kami cukup panjang, jadi kami ingin memulai hari dengan sarapan bersama.
Restoran hotel berada di lantai tiga.
Begitu pintu lift terbuka, aroma roti yang baru dipanggang langsung menyambut kami. Suasana restoran sudah cukup ramai. Beberapa tamu dari berbagai negara terlihat menikmati sarapan sambil berbincang santai.
Ruangan restorannya cukup luas dengan penataan yang rapi. Di satu sisi berjajar berbagai hidangan utama, sementara di sisi lainnya terdapat aneka roti, pastry, buah-buahan segar, dessert, serta minuman hangat dan dingin.
Pilihan makanannya juga beragam. Ada sandwich, roti panggang, kentang, sosis, telur, menemen hidangan khas Türkiye berupa telur yang dimasak bersama tomat dan paprika hingga berbagai jenis keju, zaitun, dan Turkish coffee yang aromanya begitu khas.
Setelah masing-masing mengambil makanan, kami berkumpul di satu meja panjang.
Seperti kebiasaan kami selama perjalanan ini, sebelum mulai makan tentu saja kami mengabadikan momen terlebih dahulu. Kami merekam video singkat untuk dikirimkan kepada keluarga di rumah agar mereka ikut merasakan suasana pagi kami di Istanbul.
Aku pun tak lupa mengambil beberapa foto untuk disimpan sebagai kenangan dan tentu saja diunggah ke Instagram Story. Rasanya sayang sekali kalau momen seindah ini enggak diabadikan hihihi.
Barulah setelah itu kami menikmati sarapan sambil mengobrol ringan, sesekali bercanda, dan saling berbagi cerita.
Selesai sarapan, kami langsung menuju lobi hotel.
Sambil menunggu driver datang, kami memanfaatkan waktu dengan berfoto bersama. Rasanya hampir setiap sudut hotel ingin kami abadikan.
Beberapa menit kemudian mobil yang akan mengantar kami pun tiba.
Hari itu perjalanan kami terasa sangat spesial.
Kami akan melakukan napak tilas sejarah Kesultanan Utsmaniyah menuju Kota Bursa.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan Istanbul, kami terlebih dahulu mengunjungi sebuah tempat yang kemarin sempat tertunda karena insiden hilangnya dompet Uti Atun, yaitu Panorama 1453 History Museum.
Begitu tiket masuk berada di tangan, kami melangkah masuk satu per satu.
Lantai pertama museum masih terasa seperti museum pada umumnya. Dinding-dindingnya dipenuhi foto, lukisan, miniatur, dan berbagai penjelasan mengenai proses panjang penaklukan Konstantinopel.
Kami berjalan perlahan membaca setiap informasi sebelum akhirnya menaiki lift menuju ruang utama museum.
Di sinilah pengalaman yang benar-benar membuatku terpukau dimulai.
Saat pintu lift terbuka, kami memasuki sebuah lorong yang pencahayaannya dibuat semakin redup. Langkah kaki otomatis melambat. Dinding kiri dan kanan dipenuhi miniatur serta kisah singkat perjalanan Sultan Mehmed II menuju penaklukan Konstantinopel.
Lorong itu terasa seperti pengantar menuju sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam.
Di ujung lorong, kami menaiki beberapa anak tangga.
Lalu...
Dalam sekejap, ruangan raksasa terbentang di hadapan kami
Aku spontan berhenti melangkah.
Rasanya seperti bukan sedang berada di dalam museum lagi.
Di sekeliling kami terbentang lukisan panorama 360 derajat yang menyelimuti seluruh dinding hingga kubah di atas kepala. Enggak ada bingkai. Enggak ada sudut ruangan yang terlihat.
Sejauh mata memandang, semuanya hanyalah medan peperangan.
Sulit sekali membedakan mana lukisan dan mana benda sungguhan.
Di bawah kaki kami terdapat replika meriam, batu-batu besar, pecahan kayu, dan tanah yang dibuat menyatu dengan lukisan di belakangnya. Efek tiga dimensinya begitu sempurna hingga otak benar-benar dibuat percaya bahwa kami sedang berdiri di tengah medan perang.
Ke mana pun memandang, selalu ada detail baru.
Ribuan prajurit.
Kuda-kuda yang sedang berlari.
Benteng Konstantinopel yang menjulang.
Bendera Kesultanan Utsmaniyah yang berkibar.
Konon terdapat sekitar 10.000 figur yang dilukiskan di ruangan ini.
Lalu perlahan suara mulai memenuhi ruangan.
Dentuman meriam menggema dari berbagai arah.
Derap kaki kuda terdengar semakin mendekat.
Teriakan para prajurit bersahut-sahutan.
Di sela-selanya, alunan musik, orkes militer Kesultanan Utsmaniyah, mengiringi seluruh suasana dengan irama yang gagah.
Pencahayaan di dalam ruangan dibuat menyerupai fajar tanggal 29 Mei 1453, hari ketika Konstantinopel berhasil ditaklukkan. Langit di kubah terlihat kebiruan dengan semburat jingga lembut, sementara cahaya memantul pada baju zirah para prajurit, asap mesiu, dan tembok kota yang mulai runtuh.Enggak ada layar digital yang mendominasi.
Yang membuat tempat ini terasa begitu hidup justru perpaduan antara lukisan raksasa, benda tiga dimensi, tata cahaya, dan efek suara.
Selama beberapa menit aku benar-benar lupa bahwa sebenarnya kami sedang berada di dalam sebuah gedung.
Rasanya seperti sedang menjadi saksi sejarah.
Bukan sekadar membaca kisah penaklukan Konstantinopel, tetapi benar-benar berdiri di tengah-tengahnya.
Tak terasa sekitar sepuluh menit berlalu dan pertunjukan panorama pun selesai.
Kami masih berdiri beberapa saat, menikmati suasana sebelum akhirnya berfoto bersama untuk mengabadikan momen yang luar biasa ini.
Perjalanan hari itu masih panjang.
Setelah meninggalkan museum, kami akhirnya benar-benar memulai perjalanan menuju Kota Bursa.
Dari Langit Istanbul Menuju Pelukan Bursa
Perjalanan menuju Bursa memerlukan waktu sekitar 2–3 jam, agar lebih cepat dan terhindar dari kemacetan, kami enggak hanya menggunakan mobil, tetapi juga menyeberang menggunakan ferry menuju sisi lain Teluk İzmit.
Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku naik mobil yang kemudian ikut menyeberang menggunakan ferry. Selama tinggal di Indonesia, aku belum pernah merasakan pengalaman seperti ini. Awalnya aku penasaran, ternyata mobil-mobil diparkir rapi di dalam lambung kapal, sementara seluruh penumpang naik ke dek atas untuk menikmati perjalanan.
Begitu sampai di atas kapal, kami memilih duduk di restoran sambil memesan minuman hangat. Secangkir teh di tangan, semilir angin laut yang sesekali menyapa wajah, dan hamparan laut yang membentang luas membuat suasana terasa begitu menenangkan. Setelah itu kami berjalan mengelilingi kapal, menikmati pemandangan dari berbagai sisi, mengabadikan momen lewat foto dan video, lalu sesekali hanya berdiri diam menikmati perjalanan. Rasanya benar-benar menyenangkan.
Saking asyiknya menikmati suasana, tanpa terasa kapal kami sudah hampir merapat di Kota Bursa. Kami pun kembali ke area parkir kendaraan untuk melanjutkan perjalanan darat menuju destinasi berikutnya.
Setibanya di Bursa, kami berhenti sejenak untuk makan siang di restoran Köfteci Yusuf. Menu yang disajikan cukup sederhana, tetapi sangat memanjakan perut yang sejak pagi diajak berkeliling. Ada sayap ayam panggang khas Türkiye yang disajikan bersama roti lavaş, nasi pilav, salad segar, dan kentang goreng. Daging ayamnya empuk dengan bumbu yang meresap, sementara roti lavaş yang hangat menjadi pasangan yang sempurna. Hmmm... rasanya enak, hangat, dan tentu saja mengenyangkan.
Salah satu produk yang paling banyak menarik perhatian adalah minyak zaitun murni (extra virgin olive oil) yang berasal dari perkebunan di sekitar Bursa dan kawasan Aegea. Selain itu, tersedia pula berbagai teh herbal, rempah-rempah, madu alami, sabun zaitun, hingga aneka produk herbal tradisional.
Yang membuat pengalaman berbelanja di sini semakin menyenangkan adalah keramahan para penjualnya. Mereka dengan sabar menjelaskan manfaat setiap produk, bahkan mempersilakan kami mencicipi beberapa di antaranya sebelum membeli. Setelah cukup berkeliling, aku memutuskan membawa pulang minyak zaitun dan kopi khas Türkiye sebagai oleh-oleh. Sementara itu, saat sedang mengantre di kasir, kulihat Uti Atun membeli cukup banyak produk. Pasangan pengusaha muda yang ikut dalam rombongan kami bahkan memborong beberapa barang sekaligus.
Menurutku, Bursa Bazaar menjadi tempat yang tepat untuk mencari buah tangan khas Türkiye yang autentik sekaligus mengenal lebih dekat produk-produk lokal masyarakat setempat.
Destinasi berikutnya adalah İnkaya Çınarı, pohon sycamore raksasa yang telah berdiri selama ratusan tahun dan menjadi salah satu ikon Kota Bursa.
Begitu tiba di sana, kami langsung dibuat takjub. Batangnya begitu besar hingga dibutuhkan beberapa orang dewasa yang saling bergandengan tangan untuk mengelilinginya. Cabang-cabangnya menjulur ke berbagai arah, membentuk kanopi hijau yang menaungi hampir seluruh area di bawahnya.
Saat berdiri tepat di samping batang pohon itu, aku benar-benar merasakan betapa kecilnya diri ini dibandingkan makhluk hidup yang telah melewati begitu banyak musim dan menyaksikan perjalanan sejarah selama berabad-abad. Setiap lekukan batang dan cabangnya seolah menyimpan kisah panjang tentang Bursa dari masa ke masa. Tak heran jika banyak wisatawan datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga menikmati ketenangan yang diberikan tempat ini. Kami pun tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen bersama.
Semilir angin pegunungan membuat dedaunan bergemerisik pelan, sementara sinar matahari menembus sela-sela daun dan menciptakan bayangan yang menari di atas tanah. Di bawah rindangnya pohon, tersedia meja dan kursi kayu yang menghadap ke alam terbuka. Di sanalah kami menikmati secangkir teh Türkiye hangat ditemani aneka buah segar seperti apel, anggur, strawberry, jeruk, dan beberapa jenis buah lainnya. Rasanya sederhana, tetapi justru menjadi salah satu momen paling menenangkan selama perjalanan di Bursa.
Setelah menikmati suasana yang sejuk, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju salah satu tempat yang paling bersejarah di kota ini, yaitu makam Osman Gazi dan Orhan Gazi.
Tour guide kami menjelaskan bahwa Osman Gazi merupakan pendiri Kesultanan Utsmaniyah sekitar tahun 1299. Dari sebuah wilayah kecil di Anatolia bagian barat, beliau berhasil membangun fondasi kerajaan yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Bahkan nama "Ottoman" dalam bahasa Inggris berasal dari pengucapan nama "Osman".
Meski enggak sempat menyaksikan sepenuhnya penaklukan Bursa, kota tersebut berhasil direbut menjelang akhir hayatnya dan kemudian dijadikan ibu kota pertama Kesultanan Utsmaniyah.
Sementara itu, Orhan Gazi, putra sekaligus penerus Osman Gazi, melanjutkan perjuangan ayahnya dengan menjadikan Bursa sebagai ibu kota pertama Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1326. Di masa pemerintahannya, sistem pemerintahan mulai ditata dengan lebih teratur, pasukan tetap mulai dibentuk sebagai cikal bakal militer Utsmaniyah, dan wilayah kekuasaan diperluas hingga memasuki kawasan Balkan di Eropa.
Karena jasa besar keduanya dalam membangun dan membesarkan Kesultanan Utsmaniyah, makam mereka ditempatkan di Bursa sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendiri kerajaan.
Hal menarik lainnya yang kami temui adalah keberadaan prajurit penjaga kehormatan (honor guard) yang berjaga di area makam. Mereka mengenakan seragam bergaya Ottoman lengkap dengan sikap yang tegap dan penuh wibawa. Kehadiran mereka bukan sekadar menjadi daya tarik wisata, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan negara terhadap warisan sejarah Türkiye sekaligus menjaga ketertiban di kawasan bersejarah tersebut.
Kami sempat berfoto bersama para penjaga, tentu saja tanpa mengganggu tugas mereka. Pada waktu-waktu tertentu bahkan dilakukan prosesi pergantian penjaga yang berlangsung dengan sangat khidmat.
Selain berziarah ke makam, kawasan ini juga menawarkan suasana yang damai. Arsitektur khas Ottoman berpadu dengan taman yang tertata rapi membuat siapa pun betah berlama-lama di sini. Dari kawasan Tophane Park, kami juga dapat menikmati panorama Kota Bursa dari ketinggian.
Saat itu hujan rintik-rintik mulai turun. Udara yang memang sudah dingin terasa semakin sejuk, menghadirkan suasana yang begitu syahdu. Meski harus mengenakan payung, kami tetap bersemangat membuat video di depan tulisan besar "BURSA" dan menikmati pemandangan kota dari Bukit Tophane.
MasyaAllah, pemandangan dari atas bukit benar-benar indah. Atap-atap rumah memenuhi lembah, sementara langit yang masih menyisakan gerimis menghadiahkan dua pelangi yang muncul berdampingan. Rasanya seperti hadiah kecil setelah seharian berkeliling menikmati keindahan Bursa. Tentu saja, momen langka itu enggak kami lewatkan begitu saja. Kami segera mengabadikannya lewat foto dan video.
Sebelum meninggalkan kawasan Tophane, kami masih menyempatkan diri berjalan santai menikmati suasana sekitar. Di sana berdiri Tophane Clock Tower, menara jam bersejarah yang menjadi salah satu ikon Kota Bursa. Meski sederhana, bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang kota yang pernah menjadi ibu kota pertama Kesultanan Utsmaniyah.
Setelah puas menjelajahi berbagai sudut Kota Bursa, kami melanjutkan perjalanan menuju Bursa Grand Mosque (Ulu Camii) untuk menunaikan sholat Jamak Takhir Qasar. Sejak memasuki kawasan masjid, suasana terasa perlahan berubah. Hiruk-pikuk jalanan Bursa yang sebelumnya ramai seakan tertinggal di belakang, berganti dengan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Begitu tiba di halaman masjid, pandanganku langsung tertuju pada bangunan megah yang berdiri anggun di hadapan kami. Cahaya matahari sore memantul lembut di atas lantai batu yang luas, sementara beberapa burung kecil sesekali melintas di antara kubah-kubah besar yang menjulang. Entah mengapa, bahkan sebelum melangkah masuk, hati ini sudah terasa lebih damai.
Sebelum menunaikan shalat, kami menuju area wudu yang berada di bawah tanah. Kami menuruni beberapa anak tangga, dan seketika udara berubah menjadi lebih sejuk. Gemericik air dari keran-keran wudu terdengar begitu jelas, mengisi ruangan batu yang tenang dengan irama yang menenangkan. Cahaya matahari masuk melalui bukaan di atas, menciptakan pantulan indah pada setiap tetes air yang mengalir.
Orang-orang duduk berjajar dengan tenang, membasuh wajah, tangan, dan kaki tanpa tergesa-gesa. Tidak terdengar percakapan yang keras, hanya suara air yang mengalir dan langkah kaki yang sesekali menggema di ruangan itu. Rasanya seperti sedang meninggalkan hiruk-pikuk dunia luar untuk memasuki ruang yang mengajak hati ikut tenang.
Setelah selesai berwudu, kami kembali menaiki tangga dan melangkah menuju pintu utama masjid. Begitu melewati ambang pintu, suasananya benar-benar berbeda. Udara di dalam terasa lebih teduh, sementara suara dari luar seolah menghilang begitu saja.
Ruang utama Ulu Camii terbentang sangat luas. Puluhan pilar besar berdiri kokoh menopang dua puluh kubah yang berjajar rapi di atas kepala. Karpet hijau tua membentang tanpa putus, menghadirkan rasa hangat sekaligus menuntun langkah setiap jamaah yang datang.
Aku memilih tempat di salah satu bagian tengah masjid, lalu berdiri untuk memulai shalat. Ketika takbir pertama kuucapkan dalam hati, semuanya terasa begitu hening. Bukan hening yang kosong, melainkan keheningan yang hidup, yang membuat hati perlahan ikut menjadi lebih tenang..
Saat sujud, aku merasakan ketenangan yang begitu dalam. Bukan hanya dahi yang menyentuh lantai, tetapi hati pun seolah ikut merendah di hadapan Allah. Rasanya sulit dijelaskan, tetapi suasana di dalam masjid ini membuat ibadah terasa begitu khusyuk.
Usai salam, enggak ada yang langsung beranjak. Sebagian jamaah tetap duduk sambil berzikir, sebagian lagi hanya terdiam menikmati ketenangan yang masih menyelimuti ruangan. Aku pun memilih duduk sejenak, menikmati momen yang rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja.
Aku memperhatikan bagaimana cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, perlahan bergeser mengikuti waktu. Tepat di tengah ruangan terdapat sebuah kolam kecil yang memantulkan cahaya ke langit-langit masjid. Gemericik airnya terdengar lembut, berpadu dengan suasana hening yang memenuhi seluruh ruangan.
Beberapa menit kemudian, tour guide mengajak kami berkumpul di dekat kolam kecil yang berada di tengah masjid. Beliau menjelaskan bahwa kolam tersebut disebut şadırvan, yaitu tempat wudu yang berada di dalam ruang utama masjid. Keberadaan şadırvan seperti ini sangat jarang dijumpai dalam arsitektur masjid Islam.
Beliau kemudian bercerita bahwa Ulu Camii dibangun pada tahun 1396–1399 atas perintah Sultan Bayezid I setelah kemenangan besar dalam Pertempuran Nicopolis. Sejak awal, masjid ini memang dirancang dengan konsep yang berbeda dari masjid-masjid sebelumnya.
Ternyata kolam yang berada di tengah masjid bukanlah tambahan di kemudian hari, melainkan memang menjadi bagian dari desain aslinya. Pada masa itu, belum semua masjid memiliki halaman luas ataupun area wudu yang terpisah. Karena itulah, keberadaan şadırvan di dalam ruang utama memudahkan para jamaah untuk berwudu, terutama saat musim dingin melanda Bursa.
Ada satu cerita lain yang cukup menarik perhatian kami. Tour guide mengatakan bahwa masyarakat setempat juga mengenal sebuah folklore yang diwariskan turun-temurun. Konon, saat pembangunan masjid berlangsung, terdapat seorang pemilik tanah non-Muslim yang enggak rela seluruh lahannya digunakan sebagai tempat shalat. Ia akhirnya mengizinkan pembangunan masjid dengan satu syarat, yaitu ada bagian tertentu yang enggak boleh digunakan untuk shalat. Sebagai bentuk penghormatan terhadap permintaannya, area tersebut kemudian dijadikan kolam air atau şadırvan yang hingga kini masih berada di tengah masjid.
Entah benar atau enggak kisah tersebut, karena memang termasuk cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun mendengarnya membuatku semakin menyadari bahwa sebuah bangunan bersejarah sering kali enggak hanya menyimpan fakta sejarah, tetapi juga kisah-kisah yang hidup di tengah masyarakat selama ratusan tahun.
Tak terasa langit mulai berubah jingga. Hari perlahan beranjak malam, dan sudah saatnya kami meninggalkan Ulu Camii. Dengan langkah yang masih terasa ringan karena hati yang damai, kami kembali menuju hotel.
Sesampainya di hotel, rasa lelah mulai terasa setelah seharian berkeliling Kota Bursa. Malam itu kami memilih memesan makanan melalui layanan antar dan menikmatinya bersama di kamar hotel. Sederhana memang, tetapi justru menjadi penutup yang hangat setelah seharian dipenuhi begitu banyak pengalaman, sejarah, dan keindahan yang akan selalu kami kenang.
Setelah makan malam, aku mulai membereskan barang-barang. Malam itu menjadi malam terakhir kami di Türkiye karena keesokan harinya kami akan melanjutkan perjalanan menuju Jeddah. Satu per satu pakaian, oleh-oleh, dan barang-barang yang sempat dikeluarkan kembali kususun rapi ke dalam koper.
Keesokan paginya, setelah menunaikan shalat Subuh, kami segera turun untuk sarapan. Suasana restoran hotel masih cukup tenang. Kami menikmati sarapan sambil sesekali saling mengingatkan agar enggak ada barang yang tertinggal. Selesai makan, kami kembali ke kamar untuk mengambil koper, lalu berkumpul di lobi hotel.
Di lobi, seluruh koper dihitung satu per satu untuk memastikan semuanya sudah lengkap. Setelah dipastikan enggak ada yang tertinggal, kami pun berangkat menuju Bandara Sabiha Gökçen.
Sedikit informasi, Istanbul memiliki dua bandara internasional. Yang pertama adalah Bandara Istanbul di kawasan Eropa, sedangkan yang kedua adalah Bandara Sabiha Gökçen yang berada di kawasan Asia. Dari hotel tempat kami menginap, perjalanan menuju Bandara Sabiha memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam, tergantung kondisi lalu lintas.
Selama perjalanan menuju bandara, suasana di dalam mobil terasa sedikit berbeda. Tour guide kami menyampaikan bahwa beliau hanya dapat mengantar sampai area keberangkatan bandara. Pak Ustadz Prima juga memberi tahu bahwa beliau enggak akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah karena harus kembali ke Indonesia. Sebelum berpisah, beliau menunjuk Paul sebagai group coordinator yang akan mendampingi rombongan selama perjalanan menuju Jeddah.
Tak terasa, kami pun tiba di bandara. Setelah menyelesaikan proses check-in dan menyerahkan koper bagasi, tibalah saatnya berpamitan. Satu per satu kami menyalami Pak Ustadz Prima dan tour guide. Tour guide bahkan memeluk kami satu per satu dengan hangat. Kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan, perhatian, dan cerita yang telah menemani perjalanan kami selama berada di Türkiye.
Rasanya ada sedikit haru saat harus berpisah. Beberapa hari bersama ternyata cukup untuk menghadirkan banyak kenangan yang akan selalu kami ingat.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju area pemeriksaan keamanan. Satu per satu anggota rombongan berhasil melewati security check. Namun, ketika hendak menuju ruang tunggu, tiba-tiba Paul bertanya kepada Firda mengenai boarding passnya.
Firda tampak kebingungan.
"Boarding pass mu enggak ada di aku."
Seketika suasana berubah menjadi tegang.
Ya Allah... ternyata boarding pass Paul hilang setelah melewati pemeriksaan keamanan.
Paul dan Firda meminta kami untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju ruang tunggu, sementara mereka mencoba kembali menyusuri jalur yang baru saja dilewati untuk mencari boarding pass tersebut. Namun, kami semua sepakat untuk tetap menunggu di sekitar area security check. Rasanya tidak tenang jika harus meninggalkan mereka dalam keadaan seperti itu.
Aku pun segera mengirim wa kepada tour guide untuk mengabarkan bahwa boarding pass Paul hilang.
Beberapa menit kemudian, dari kejauhan kulihat Paul dan Firda berjalan kembali dengan wajah yang jauh lebih lega.
Alhamdulillah... boarding pass itu akhirnya ditemukan.
Ternyata boarding pass tersebut tertinggal di salah satu keranjang pemeriksaan keamanan (security tray). Kami semua spontan mengucapkan syukur. Rasanya benar-benar lega. Bayangan buruk yang sempat muncul perlahan menghilang. Syukurlah perjalanan kami masih bisa dilanjutkan bersama tanpa ada kendala lagi.
Sebelum menuju ruang tunggu, kami mampir terlebih dahulu ke musala bandara untuk menunaikan shalat Jamak Taqdim Qasar. Setelah itu barulah kami berjalan menuju area boarding gate.
Suasana ruang tunggu cukup ramai. Banyak calon penumpang duduk sambil menunggu panggilan naik pesawat. Aku memanfaatkan waktu dengan memotret boarding pass dan paspor sebagai dokumentasi perjalanan. Sambil menikmati sepotong roti, aku memperhatikan teman-teman yang duduk di sekitarku.
Firda dan Paul kembali bercanda seolah insiden beberapa menit sebelumnya tidak pernah terjadi. Uti Atun tampak mulai mengantuk dan beberapa kali memejamkan mata. Sementara itu, Ibu Ren terlihat sibuk memainkan ponselnya, mungkin sedang menghubungi keluarga di Indonesia.
Tanpa terasa rotiku sudah habis. Aku pun berdiri untuk membuang bungkusnya ke tempat sampah. Tepat setelah kembali, terdengar suara pengumuman dari pengeras suara bandara.
Aku mencoba mendengarkannya dengan saksama.
Ternyata itu adalah pengumuman boarding untuk penerbangan kami menuju Jeddah.
Aku segera menghampiri teman-teman dan memberi tahu bahwa proses boarding sudah dimulai. Kami pun bergegas menuju antrean pemeriksaan boarding pass.
Saat mengantre, perhatianku tertuju pada banyak pria yang sudah mengenakan kain ihram. Dalam hati aku tersenyum.
"Mungkin setelah mendarat nanti mereka akan langsung menuju Makkah."
Pemandangan itu membuatku semakin menyadari bahwa perjalanan kami kini benar-benar memasuki babak berikutnya. Perjalanan wisata di Türkiye telah usai, dan sebentar lagi perjalanan ibadah menuju Tanah Suci akan dimulai.
Satu per satu penumpang mulai berjalan menuju pesawat. Kini tibalah giliran rombongan kami. Alhamdulillah, proses pemeriksaan boarding pass berjalan lancar, dan kami pun melangkahkan kaki menuju pesawat.
Di dalam kabin, Firda dan Paul duduk di deretan kiri bersama Uti Atun. Sementara aku duduk di deretan kanan bersama Ibu Ren dan seorang penumpang lain yang belum datang.
Saat akhirnya duduk di kursi pesawat, aku mengembuskan napas panjang.
Alhamdulillah...
Kami benar-benar akan terbang menuju Jeddah.
Peristiwa hilangnya boarding pass Paul beberapa saat sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi kami. Untungnya kami tiba di bandara sekitar tiga jam sebelum jadwal keberangkatan. Waktu yang cukup panjang itu memberi kami kesempatan untuk mencari boarding pass yang hilang, menunaikan shalat, serta makan dengan tenang tanpa harus terburu-buru.
Sambil menatap keluar jendela pesawat, hatiku dipenuhi rasa syukur. Selama beberapa hari di Türkiye, Allah telah begitu banyak menjaga, memudahkan, dan mempertemukan kami dengan begitu banyak pengalaman indah. Dalam hati aku terus berdoa, "Ya Allah, terima kasih telah membersamai setiap langkah perjalanan kami di Türkiye. Semoga Engkau kembali memberikan kemudahan, keselamatan, dan kelancaran dalam perjalanan kami menuju Jeddah. Aamiin."


Tidak ada komentar:
Posting Komentar