Assalamualaikum, hello semuanya 🤍
Gimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu sehat dan penuh kebahagiaan yap.
Pekan lalu aku sempat berbagi pengalaman tentang hari pertama di Madinah. Kali ini, aku ingin melanjutkan berbagi pengalaman di hari kedua hingga hari terakhir. Jujur, semakin lama berada di Madinah, semakin sulit rasanya menggambarkan dengan kata-kata betapa damai, indah, dan menenangkannya kota ini.
Di hari pertama, kami sudah merasakan betapa damainya suasana Madinah. Mulai dari shalat tahajud dan shalat lima waktu di Masjid Nabawi, hingga berziarah ke beberapa masjid bersejarah di sekitar Masjid Nabawi. Rasanya seperti hati benar-benar diberi waktu untuk beristirahat dari segala urusan dunia.
Lalu, bagaimana perjalanan di hari kedua sampai hari terakhir? Pengalaman apa saja yang aku dan rombonganku rasakan, dan momen apa yang paling membekas di hati? Yuk, lanjut baca tulisan perjalananku di bawah ini. Semoga lewat tulisan ini, kalian juga bisa ikut merasakan hangat dan damainya suasana Madinah, dan hati kalian terketuk untuk melakukan perjalanan umroh, bahkan haji. Aamiin.
Di tengah heningnya malam, suara lembut Uti perlahan membangunkan tidurku.
"Tanty... bangun yuk, kita shalat tahajud sama subuh di Masjid Nabawi"
Dengan mata yang masih ngantuk dan setengah sadar, kuraih ponsel yang tergeletak di samping bantal. Begitu layar menyala, cahayanya langsung menerangi wajahku. Jam di layar menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
Aku menarik nafas pelan sambil berusaha mengusir sisa kantuk. Pandanganku kemudian tertuju ke arah jendela. Di luar, Madinah masih diselimuti keheningan. Langitnya gelap, udara dini hari terasa sejuk, dan suasananya begitu damai hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Saat menoleh ke samping, kulihat Firda masih tidur nyenyak. Sepertinya ia masih kelelahan setelah semalam menikmati suasana Madinah bersama suaminya. Aku pun tersenyum kecil, membiarkannya tertidur nyenyak.
Meski mata masih terasa ngantuk, semangat untuk kembali melangkahkan kaki ke Masjid Nabawi mengalahkan rasa kantuk itu. Aku segera mandi, lalu bersiap bersama Uti dan Bu Ren. Rasanya sayang sekali jika harus melewatkan kesempatan menikmati tahajud dan Subuh di Masjid Nabawi. Momen seperti ini belum tentu bisa terulang lagi, sehingga aku ingin memanfaatkan setiap detiknya selama berada di kota yang begitu mulia ini.
Tak lama kemudian, kami pun melangkah keluar dari hotel.
Udara dini hari menyambut kami dengan kesejukan yang begitu menenangkan. Sepanjang perjalanan menuju Masjid Nabawi, kami berpapasan dengan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Ada yang berjalan bersama keluarga, ada yang menggenggam tasbih sambil berdzikir, ada pula yang melangkah cepat agar enggak tertinggal waktu tahajud.
Masya Allah... meski waktu masih menunjukkan dini hari, jalanan menuju Masjid Nabawi sudah dipenuhi manusia yang memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah.
Sesampainya di Masjid Nabawi, pelatarannya telah dipenuhi ribuan jamaah. Pemandangan itu selalu berhasil membuatku terpukau. Barisan saf laki-laki dan perempuan tertata begitu rapi. Sebagian masih khusyuk menunaikan shalat tahajud, sebagian lainnya larut membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ada pula yang duduk diam dengan kedua tangan menengadah, memanjatkan doa-doa terbaiknya dalam keheningan menjelang fajar.
Melihat pemandangan itu, aku kembali teringat bahwa setiap orang datang membawa cerita, harapan, dan doa yang berbeda-beda. Namun, di tempat yang mulia ini, kami semua berdiri menghadap Rabb yang sama.
Pagi itu, aku, Uti Atun, dan Bu Ren memutuskan untuk melaksanakan shalat di dalam Masjid Nabawi. Entah kenapa, setiap kali melangkahkan kaki memasuki masjid ini, selalu ada perasaan yang sulit dijelaskan. Hati terasa jauh lebih tenang, pikiran menjadi ringan, seolah semua kegelisahan perlahan luruh. Rasanya ingin berlama-lama duduk di sana, menikmati setiap detik dalam suasana yang begitu damai.
Seperti biasanya, sebelum mencari saf untuk shalat, aku selalu menyempatkan diri meminum segelas air zamzam. Airnya terasa begitu menyegarkan. Setelah itu, aku mengisi botol minum hingga penuh sebagai persediaan untuk diminum nanti saat kembali ke hotel.
Tak lama kemudian, azan Subuh pertama berkumandang, menggema lembut di seluruh penjuru masjid. Kami pun menunaikan shalat tahajud dan witir. Seusai berdoa, aku membuka Al-Qur'an dan mengisi waktu dengan tilawah sambil menunggu azan Subuh kedua.
Oh iya, mungkin belum banyak yang tahu, azan Subuh di Masjid Nabawi memang dikumandangkan dua kali. Azan pertama dilantunkan sekitar satu jam sebelum waktu Subuh benar-benar tiba. Tujuannya adalah mengingatkan orang-orang yang sedang melaksanakan qiyamul lail bahwa waktu Subuh sudah semakin dekat. Bagi yang sedang berpuasa, azan pertama juga menjadi penanda agar segera menyelesaikan sahur sebelum masuk waktu Subuh. Sementara itu, azan kedua dikumandangkan tepat ketika waktu Subuh telah masuk. Azan inilah yang menjadi tanda dimulainya shalat Subuh sekaligus batas akhir waktu sahur.
Suasana pagi itu terasa begitu syahdu. Udara dini hari yang sejuk berpadu dengan ketenangan Masjid Nabawi membuat siapa pun merasa nyaman berada di dalamnya. Aku masih memegang Al-Qur'an di pangkuan, tetapi tanpa kusadari, rasa kantuk perlahan datang. Kelopak mataku terasa semakin berat hingga akhirnya aku tertidur sejenak dalam posisi duduk.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan sentuhan lembut di lenganku.
"Tanty... sudah azan Subuh"
Aku membuka mata perlahan. Rupanya Bu Ren yang membangunkanku. Dengan sedikit malu karena sempat tertidur, aku segera merapikan mukena dan bersiap menunggu iqamah. Tak lama berselang, iqamah pun berkumandang. Seluruh jamaah berdiri, merapatkan saf dengan rapi. Dalam suasana yang begitu khusyuk, kami pun menunaikan shalat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi, mengawali pagi dengan hati yang penuh syukur dan ketenangan.
Seperti biasanya, setelah shalat Subuh selesai, imam memimpin shalat jenazah. Ribuan jamaah mengangkat tangan, mengiringi saudara-saudara Muslim yang telah lebih dulu dipanggil Allah dengan doa-doa terbaik. Meski enggak saling mengenal, rasanya ada ikatan yang begitu kuat di antara sesama Muslim. Kami sama-sama memohon agar Allah melimpahkan rahmat dan ampunan bagi mereka.
Setelah itu, kami enggak langsung kembali ke hotel. Kami memilih ke pelataran masjid untuk duduk sejenak menikmati suasana pagi di Masjid Nabawi. Cahaya matahari perlahan mulai menyinari pelataran masjid, sementara para jamaah masih ada yang membaca Al-Qur'an, berdzikir, atau sekadar duduk menikmati ketenangan pagi. Rasanya damai sekali. Hati terasa ringan, seolah semua penat perlahan menghilang.
Setelah suasana mulai terang, kami pun berjalan santai kembali ke hotel.
Sesampainya di kamar, kulihat Firda sudah selesai berdandan. Ia tampak bersiap bertemu Paul untuk sarapan bersama.
Hihihi... maklum, pengantin baru. Ke mana-mana selalu berdua.
Sementara itu, aku, Uti Atun, dan Bu Ren merapikan barang-barang yang akan dibawa untuk ziarah mengelilingi Kota Madinah hari ini. Setelah semuanya siap, kami pun turun ke restoran untuk sarapan.
Begitu memasuki restoran, suasananya sudah ramai dipenuhi jamaah. Aroma makanan hangat langsung menyambut kami.
Menu pagi itu juga cukup beragam. Ada nasi kebuli, ayam goreng, sosis, bihun, sayur bening, aneka roti lengkap dengan selai, salad, hingga berbagai macam sambal. Minumannya pun lengkap, mulai dari teh hangat, kopi, jus jeruk, sampai air mineral.
Aku, Uti Atun, dan Bu Ren duduk di satu meja sambil menikmati sarapan.
Tiba-tiba Uti Atun menatap piringnya sambil berkata,
"Tan, kok makanan hari ini rasanya kurang enak ya?"
Aku yang sedang menikmati nasi kebuli langsung menoleh sambil tersenyum.
"Masa, Uti? Menurutku enak-enak aja"
Uti hanya tertawa kecil.
"Enggak tahu ni ... Hari ini rasanya beda aja"
Percakapan sederhana seperti itu justru membuat suasana sarapan terasa hangat. Kami pun menghabiskan makanan sambil sesekali mengobrol sebelum memulai perjalanan hari itu.
Selesai sarapan, seluruh jamaah berkumpul di lobi hotel. Hari itu kami akan mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Madinah, yaitu Masjid Quba, Jabal Uhud, dan Kebun Kurma.
Setelah semua jamaah hadir, kami naik ke dalam bus. Seperti biasa, mutawif lebih dulu memanggil nama kami satu per satu untuk memastikan enggak ada yang tertinggal di hotel. Setelah semuanya lengkap dan masing-masing sudah mendapat snack, roti, dan air mineral, bus pun perlahan meninggalkan halaman hotel menuju destinasi pertama, yaitu Masjid Quba.
Sepanjang perjalanan, mutawif memimpin doa safar, memohon keselamatan selama perjalanan. Setelah itu, beliau mulai bercerita tentang sejarah Kota Madinah dan kisah perjuangan Rasulullah. Perjalanan terasa bermakna karena setiap tempat yang kami lewati ternyata menyimpan sejarah Islam yang luar biasa.
Tak lama kemudian, sampailah kami di Masjid Quba.
Begitu turun dari bus, pandanganku langsung tertuju pada bangunan masjid yang megah dengan menara putihnya yang begitu ikonik.
Di halaman masjid, mutawif menjelaskan bahwa Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah ketika beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau juga menyampaikan sebuah hadis bahwa orang yang bersuci dari rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan melaksanakan shalat dua rakaat, akan memperoleh pahala seperti melaksanakan umrah. Masya Allah... mendengar penjelasan itu membuatku semakin bersemangat untuk segera masuk ke dalam masjid.
Namun sebelum itu, seperti kebanyakan jamaah lainnya, kami menyempatkan diri berfoto di halaman depan masjid. Bukan sekadar untuk diunggah ke media sosial, tetapi sebagai kenang-kenangan. Siapa tahu suatu hari nanti, saat rasa rindu kepada Madinah datang, foto-foto itulah yang bisa membawa kami kembali mengingat setiap momen indah di kota ini.
Setelah berfoto, kami berwudu, lalu masuk ke dalam masjid untuk menunaikan shalat dua rakaat. Seusai shalat, kami memanjatkan doa beberapa saat sebelum akhirnya kembali menuju bus.
Setelah seluruh jamaah berkumpul kembali dan absensi selesai dilakukan, perjalanan dilanjutkan menuju Jabal Uhud.
Di dalam bus, mutawif kembali memimpin doa safar, lalu mulai menceritakan sejarah Jabal Uhud.
Beliau menjelaskan bahwa kata jabal dalam bahasa Arab berarti gunung, sedangkan Uhud bermakna satu atau menyendiri. Saat melihatnya secara langsung, aku baru memahami maksud penjelasan itu. Gunung Uhud memang tampak seperti rangkaian bukit yang menyatu membentuk satu bentangan panjang. Namun Jabal Uhud bukan hanya sebuah gunung, tempat ini adalah saksi bisu perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam Perang Uhud, salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam. Dalam perang tersebut, sekitar 70 sahabat gugur sebagai syuhada. Banyak sahabat terluka, bahkan Rasulullah sendiri mengalami luka hingga darah mengalir dari wajah beliau.
Mendengar kisah itu membuat suasana bus mendadak hening. Aku membayangkan bagaimana beratnya perjuangan Rasulullah dan para sahabat mempertahankan agama yang kini bisa kami pelajari dan amalkan dengan tenang.
Sesampainya di Jabal Uhud, terik matahari langsung menyambut kami. Mutawif kemudian menunjukkan beberapa titik penting, termasuk area makam para syuhada yang sebelumnya telah beliau ceritakan selama perjalanan.
Di tengah teriknya cuaca, tiba-tiba dua orang bapak datang membawa beberapa dus air mineral. Dengan ramah, beliau mempersilakan kami mengambil air minum secara gratis. Meski kami enggak memahami seluruh ucapan beliau dalam bahasa Arab, gesturnya begitu hangat. Seolah beliau berkata, "Silakan diminum... cuacanya panas"
Masya Allah, momen sederhana itu benar-benar menyentuh hatiku. Di Madinah, berbagi air minum kepada para jamaah ternyata menjadi salah satu bentuk sedekah yang sering dilakukan masyarakat setempat.
Setelah menikmati air mineral yang terasa begitu menyegarkan, kami kembali mendengarkan penjelasan dari mutawif. Kami kemudian bersama-sama mengirimkan doa untuk Sayyidina Hamzah, Abdullah bin Jahsy, dan para syuhada Perang Uhud.
Suasana di tempat itu membuatku kembali merenung. Sulit membayangkan bagaimana besarnya perjuangan Rasulullah dan para sahabat demi mempertahankan Islam. Rasanya, setiap sudut Jabal Uhud menyimpan kisah perjuangan yang begitu dalam.
Sebelum beranjak, kami menyempatkan diri mengabadikan momen bersama. Setelah seluruh jamaah dipastikan sudah berkumpul, kami pun kembali naik ke bus dan melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya, yaitu Kebun Kurma.
Perjalanan menuju Kebun Kurma ternyata enggak memakan waktu lama, hanya beberapa menit saja. Sepanjang jalan, aku membayangkan kami akan diajak melihat hamparan pohon-pohon kurma yang tumbuh di kebun.
Ternyata dugaanku meleset.
Begitu bus berhenti, kami justru diarahkan memasuki sebuah bangunan di sisi jalan. Saat pintunya terbuka, ternyata bangunan itu adalah sebuah toko oleh-oleh yang cukup besar. Rak-rak dan box kacanya dipenuhi aneka kurma, madu, kismis, kacang, cokelat, hingga air zamzam. Aroma khas kurma langsung tercium begitu kami masuk.
Di sana tersedia berbagai jenis kurma, mulai dari kurma Ajwa, Sukari, Tunisia, hingga Mesir. Menariknya, para penjual ternyata fasih berbahasa Indonesia. Mereka menjelaskan satu per satu perbedaan, rasa, dan keunggulan setiap jenis kurma dengan sangat ramah. Kami bahkan dipersilakan mencicipi beberapa jenis kurma sebelum memutuskan untuk membeli.
Setelah mencoba beberapa jenis, hatiku akhirnya mantap memilih kurma Ajwa. Aku membeli tiga kotak ukuran satu kilogram untuk dijadikan oleh-oleh bagi keluarga dan teman-teman.
Memang harganya sedikit lebih mahal dibandingkan jenis kurma lainnya, tetapi menurutku rasanya paling pas. Manisnya enggak berlebihan, teksturnya lembut, dan yang paling aku suka enggak terlalu lengket saat dimakan.
Setelah selesai membayar menggunakan uang riyal yang sudah kubawa dari Indonesia, aku berjalan santai mengelilingi toko. Sesekali aku melihat jamaah lain sibuk memilih oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat di tanah air. Ada yang membawa keranjang penuh kurma, ada pula yang asyik membandingkan harga madu dan kismis.
Di tengah berkeliling, aku bertemu Bu Ren.
Hihi... maklum, begitu masuk toko kami langsung berpencar sendiri-sendiri mencari oleh-oleh.
Selagi masih ada waktu sebelum kembali ke bus, aku, Bu Ren, dan Uti Atun memilih duduk di kursi yang tersedia sambil mengobrol ringan dan menunggu jamaah lainnya selesai berbelanja.
Saat sedang asyik berbincang, salah seorang penjual menghampiri kami sambil tersenyum
"Silakan ambil air mineral di kulkas, gratis"
Masya Allah...
Rasanya seperti mendapat rezeki kecil yang datang di waktu yang tepat. Cuaca Madinah siang itu cukup terik, sementara botol minumku tertinggal di dalam bus. Sebotol air dingin sederhana terasa begitu menyegarkan. Aku kembali dibuat kagum dengan keramahan orang-orang di Madinah. Berkali-kali kami merasakan kebaikan dari orang-orang yang bahkan belum pernah kami kenal sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, mutawif memanggil seluruh jamaah untuk kembali berkumpul. Setelah memastikan semuanya sudah berada di dalam bus, kami pun meninggalkan Kebun Kurma dan kembali menuju hotel.
Sesampainya di hotel, kami langsung bergegas menuju kamar. Rasanya badan sudah mulai meminta istirahat setelah setengah hari beraktivitas. Setelah rebahan beberapa menit, kami menunaikan shalat Zuhur di kamar karena waktu Zuhur sudah berlalu saat perjalanan menuju hotel. Seusai shalat, kami pun segera turun ke restoran hotel untuk makan siang.
Padahal perjalanan hari itu baru berjalan setengah hari. Namun entah kenapa, hati ini rasanya sudah penuh oleh berbagai cerita. Ada rasa haru karena akhirnya benar-benar sampai di Madinah, rasa syukur yang terus mengalir, dan semangat untuk menjalani hari-hari berikutnya di Tanah Suci.
Sesampainya di restoran, suasananya cukup ramai. Banyak jamaah sedang menikmati makan siang. Aku, Bu Ren, dan Uti Atun pun mencari meja kosong untuk meletakkan tas sebagai penanda bahwa meja itu sudah ada yang menempati.
Mataku menangkap sebuah meja yang hanya diduduki seorang bapak paruh baya.
"Permisi, Pak. Mohon maaf sebelumnya, apakah kursi di depan Bapak masih kosong?" tanyaku dengan sopan.
Bapak itu langsung tersenyum ramah.
"Iya, Nak. Kosong kok. Silakan"
"Baik, terima kasih ya Pak"
Kami pun meletakkan tas di meja itu sebelum mengambil makanan. Siang itu menunya cukup beragam. Kami mengambil nasi, beberapa jenis sayur, lauk, buah, dan segelas minuman dingin. Setelah semuanya lengkap, kami kembali ke meja dan mulai menikmati makan siang.
Obrolan kecil pun mengalir begitu saja.
"Bapak dari kota mana, Pak?" tanya Bu Ren sambil menyendok nasi.
"Saya dari Surabaya, Bu. Berangkat pakai travel X. Teman-teman rombongan saya sebenarnya di meja sana. Tadi penuh, jadi saya makan di sini dulu."
"Oh begitu. Sudah berapa lama di Madinah, Pak?" kali ini Uti Atun yang bertanya.
"Sudah seminggu. Besok kami berangkat ke Makkah. Di sana juga sekitar seminggu sebelum pulang ke Surabaya"
"Wah, enak ya, Pak. Bisa lebih lama ibadahnya" ujar Bu Ren.
"Iya, Alhamdulillah"
"Kalau paketnya berapa ya, Pak?" tanya Bu Ren lagi.
"Sekitar tiga puluh jutaan lebih, Bu. Tapi belum sampai empat puluh juta"
"Masya Allah... lumayan lama ya, Pak. Semoga puas ibadahnya dan semua doa dikabulkan"
"Aamiin. Terima kasih, Bu"
Percakapan singkat itu terasa begitu hangat. Padahal kami sama sekali enggak saling mengenal. Mungkin memang seperti inilah suasana di Tanah Suci. Orang-orang lebih mudah saling menyapa, berbagi cerita, dan mendoakan satu sama lain.
Tak lama kemudian, rombongan beliau selesai makan dan mulai beranjak keluar restoran. Bapak itu pun berpamitan kepada kami, lalu bergabung kembali dengan teman-teman seperjalanannya. Kami melanjutkan makan siang sambil sesekali bercerita tentang rencana sore nanti.
Selesai makan, kami kembali ke kamar hotel.
Bu Ren dan Uti Atun memilih beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Sore nanti, setelah shalat Ashar, kami berencana berburu oleh-oleh di sekitar Masjid Nabawi. Sementara itu Firda belum kembali ke kamar karena masih berjalan-jalan menikmati suasana Madinah bersama suaminya.
Aku sendiri punya satu rencana yang ingin kuselesaikan lebih dulu.
"Bu, aku izin ke ATM sebentar ya" kataku kepada Bu Ren.
"Kamu sudah tahu lokasi ATM-nya, Tan? Jangan sampai nyasar"
"Sudah, Bu. Aku tadi lihat petunjuknya di TikTok"
Bu Ren tersenyum, meski wajahnya masih tampak sedikit khawatir.
"Ya sudah, hati-hati ya. Jangan jauh-jauh"
"Siap, Bu. Tenang aja. Ada Google Maps. Di sekitar sini pun banyak orang Indonesia"
"Pintu kamar enggak kami kunci ya. Nanti kalau pulang tinggal dibuka aja"
"Siap, Bu"
Aku pun berpamitan sambil mengucapkan salam.
Sebenarnya ada alasan kenapa aku memilih pergi sendiri.
Aku ini termasuk orang yang sungkanan. Rasanya enggak enak kalau nanti sore, saat semua orang sedang semangat berbelanja, aku justru mengajak mereka mencari ATM lebih dulu. Aku juga khawatir uang tunai yang kubawa ternyata kurang. Jadi, menurutku lebih baik mencuri start siang ini. Sekalian jalan kaki menikmati suasana Madinah.
Aku mengikuti petunjuk yang sebelumnya kusimpan dari TikTok.
Tujuanku adalah area sekitar Gate 330 Masjid Nabawi. Dari sana aku masuk ke Taiba Center melalui Gate 5. Selama perjalanan, aku sama sekali enggak bertanya kepada siapa pun. Aku hanya mengikuti arah di Google Maps sambil sesekali mencocokkan keadaan sekitar dengan video yang pernah kutonton.
Beberapa menit kemudian, akhirnya aku menemukan ATM Center.
Rasanya lega sekali.
Aku memilih mesin ATM yang bertanda Visa dan Mastercard. Kartu debit BCA kumasukkan ke mesin. Bahasa Inggris kupilih sebagai bahasa transaksi, lalu kuinput PIN dan nominal penarikan.
Aku menarik uang di atm sebesar 500 SAR untuk berjaga-jaga, meskipun sebenarnya saat masih di Indonesia, aku sudah menukarkan sekitar 1.000 SAR di money changer.
Beberapa detik kemudian...
Bzztt...
Lima lembar uang pecahan 100 SAR keluar dari mesin.
"Alhamdulillah... berhasil"
Aku mengambil uang dan memastikan kartu ATM keluar lebih dulu, lalu langsung kusimpan kembali ke dalam dompet sebelum meninggalkan mesin ATM.
Tak lama kemudian, notifikasi email dan m-banking masuk ke ponselku.
Saat kulihat rinciannya, ternyata kurs penarikan tunai melalui ATM justru sedikit lebih murah dibandingkan kurs saat aku menukar uang di money changer di Indonesia. Memang ada biaya administrasi sekitar Rp20.000, tetapi secara keseluruhan nilainya masih cukup menguntungkan.
Pengalaman kedua mengambil uang di ATM luar negeri yang sebelumnya sempat membuatku khawatir, ternyata berjalan sangat lancar.
Karena sudah sampai di kawasan Taiba Center, aku memutuskan sekalian melihat-lihat toko oleh-oleh sambil berjalan keluar menuju deretan toko souvenir yang ada di sekitar Masjid Nabawi.
Setibanya di luar, aku berjalan santai dari sekitar Gate 330 hingga Gate 339 Masjid Nabawi. Hampir di setiap sudut ada toko yang menjual parfum, kurma, sajadah, tasbih, cokelat Dubai, hingga berbagai souvenir khas Madinah.
Salah satu toko menarik perhatianku.
Aku mencoba bertanya menggunakan bahasa Inggris.
"Excuse me..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, terdengar suara
"Saya bisa bahasa Indonesia kak"
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Di hadapanku berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah putih yang bersih dan rapi. Senyumnya ramah, tutur katanya sopan, dan aroma parfum khas Arab yang ia kenakan begitu semerbak.
Akhirnya kami pun mengobrol menggunakan bahasa Indonesia. Rasanya seperti sedang belanja di toko milik orang Indonesia.
Aku membeli dua botol parfum yang cukup terkenal, dua bungkus cokelat Dubai ukuran kecil, peci, dan sebuah sajadah.
Saat pembayaran selesai, tiba-tiba penjaga toko mengambil sebuah kotak parfum dari rak.
"Ini buat Kakak. Gratis"
Aku sempat terdiam.
"Masya Allah... serius?"
"Iya. Hadiah buat kakak"
Akupun mengucapkan terima kasih.
Di tempat yang jauh dari rumah, menerima hadiah kecil dari orang yang bahkan baru beberapa menit kukenal terasa begitu berkesan. Bukan karena nilai barangnya, tetapi karena keramahan yang kuterima.
Setelah selesai berbelanja, aku mengirim pesan kepada Bu Ren melalui WhatsApp.
"Assalamu'alaikum Bu, aku langsung ke Masjid Nabawi ya. Sekalian shalat Ashar di sana. Jadi enggak balik dulu ke hotel."
Tak lama kemudian beliau membalas.
"Iya, Tan. Nanti kita ketemu aja di Masjid Nabawi."
Aku pun langsung berjalan menuju pelataran Masjid Nabawi.
Aku memilih duduk di salah satu saf luar sambil menunggu azan Ashar. Angin sore berembus pelan. Matahari masih bersinar hangat, tetapi suasananya terasa begitu damai.
Untuk mengisi waktu, aku membuka aplikasi Al-Qur'an di ponsel dan mulai membaca beberapa ayat. Sesekali aku mengangkat kepala, memandang payung-payung raksasa yang berdiri megah di pelataran masjid, lalu mengabadikan suasana dengan kamera ponsel.
Tak lama kemudian, Bu Ren dan Uti Atun datang.
Mereka duduk tepat di sampingku.
Beberapa menit setelahnya, suara azan Ashar berkumandang memenuhi pelataran Masjid Nabawi.
Kami pun menunaikan shalat sunnah, berdoa sejenak, lalu menunggu iqamah.
Ketika iqamah dikumandangkan, ribuan jamaah berdiri hampir bersamaan. Saf-saf yang sebelumnya tampak longgar seketika penuh.
Kami menunaikan shalat Ashar berjamaah.
Selesai shalat, kami enggak langsung beranjak. Kami memilih tetap duduk menikmati suasana sambil menunggu pesan dari mutawif yang akan mengajak seluruh rombongan berbelanja bersama.
Sambil menunggu, aku memperhatikan orang-orang di sekelilingku.
Di sini banyak wanita yang shalat tanpa mukena seperti yang umum digunakan di Indonesia. Mereka cukup mengenakan gamis longgar dan kerudung panjang, lalu berdiri khusyuk menghadap kiblat.
Aku juga melihat beberapa jamaah dari Asia Selatan. Dari cara berpakaian hingga gerakan shalat mereka, ada sedikit perbedaan dengan yang biasa kulihat di Indonesia.
Namun justru di situlah aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Perbedaan bahasa, warna kulit, budaya, bahkan kebiasaan dalam beribadah seolah melebur menjadi satu.
Kami datang dari penjuru dunia yang berbeda, tetapi sore itu kami berdiri menghadap kiblat yang sama, memanjatkan doa kepada Tuhan yang sama.
Masya Allah...
Momen sederhana itu membuatku benar-benar merasakan arti umat yang selama ini hanya kubaca di buku atau kudengar dalam ceramah. Di pelataran Masjid Nabawi, semua orang datang dari negara, bahasa, dan budaya yang berbeda, tetapi tujuan kami sama yaitu menjadi tamu Allah. Rasanya hangat sekali berada di tengah lautan manusia yang dipersatukan oleh iman.
Beberapa menit kemudian, notifikasi WhatsApp Group dari mutawif akhirnya masuk.
"Assalamu'alaikum Bapak Ibu jamaah, mohon berkumpul di Gate 327"
Petualangan kami berburu oleh-oleh di Madinah pun akhirnya dimulai.
Setelah memastikan seluruh jamaah sudah berkumpul, kami diajak menuju pusat belanja oleh-oleh serba satu riyal. Ternyata lokasinya lumayan dekat, tetapi harus berjalan melewati Gate 339 Masjid Nabawi yang tadi sempat kulewati. Setelah itu kami menuruni eskalator, dan... MasyaAllah, di bawah sana sudah berjejer puluhan kios oleh-oleh. Di seberangnya ada toko abaya, gamis, jubah pria, hingga berbagai perlengkapan ibadah.
Suasananya langsung ramai. Hampir semua jamaah tampak antusias memilih buah tangan untuk keluarga di rumah. Ada yang sibuk membandingkan gantungan kunci, ada yang mengumpulkan tasbih warna-warni, bahkan ada yang membawa keranjang belanja yang isinya sudah hampir penuh.
Aku tentu enggak mau ketinggalan.
Satu per satu barang mulai masuk ke keranjang belanjaku. Ada gantungan kunci, tempelan kulkas, pewarna kuku, tasbih, gelang, hingga sebuah cincin. Barang-barang kecil, tetapi rasanya begitu berarti karena semuanya akan kubawa pulang untuk orang-orang tersayang.
Belum puas, setelah membayar aku mampir ke toko souvenir lain dan menemukan boneka unta yang lucu. Walaupun harganya 10 SAR, aku membelinya, rasanya sayang kalau selucu ini enggak dibeli.
Setelah itu langkahku beralih ke toko abaya. Di sana tergantung berbagai model abaya wanita dengan warna-warna yang cantik. Di sisi lain berjajar jubah dan baju koko pria. Aku memilih satu abaya dan satu baju koko dengan warna yang senada untuk Mama dan Bapak. Membayangkan mereka memakainya nanti saja sudah membuatku tersenyum sendiri.
Ketika selesai berbelanja, aku bertemu Bu Ren, Uti Atun, dan beberapa jamaah ibu lainnya.
"Pak Ustadz, kami izin ke Masjid Nabawi dulu ya. Mau persiapan shalat Maghrib" ujar salah seorang dari kami kepada mutawif.
Beliau mengangguk sambil tersenyum dan mengizinkan kami berangkat lebih dulu.
Kami pun segera berjalan kembali menuju Masjid Nabawi. Di sepanjang perjalanan kami saling bercerita tentang pengalaman hari itu, mulai dari ziarah ke Masjid Quba, Jabal Uhud, sampai cerita lucu saat belanja oleh-oleh. Tanpa terasa, obrolan ringan itu mengantarkan kami kembali ke pelataran Masjid Nabawi.
Sesampainya di sana, kami berpisah. Beberapa jamaah ibu memilih mengambil saf di pelataran masjid, sedangkan aku, Bu Ren, dan Uti Atun memilih masuk ke dalam masjid.
Begitu melangkah masuk, suasananya sudah jauh lebih ramai dibandingkan siang tadi. Hampir setiap saf telah terisi. Kami berjalan perlahan sambil mencari tempat yang masih kosong.
Alhamdulillah... kami menemukannya.
Kami pun duduk sambil menunggu waktu Maghrib tiba.
Tak lama kemudian, seorang askar perempuan menghampiri kami sambil membawa tumpukan tas plastik hijau. Beliau membagikannya satu per satu kepada para jamaah.
Aku sempat penasaran.
Saat kubuka, ternyata isinya roti, beberapa butir kurma, yoghurt, dan sebotol air mineral.
MasyaAllah... ternyata setiap hari Senin dan Kamis Masjid Nabawi menyediakan takjil gratis bagi para jamaah yang akan berbuka puasa sunnah.
Kami mengucapkan terima kasih kepada askar tersebut dengan penuh rasa syukur.
Beberapa menit kemudian, azan Maghrib berkumandang memenuhi seluruh sudut masjid. Suaranya begitu indah dan menenangkan.
Seperti biasa, kami melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, lalu berdoa sambil menunggu iqamah.
Tak lama kemudian iqamah dikumandangkan.
Kami pun berdiri, merapatkan saf, lalu melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama ribuan muslim dari berbagai penjuru dunia.
Selesai shalat, kembali dilaksanakan shalat jenazah sebagaimana yang selalu dilakukan setiap selesai shalat fardu di Masjid Nabawi. Momen itu selalu mengingatkanku bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Allah.
Malam itu kami enggak langsung pulang ke hotel karena masih menunggu waktu Isya.
Masjid Nabawi perlahan kembali tenang. Sebagian jamaah membaca Al-Qur'an, ada yang berzikir, ada pula yang memejamkan mata sambil berdoa.
Aku pun kembali mengangkat kedua tangan.
Doaku masih sama.
Aku kembali meminta kepada Allah agar dipertemukan dengan jodoh terbaik pada waktu yang paling indah menurut-Nya.
Hihihi... mungkin doaku memang itu-itu saja. Tetapi bukankah Allah menyukai hamba-Nya yang terus meminta?
Setelah selesai berdoa, aku meminum air mineral dari paket takjil tadi, lalu melanjutkan membaca Al-Qur'an hingga azan Isya berkumandang.
Seperti sebelumnya, kami kembali melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, menunggu iqamah, lalu menunaikan shalat Isya berjamaah. Seusai shalat, kembali dilaksanakan shalat jenazah, kemudian kami menutup malam itu dengan doa.
"Yuk, kita makan malam ke hotel" ajak Bu Ren.
Kami bertiga pun berjalan keluar dari Masjid Nabawi.
Udara malam Madinah terasa jauh lebih sejuk dibandingkan siang hari. Lampu-lampu kota memancarkan cahaya hangat, sementara para jamaah masih memenuhi jalanan dengan langkah yang tenang. Ada yang baru selesai shalat, ada yang menuju hotel, ada pula yang masih duduk menikmati suasana masjid.
Hari itu terasa panjang, tetapi sama sekali enggak melelahkan di hati.
Sejak sebelum Subuh hingga selepas Isya, hampir seluruh waktu kami dihabiskan di kota ini. Tubuh memang mulai letih, tetapi hati justru terasa semakin penuh oleh rasa syukur.
Sesampainya di restoran hotel, aroma masakan hangat langsung menyambut kami.
Malam itu menu prasmanannya berisi nasi putih, sayur sawi, rendang, bakso, serta aneka buah segar. Di sudut ruangan sudah tersedia teh hangat dan air mineral. Setelah seharian berjalan kaki, berziarah, beribadah, dan berburu oleh-oleh, makan malam sederhana itu terasa begitu nikmat. Rasanya seperti hadiah kecil setelah hari yang begitu penuh.
Selesai makan malam, kami enggak langsung kembali ke kamar. Semua jamaah masih duduk di restoran sambil menunggu pengarahan dari tour leader.
Beliau kemudian mengingatkan bahwa jamaah wanita diminta beristirahat sejenak karena pukul 22.00 malam harus sudah berkumpul di lobi hotel karena tujuan kami berikutnya adalah Raudhah.
Wajah para jamaah wanita tampak berbinar setelah mendengar kalimat itu. Hampir semua saling tersenyum karena akhirnya momen yang sejak lama dinantikan akan segera tiba.
Mengapa kami begitu antusias?
Karena Raudhah merupakan area di Masjid Nabawi yang berada di antara makam Rasulullah SAW dan mimbar. Rasulullah pernah bersabda, "Tempat di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman di antara taman-taman surga" (HR. Bukhari). Raudhah adalah tempat yang sangat dimuliakan. Banyak kaum muslimin datang dari seluruh dunia dengan harapan dapat shalat dan memanjatkan doa di sana.
Sesampainya di kamar, kami langsung menyiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa malam itu. Gamis, kerudung, sandal, plastik untuk menyimpan sandal, botol minum, hingga barang-barang kecil lainnya kami susun agar enggak ada yang tertinggal.
Rasanya sudah enggak sabar.
Setelah semuanya siap, aku memakan takjil yang tadi diberikan di Masjid Nabawi. Masya Allah, rasanya nikmat dan mengenyangkan ya. Beberapa saat setelah itu, merebahkan tubuh di atas kasur.
Mataku menatap langit-langit kamar hotel.
Lalu tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
MasyaAllah... aku benar-benar sedang berada di Madinah.
Beberapa hari yang lalu aku masih menjalani rutinitas yang sama seperti biasanya, berangkat dari rumah ke kantor, lalu pulang dari kantor ke rumah. Kini aku sudah merasakan shalat di Masjid Nabawi dan Masjid Quba, berdiri di Jabal Uhud, membeli oleh-oleh di Madinah, dan sebentar lagi, InsyaAllah, akan memasuki Raudhah.
Rasanya seperti mimpi yang perlahan berubah menjadi kenyataan.
Di tengah lamunanku, ponselku tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan baru masuk ke WhatsApp Group.
Ternyata mutawifah dan tour leader kembali mengingatkan,
"Assalamu'alaikum para jamaah wanita, yuk kita kumpul di lobi hotel pukul 22.00 untuk persiapan menuju Raudhah"
Aku membaca pesan itu berulang kali, lalu tanpa sadar tersenyum.
Malam itu ternyata belum benar-benar berakhir.
Justru salah satu momen yang paling kunantikan sejak berangkat umrah akan segera dimulai.
Dengan hati yang dipenuhi rasa harap sekaligus sedikit gugup, aku segera berwudu kemudian mengenakan kembali mukena dan bersiap menuju lobi hotel.
Tak lama kemudian, para jamaah wanita sudah berkumpul. Setelah jumlah kami dipastikan lengkap, kami berjalan bersama menuju Masjid Nabawi. Udara malam Madinah terasa begitu sejuk. Meski waktu sudah cukup larut, jalanan di sekitar masjid masih dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru dunia yang melangkah dengan tujuan yang sama.
Sesampainya di pelataran Masjid Nabawi, kulihat antrean panjang jamaah wanita sudah terbentuk dengan sangat rapi. Wajah-wajah dari berbagai negara tampak penuh harap. Ada yang berdzikir pelan, ada yang terus melantunkan shalawat, ada pula yang hanya terdiam sambil memejamkan mata, seolah sedang mempersiapkan hati untuk memasuki salah satu tempat paling mulia di masjid ini.
Oh iya, sedikit informasi bagi teman-teman yang mungkin baru pertama kali mendengar tentang Raudhah. Jadwal masuk jamaah pria dan wanita berbeda loch. Jadwal masuk untuk jamaah pria yaitu mulai dari pukul 02.00 dini hari hingga menjelang subuh, setelah itu Raudhah kembali dibuka mulai pukul 11.20 siang hingga waktu Isya. Sementara itu, jamaah wanita dapat memasuki Raudhah setelah shalat Subuh hingga sekitar pukul 11.00 pagi. Kesempatan berikutnya dimulai setelah shalat Isya hingga pukul 02.00 dini hari.
Saat aku berangkat umrah, jamaah pria dari rombonganku memasuki Raudhah pada dini hari hingga menjelang Subuh, sedangkan jamaah wanita mendapat jadwal sekitar pukul 22.00 malam. Saat itu, seluruh izin masuk Raudhah masih diurus secara kolektif oleh pihak travel. Namun, mulai Juni 2026 terdapat aturan baru, yaitu setiap jamaah wajib melakukan pendaftaran secara mandiri melalui aplikasi Nusuk sehingga pihak travel enggak lagi dapat mendaftarkan jamaah secara kolektif.
Kami pun berbaris mengikuti arahan askar. Sebelum masuk, sandal kami lepas, lalu dimasukkan ke dalam plastik dan disimpan di dalam tas agar lebih mudah dibawa.
Sambil menunggu giliran, aku terus memperhatikan antrean di depanku. Meski harus menunggu cukup lama, hampir enggak ada yang mengeluh. Semua tampak sabar menanti, seolah memahami bahwa setiap langkah menuju Raudhah adalah bagian dari perjuangan itu sendiri.
Beberapa saat kemudian, kami dipersilakan masuk ke area dalam Masjid Nabawi. Di sana kami terlebih dahulu melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, lalu berdoa sambil menunggu rombongan dipanggil memasuki Raudhah.
Jantungku mulai berdegup lebih cepat.
Tak lama kemudian, terdengar suara askar wanita memanggil,
"Ya Hajjah... Ya Hajjah..."
Sambil menunjuk ke arah rombongan kami.
Saat itulah aku sadar.
Giliran kami akhirnya tiba.
Kami saling menggenggam tangan agar enggak terpisah di tengah keramaian. Sambil melantunkan shalawat, kami melangkah memasuki Raudhah.
Begitu sampai di dalam, aku segera menunaikan shalat sunnah dua rakaat. Setelah salam, aku menengadahkan kedua tangan.
Entah mengapa, air mata langsung mengalir tanpa bisa kutahan.
Semua doa yang selama ini kusimpan di dalam hati seolah tumpah begitu saja. Aku menangis sepuasnya, mengadukan segala rasa syukur, harapan, ketakutan, dan impian hanya kepada Allah.
Yang membuatku semakin nyaman adalah enggak ada seorang pun yang memandang aneh. Di sekelilingku, banyak jamaah lain yang juga larut dalam doa. Ada yang terisak, ada yang mengusap air mata, ada pula yang berdoa dengan wajah penuh harap. Di tempat itu, rasanya semua orang datang membawa cerita hidupnya masing-masing, lalu menyerahkannya kepada Allah.
Beberapa menit kemudian, suara askar kembali terdengar.
"Ya Hajjah... Ya Hajjah..."
Kali ini beliau memberi isyarat agar kami segera berdiri karena rombongan berikutnya sudah menunggu giliran di luar.
Dengan langkah yang pelan, kami meninggalkan Raudhah.
Rasanya begitu cepat. Mungkin hanya beberapa menit kami berada di sana. Namun, perjuangan mengantre yang panjang seolah terbayar lunas. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah Allah benar-benar menenangkan hati yang selama ini penuh dengan berbagai harapan dan kegelisahan.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, dalam hati aku kembali berdoa,
"Ya Allah, jika Engkau berkenan, undanglah aku kembali ke Raudhah. Izinkan aku datang lagi, bersama kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, dan orang-orang yang kucintai. Aamiin."
Dengan hati yang lega sekaligus dipenuhi rasa rindu, kami berjalan kembali menuju hotel. Rasanya baru saja keluar dari Raudhah, tetapi hati ini sudah ingin kembali lagi. Semoga suatu hari nanti Allah kembali mengundangku untuk bersujud dan memanjatkan doa di tempat yang mulia itu.
Sesampainya di hotel, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Rasa lelah setelah berjalan dan mengantre sejak tadi akhirnya terasa. Namun di balik lelah itu, hati dipenuhi kebahagiaan. Alhamdulillah... hari ini Allah mengizinkanku shalat dan berdoa di Raudhah. Dengan perasaan syukur itu, aku pun terlelap.
***
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tiba-tiba suara alarm dari ponsel membangunkanku.
Dengan mata yang masih berat, kuraih ponsel di samping bantal. Jam di layar menunjukkan pukul 03.15 dini hari.
Aku menoleh ke arah tempat tidur Uti Atun.
Kosong.
"Hmm... mungkin Uti Atun sedang di toilet" gumamku pelan dalam hati.
Aku pun bangkit dari tempat tidur. Tenggorokan terasa sedikit kering, jadi aku minum susu kemasan yang kubawa dari rumah. Setelah itu, kuisi termos listrik dengan air mineral, lalu menyeduh sebuah Pop Mie.
Hangatnya kuah Pop Mie di tengah udara dini hari membuat tubuh terasa lebih segar.
"Alhamdulillah... kenyang" batinku sambil tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, pintu toilet terbuka.
Uti Atun keluar dengan gamis yang sudah rapi dan mukena yang siap dikenakan. Dari wajahnya terlihat beliau juga sudah bersiap berangkat ke Masjid Nabawi.
Aku segera membuang bungkus Pop Mie, merapikan meja agar kamar kembali bersih, lalu bergantian masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan bersiap.
Tak lama kemudian, Bu Ren ikut terbangun. Beliau langsung berwudu, kemudian mengenakan mukena sambil sesekali mengobrol ringan dengan kami.
Setelah semuanya siap, aku mencoba membangunkan Firda.
"Firda...bangun yuk. Kita ke Masjid Nabawi"
Namun mungkin karena suaraku terlalu pelan, Firda belum juga terbangun. Akhirnya Bu Ren ikut membangunkannya.
Firda membuka mata sambil tersenyum kecil.
"Nanti aku nyusul. Mau shalat sama suami" katanya.
Kami pun mengangguk.
"Okay, kami duluan ya"
Kami bertiga segera menuju lift, lalu melangkah keluar hotel menuju Masjid Nabawi yang masih diselimuti suasana dini hari.
Udara Madinah terasa sejuk menyentuh wajah. Langit masih gelap, sementara lampu-lampu di pelataran masjid memancarkan cahaya yang hangat. Dari berbagai arah, para jamaah berjalan dengan langkah tenang menuju Masjid Nabawi. Ada yang bibirnya terus basah oleh dzikir, ada yang menggenggam tasbih sambil menundukkan kepala, dan ada pula yang sesekali memandang kubah hijau dengan tatapan penuh rindu. Meski ribuan orang berjalan menuju tempat yang sama, suasananya tetap terasa damai. Enggak ada yang tergesa-gesa. Semua seolah sedang memenuhi panggilan yang sama.
Sesampainya di Masjid Nabawi, kami langsung melaksanakan shalat sunah dua rakaat. Setelah itu, kami memilih duduk di salah satu sudut masjid, berdoa dan membaca Al-Qur'an sambil menunggu waktu Subuh.
Tak lama kemudian, lantunan azan mulai menggema.
Suara muazin memenuhi setiap sudut Masjid Nabawi, terdengar begitu merdu dan menenangkan. Setiap kali mendengarnya, hatiku selalu terasa lebih damai, seolah semua kegelisahan perlahan menghilang.
Setelah azan selesai, aku kembali melaksanakan shalat sunah sebelum Subuh. Lalu aku duduk sambil berzikir, menanti iqamah dengan hati yang begitu tenang.
Beberapa menit kemudian, iqamah pun berkumandang.
Kami berdiri, meluruskan saf bersama jamaah lainnya, lalu menunaikan shalat Subuh berjamaah.
Usai shalat, aku masih enggan beranjak. Aku tetap duduk di tempat, melanjutkan dzikir dan doa sambil menikmati suasana pagi di Masjid Nabawi yang selalu membuat hati terasa teduh.
Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin membuka ponsel.
Begitu layar menyala, sebuah pesan dari tour leader langsung menarik perhatianku.
"Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, jamaah wanita mendapat kesempatan masuk ke Raudhah lagi pagi ini. Pukul 07.00 mohon berkumpul di lobi hotel setelah sarapan"
Masya Allah...
Aku langsung menoleh ke arah Uti Atun dan Bu Ren.
Mereka juga membaca pesan yang sama.
Tanpa kami sadari, senyum lebar langsung menghiasi wajah kami.
"Alhamdulillah... kita masuk Raudhah lagi"
Baru beberapa jam sebelumnya, saat melangkah keluar dari Raudhah, aku berdoa agar Allah mengundangkanku kembali. Tak pernah kusangka, bahkan sebelum matahari terbit, undangan itu sudah datang. Rasanya seperti Allah sedang berkata "Datanglah lagi". Saat itulah aku benar-benar merasakan bahwa enggak ada doa yang terlalu sulit bagi Allah untuk dikabulkan.
Hati kami dipenuhi rasa syukur. Allah benar-benar memberi kesempatan kedua untuk kembali bersujud dan mencurahkan doa di tempat mulia yang begitu kami rindukan.
Kami pun segera kembali ke hotel.
Sesampainya di kamar, kami langsung menyiapkan perlengkapan yang akan dipake dan dibawa. Gamis, kerudung, sandal, plastik untuk menyimpan sandal, botol minum, hingga tas kecil kami periksa satu per satu agar enggak ada yang tertinggal.
Setelah semuanya siap, kami turun ke restoran hotel untuk sarapan.
Pagi itu restoran sudah cukup ramai. Para jamaah tampak memenuhi hampir setiap meja.
Pilihan makanan hari ini pun cukup beragam. Ada nasi putih, nasi kebuli, sayur sop hangat, ayam balado, kentang Mustofa, roti dengan berbagai selai, aneka buah seperti jeruk, pisang, dan semangka, serta minuman mulai dari teh hangat, kopi, air mineral, hingga jus jeruk.
Aku mengambil makanan secukupnya, lalu duduk satu meja bersama Bu Ren, Uti Atun, tour leader, serta beberapa jamaah Kafilah 4 Oktober, seperti Bu Neneng dan Bu Lia.
Sepanjang sarapan, obrolan kami hampir enggak pernah jauh dari Raudhah.
Ada yang berbagi pengalaman semalam, ada yang saling mengingatkan doa-doa yang ingin dipanjatkan, bahkan ada yang sudah enggak sabar ingin segera berangkat.
Di tengah obrolan itu, seseorang berkata pelan,
"Enggak terasa ya... besok kita sudah berangkat ke Makkah"
Kalimat sederhana itu membuat kami sejenak terdiam.
Benar juga, waktu terasa berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin kami tiba di Madinah, menikmati setiap langkah menuju Masjid Nabawi. Kini, tanpa terasa, kami sudah bersiap meninggalkan kota yang begitu menenangkan hati.
Setelah sarapan, seluruh jamaah wanita berkumpul di lobi hotel. Satu per satu rombongan dicek kembali agar enggak ada yang tertinggal. Begitu semuanya lengkap, kami pun berjalan bersama menuju Masjid Nabawi.
Sesampainya di pelataran Masjid Nabawi, antrean panjang jamaah wanita dari berbagai negara sudah terbentuk. Wajah-wajah mereka dipenuhi harapan.
Ada yang terus melantunkan dzikir dengan suara lirih. Ada yang tak henti membaca shalawat. Ada pula yang memejamkan mata sambil menggenggam tasbih erat-erat, seolah sedang menenangkan hati sebelum memasuki salah satu tempat paling mulia di Masjid Nabawi.
Melihat pemandangan itu, aku kembali teringat suasana tadi malam.
Suasananya masih sama.
Hening, tetapi penuh doa. Ramai, tetapi terasa damai.
Semua datang membawa harapan dan kerinduan yang sama.
Sambil mengantre pandanganku sesekali ke arah antrean di depan, lalu beralih ke kanan, ke kiri, hingga ke belakang. Barisan itu begitu panjang, tetapi tetap tertib. Meski harus berdiri cukup lama, hampir semua orang menunggu dengan sabar. Enggak ada yang menyela antrean, enggak ada yang meminta diprioritaskan, dan enggak ada yang menunjukkan bahwa dirinya lebih penting daripada yang lain. Pemandangan itu membuatku merenung. Di tempat semulia ini, semua orang berdiri dalam barisan yang sama. Entah ia datang dari negara mana, memiliki pekerjaan apa, atau menyandang jabatan setinggi apa, semuanya menunggu dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati. Rasanya, di hadapan Allah, yang benar-benar berarti bukanlah siapa diri kita, melainkan seberapa tulus hati kita datang memenuhi panggilan-Nya.
Beberapa saat kemudian, seorang askar wanita memberi isyarat agar kami masuk ke area dalam masjid.
Seperti tadi malam, kami terlebih dahulu melaksanakan shalat sunah dua rakaat. Setelah itu kami kembali duduk, berdoa, dan berzikir sambil menunggu rombongan dipanggil memasuki Raudhah.
Tak lama kemudian, suara askar wanita terdengar memecah keheningan.
"Ya Hajjah... Ya Hajjah..."
Beliau menunjuk ke arah rombongan kami.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
Alhamdulillah...
Akhirnya giliran kami tiba.
Kami sama-sama tersenyum, lalu tanpa sadar saling menggenggam tangan. Rasanya sulit menggambarkan kebahagiaan saat itu. Baru beberapa jam sebelumnya kami meninggalkan Raudhah dengan doa agar Allah mengundang kami kembali. Tak pernah terbayang, undangan itu datang secepat ini.
Sambil melantunkan shalawat, kami melangkah perlahan memasuki Raudhah.
Begitu tiba di dalam, aku segera melaksanakan shalat sunah dua rakaat.
Setelah salam, kedua tanganku terangkat.
Belum sempat banyak mengucapkan doa, air mataku sudah lebih dulu mengalir.
Semua rasa yang selama ini kusimpan seakan tumpah begitu saja.
Aku menangis.
Mengucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan.
Menyampaikan harapan-harapan yang selama ini kupendam.
Mengadukan rasa takut dan kegelisahan yang hanya Allah mengetahuinya.
Menitipkan impian-impian yang belum pernah terucap kepada siapa pun.
Semuanya kuserahkan kepada Allah.
Yang membuatku semakin nyaman, enggak ada seorang pun yang men-judge aku cengeng ataupun lebay.
Di sekelilingku, banyak jamaah lain yang juga larut dalam doa.
Ada yang terisak pelan.
Ada yang berkali-kali mengusap air mata.
Ada pula yang menengadahkan kedua tangan begitu lama, seolah tak ingin mengakhiri percakapannya dengan Allah.
Saat itu aku menyadari, setiap orang yang datang ke Raudhah membawa cerita hidupnya masing-masing, dan di tempat itu, kami semua sama-sama menyerahkan semuanya kepada Allah.
Beberapa menit kemudian, suara askar kembali terdengar.
"Ya Hajjah... Ya Hajjah..."
Beliau memberi isyarat agar kami segera berdiri karena rombongan berikutnya sudah menunggu di luar.
Dengan langkah yang perlahan, kami meninggalkan Raudhah.
Tak ada seorang pun yang terburu-buru. Rasanya semua orang ingin memperpanjang beberapa detik terakhir sebelum benar-benar keluar dari tempat yang begitu mulia itu.
Padahal, jika dihitung, mungkin aku hanya berada di dalam Raudhah selama beberapa menit.
Namun, beberapa menit itu menjadi salah satu hadiah terindah yang pernah Allah berikan dalam hidupku.
Semua perjuangan sejak pagi berjalan kaki menuju Masjid Nabawi, mengantre berjam-jam bersama ribuan jamaah wanita dari berbagai penjuru dunia tanpa saling mengenal seolah terbayar lunas ketika akhirnya aku bisa bersujud di sana.
Saat kepala menyentuh sajadah, rasanya semua beban yang selama ini kupikul ikut luruh bersama air mata.
Hati yang sebelumnya penuh kegelisahan terasa jauh lebih ringan.
Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa lega yang tak mampu diwakili oleh kata-kata.
Sebelum benar-benar melangkah pergi, aku berhenti sejenak.
Aku menoleh sekali lagi ke arah Raudhah.
Mataku berusaha merekam setiap sudutnya. Aku tahu, belum tentu aku bisa kembali lagi dalam waktu dekat. Karena itu, aku ingin menyimpan pemandangan itu sebaik mungkin, bukan hanya dalam foto, tetapi juga di dalam hati.
Dalam diam, aku kembali berbisik kepada Allah.
"Ya Allah, terima kasih karena hari ini Engkau kembali mengundangkanku ke tempat yang begitu mulia. Terima kasih telah mengizinkanku bersujud, menangis, dan mencurahkan segala isi hati di sini. Jika Engkau berkenan, undanglah aku kembali. Izinkan aku datang lagi bersama kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, dan orang-orang yang kucintai. Semoga suatu hari nanti kami semua bisa bersujud dan berdoa bersama di Raudhah. Aamiin ya Rabbal 'alamin."
Aku pun tersenyum kecil sebelum akhirnya benar-benar melangkahkan kaki meninggalkan tempat yang selalu membuat hati ingin kembali.
***
Setelah keluar dari Raudhah, rombongan kami berpencar karena masing-masing memiliki rencana yang berbeda. Ada yang memilih kembali ke hotel untuk beristirahat setelah lelah mengantre, ada yang duduk santai di pelataran Masjid Nabawi sambil menunggu waktu Zuhur, dan ada pula yang masih bersemangat berburu oleh-oleh sebelum meninggalkan Madinah.
Aku memilih menemani Bu Ren mencari oleh-oleh.
Beliau masih ingin membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Aku pun mengajak beliau ke Taiba Center, pusat perbelanjaan yang kemarin sempat kukunjungi saat mencari ATM.
Begitu memasuki pusat perbelanjaan, suasananya kembali dipenuhi para jamaah dari berbagai negara. Suara percakapan dalam beragam bahasa berpadu dengan sapaan ramah para penjual yang menawarkan dagangannya. Aroma parfum Arab yang khas sesekali tercium ketika kami melewati toko-toko wewangian.
Bu Ren tampak menikmati setiap sudut toko.
Beliau memilih sajadah satu per satu, membandingkan motif abaya, lalu sesekali bertanya kepadaku apakah warna tertentu cocok untuk anaknya.
Melihat beliau begitu antusias, aku ikut tersenyum.
Belanja oleh-oleh ternyata bukan hanya soal membeli barang ya. Ada kebahagiaan tersendiri loch ketika membayangkan wajah orang-orang tercinta yang akan menerimanya nanti.
Sementara Bu Ren sibuk memilih hadiah untuk keluarganya, aku kembali membeli satu botol parfum. Rasanya aku belum puas membawa pulang aroma khas Timur Tengah. Selain itu, aku juga mengambil beberapa bungkus cokelat kacang khas Arab yang sudah lama ingin kucoba.
Setelah selesai, kami kembali menuju Masjid Nabawi.
Pelataran masjid siang itu terasa teduh. Payung-payung raksasa telah terbuka sempurna, menaungi ribuan jamaah yang duduk berzikir, membaca Al-Qur'an, atau sekadar menikmati suasana.
Kami memilih duduk di salah satu sisi pelataran.
Aku membuka aplikasi Alquran dalam ponsel, lalu membaca beberapa ayat Al-Qur'an.
Di sela-sela membaca Al-Qur'an, aku mengabadikan beberapa sudut Masjid Nabawi.
Bukan untuk dipamerkan. Melainkan agar suatu hari nanti, ketika rasa rindu itu datang, aku bisa membuka kembali foto-foto itu dan mengingat betapa damainya siang di Madinah.
Tak lama kemudian, azan Zuhur berkumandang. Suaranya menggema lembut memenuhi seluruh pelataran masjid.
Aku segera berdiri, menunaikan shalat sunnah, lalu kembali menengadahkan tangan sambil menunggu iqamah.
Beberapa menit kemudian iqamah dikumandangkan, saf-saf mulai dirapatkan.
Kami pun menunaikan shalat Zuhur berjamaah, dilanjutkan dengan shalat jenazah seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah itu, aku dan Bu Ren kembali berjalan menuju hotel.
Di tengah perjalanan, Bu Ren tiba-tiba menghentikan langkah.
"Tan, mampir sebentar, yuk"
Beliau menunjuk sebuah toko souvenir di pinggir jalan.
Aku mengangguk.
Toko itu dipenuhi berbagai kerajinan khas Madinah. Ada gelas-gelas kaca dengan ukiran cantik, gelang, cincin, tasbih, hingga boneka unta berukuran kecil yang lucu.
Bu Ren sibuk memilih beberapa souvenir, termasuk boneka unta untuk calon cucunya.
Sementara menunggu beliau, aku berjalan perlahan menyusuri rak-rak pajangan. Mataku berhenti pada beberapa hiasan kaca yang begitu cantik.
Rasanya ingin sekali membawanya pulang. Aku sudah membayangkan benda itu menghiasi lemari kaca di ruang tamu rumah. Namun bayangan lain segera muncul. Perjalanan pulang masih sangat jauh. Masih harus naik bus, pesawat, lalu perjalanan darat menuju rumah.
"Kalau pecah di jalan, sayang banget" batinku.
Akhirnya, dengan sedikit berat hati, aku mengurungkan niat membeli souvenir kaca itu.
Aku pun melanjutkan melihat-lihat isi toko hingga akhirnya menemukan sebuah tas besar berwarna emas.
"Ini kayaknya pas buat nyimpen oleh-oleh"
Tanpa berpikir lama, aku langsung membelinya. Koperku sudah hampir penuh, sementara oleh-oleh masih terus bertambah.
Melihatku membeli tas, Bu Ren pun ikut mengambil tas yang sama.
"Kayaknya aku juga perlu deh" katanya sambil tertawa.
Wajar bila Bu Ren juga membeli tas, karena oleh-oleh beliau jauh lebih banyak daripada punyaku hihihi.
Setelah puas berbelanja, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel.
Begitu sampai di kamar, kami langsung meletakkan semua belanjaan.
Uti Atun yang melihat kami hanya tertawa.
"Oala... mantap nih. Borong lagi sampai beli tas baru"
Aku ikut tertawa.
"Hihihi... iya nih. Lapar mata."
Suasana sederhana seperti itu justru menjadi kenangan yang paling sering membuatku tersenyum ketika mengingat perjalanan ini.
Tak lama kemudian, kami turun ke restoran hotel untuk makan siang bersama.
Menu hari itu cukup beragam. Ada nasi biryani, nasi putih, rendang, mi goreng, sayur sawi, bakso, kerupuk, aneka buah seperti pisang, jeruk, dan semangka, serta berbagai minuman mulai dari kopi, teh es, air mineral, hingga jus buah naga.
Setelah mengambil makanan, aku duduk bersama jamaah lainnya. Suasana restoran dipenuhi obrolan ringan. Ada yang saling memperlihatkan oleh-oleh, ada yang bercerita tentang pengalaman di Raudhah, ada pula yang mulai membahas persiapan menuju Makkah.
Di tengah makan siang, tour leader memberikan pengumuman.
"Assalamu'alaikum bapak dan ibu jamaah, besok pagi jam sembilan, semua koper dan tas besar sudah harus diletakkan di depan pintu kamar. Nanti petugas handling akan mengambilnya untuk dimasukkan ke bagasi bus. Setelah makan siang dan shalat Zuhur kita akan melanjutkan perjalanan menuju Kota Makkah"
Mendengar pengumuman itu, hatiku langsung berbunga-bunga.
Masyaallah...
Besok kami akan menuju Kota Makkah.
Kami juga akan mengambil miqat di Masjid Bir Ali sebelum memulai rangkaian ibadah umrah.
Perasaan bahagia langsung memenuhi dada.
Namun, di saat yang sama muncul rasa lain yang sulit dijelaskan.
Sedih, karena sebentar lagi aku harus meninggalkan Madinah.
Kota yang menghadirkan ketenangan dengan cara yang tak pernah bisa kutemukan di tempat lain. Kota yang setiap sudutnya membuat hati terasa damai. Kota yang membuatku selalu ingin berlama-lama berada di dekat Masjid Nabawi.
Aku tahu perjalanan ini harus berlanjut.
Namun, rasanya berat sekali mengucapkan selamat tinggal.
***
Usai makan siang, kami kembali ke kamar untuk mulai berkemas.
Suasana kamar yang sebelumnya tenang mendadak berubah menjadi sibuk.
Ada yang membuka lemari lalu melipat pakaian satu per satu. Ada yang mengeluarkan seluruh oleh-oleh untuk disusun ulang agar muat di koper. Ada yang memasukkan perlengkapan mandi ke dalam tas, sementara yang lain sibuk menggulung kabel charger, mengemas camilan, hingga memastikan enggak ada barang yang tertinggal.
Aku pun mulai merapikan barang-barangku.
Semua pakaian yang tergantung di lemari kembali kulipat dan kusimpan ke dalam koper. Peralatan mandi juga kumasukkan ke tas kabin.
Setelah itu, aku mulai menata ulang oleh-oleh yang kubeli selama perjalanan, mulai dari Turkiye, kebun kurma, hingga Madinah.
Abaya dan baju koko kususun rapi di dalam koper.
Parfum, kurma, dan minyak zaitun kubungkus satu per satu menggunakan bubble wrap agar tetap aman selama perjalanan. Setelah itu, semuanya kuselipkan di antara tumpukan pakaian agar enggak mudah terbentur.
Sementara boneka unta, gantungan kunci, tasbih, magnet kulkas, pewarna kuku, gelang, dan cincin, serta oleh-oleh yang kubeli di Turkiye kumasukkan ke dalam tas besar berwarna emas yang baru saja kubeli.
Untuk cokelat Turkiye, cokelat Dubai, dan cokelat kacang khas Arab, sengaja kusimpan di tas kabin supaya enggak hancur selama di bagasi.
Aku tersenyum sendiri melihat semua barang yang sudah kukumpulkan.
Saat berangkat, aku hanya membawa tiga tas yaitu koper, tas kabin, dan tas selempang kecil untuk ponsel, paspor, dan dompet.
Kini, saat perjalanan belum selesai, jumlahnya sudah bertambah menjadi empat.
Sepertinya oleh-oleh memang selalu punya cara sendiri untuk memenuhi koper.
Setelah semua selesai dibereskan, aku menghabiskan beberapa camilan yang kubawa dari Indonesia agar isi tas sedikit berkurang.
***
Menjelang sore, kami kembali bersiap menuju Masjid Nabawi untuk menunaikan shalat Ashar.
Aku, Uti Atun, Bu Ren, dan Firda berjalan bersama menuju pelataran masjid.
Hari itu terasa berbeda.
Kami sadar, itulah sore terakhir kami di Madinah.
Karena itu kami sengaja memilih saf di pelataran masjid agar bisa menikmati suasana sebanyak mungkin.
Tak lama setelah kami duduk, azan Ashar berkumandang.
Seperti biasa, aku menunaikan shalat sunnah terlebih dahulu, lalu berdoa sambil menunggu iqamah. Setelah shalat Ashar berjamaah dan shalat jenazah selesai, kami enggak langsung kembali ke hotel.
Kami memilih tetap duduk di sana.
Menikmati sore terakhir di Masjid Nabawi.
Orang-orang berlalu lalang. Anak-anak berlarian memberi makan burung merpati. Semilir angin berembus lembut di bawah payung-payung raksasa yang mulai menaungi pelataran.
Tak ada yang terburu-buru.
Semua terasa begitu damai.
Setelah cukup lama duduk, aku ikut merebahkan badan di atas karpet pelataran, seperti banyak jamaah lainnya.
Masyaallah...
Rasanya berbeda. Sulit dijelaskan.
Rebahan di pelataran Masjid Nabawi menghadirkan ketenangan yang belum pernah kurasakan di tempat lain.
Aku membiarkan pandanganku terarah ke langit Madinah. Warna biru yang cerah perlahan larut menjadi semburat jingga yang lembut, menghiasi langit menjelang senja. Di atas kami, payung-payung raksasa Masjid Nabawi mulai menutup perlahan. Suaranya yang pelan berpadu dengan semilir angin sore, membuat suasana terasa begitu teduh dan menenangkan.
Sesekali kupejamkan mata.
Aku hanya ingin menikmati setiap detik yang tersisa di tempat yang telah membuat hatiku jatuh cinta.
Semilir angin sore berembus pelan, suara langkah para jamaah bersahutan, sesekali terdengar tawa kecil anak-anak yang berlarian memberi makan burung merpati. Semuanya terasa begitu damai.
Aku berharap waktu berjalan sedikit lebih lambat.
Setelah cukup lama menikmati suasana, aku kembali duduk. Kubuka aplikasi Al-Qur'an di ponsel, lalu mulai membaca beberapa ayat. Di sela-sela bacaan itu, sesekali aku mengangkat pandangan, menikmati siluet Masjid Nabawi yang perlahan diselimuti cahaya senja.
Aku ingin mengingat sore ini sebaik mungkin.
Aku sadar, hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum aku harus mengucapkan "Sampai jumpa, Madinah"
Tak lama kemudian, lantunan azan Maghrib menggema memenuhi seluruh pelataran masjid. Suara merdunya membuat siapa pun yang mendengarnya seakan berhenti sejenak dari kesibukan.
Aku segera berdiri, menunaikan shalat sunnah, lalu kembali menengadahkan tangan. Di antara waktu azan dan iqamah, aku kembali memanjatkan doa-doa terbaik. Rasanya belum puas berbicara kepada Allah di tempat seistimewa ini.
Beberapa menit kemudian, iqamah berkumandang. Saf-saf pun mulai dirapatkan, dan kami menunaikan shalat Maghrib berjamaah dengan khusyuk.
Usai shalat, kami enggak langsung kembali ke hotel.
Malam itu adalah malam terakhir kami di Madinah. Rasanya sayang jika harus buru-buru meninggalkan Masjid Nabawi.
Kami memilih tetap duduk di pelataran masjid sambil menunggu datangnya waktu Isya. Suasana malam mulai terasa berbeda. Lampu-lampu masjid telah menyala, memancarkan cahaya hangat yang membuat halaman Masjid Nabawi tampak semakin indah. Jamaah dari berbagai negara masih terus berdatangan. Ada yang berzikir, membaca Al-Qur'an, berbincang pelan dengan keluarganya, atau sekadar duduk dan rebahan menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Aku kembali membuka Al-Qur'an di ponsel dan melanjutkan membaca beberapa ayat.
Sesekali aku berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto.
Bukan karena ingin memenuhi galeri ponsel.
Melainkan karena aku tahu, suatu hari nanti ketika rasa rindu itu datang, foto-foto sederhana ini akan membawaku kembali mengenang malam yang begitu indah di pelataran Masjid Nabawi.
Tak terasa, azan Isya pun berkumandang.
Seperti biasa kami menunaikan shalat sunnah, lalu berdoa sambil menunggu iqamah. Setelah iqamah dikumandangkan, kami berdiri merapatkan saf dan melaksanakan shalat Isya berjamaah.
Malam itu menjadi shalat Isya terakhirku di Masjid Nabawi dalam perjalanan umrah kali ini.
Perasaan syukur dan haru bercampur menjadi satu.
Selesai shalat, kami pun berjalan kembali menuju hotel. Jalanan di sekitar masjid masih ramai oleh para jamaah yang hilir mudik. Udara malam Madinah terasa sejuk, membuatku tanpa sadar beberapa kali menoleh ke belakang, memandangi Masjid Nabawi yang semakin menjauh.
Sesampainya di hotel, kami langsung menuju restoran untuk makan malam bersama. Setelah selesai makan, kami kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sebelum benar-benar menutup koper, aku memeriksa setiap sudut kamar. Kubuka kembali lemari pakaian, laci meja, meja kecil di samping tempat tidur, hingga kamar mandi. Aku memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal.
Saat semuanya sudah beres, tiba-tiba perutku ingin sesuatu yang hangat.
Aku pun mengambil sebuah Pop Mie yang kubawa dari Indonesia dan mulai menuangkan air panas.
Belum lama mie itu diseduh, aroma kuahnya langsung memenuhi kamar.
Bu Ren yang sedang merapikan barang spontan menoleh sambil tersenyum.
"Wah... enaknya wangi Pop Mie... jadi lapar lagi aku."
Kami semua langsung tertawa.
Memang ya, aroma Pop Mie yang baru diseduh selalu berhasil menggoda siapa saja.
Aku kemudian membuka tas dan mengeluarkan beberapa Pop Mie yang memang sengaja kubawa dari rumah.
"Girls ini ambil aja. Aku bawa lebih"
Mendengar itu, teman-teman sekamar langsung antusias.
Daripada satu per satu harus menyeduh sendiri, aku sekalian menawarkan diri untuk menyeduhkan semuanya.
"Udah sini, biar aku yang seduhin sekalian"
Tak lama kemudian, beberapa Pop Mie berjajar rapi di atas meja. Uap hangatnya mengepul memenuhi kamar, membuat suasana terasa semakin akrab.
Kami pun menikmati Pop Mie bersama sambil mengobrol ringan.
Obrolannya sederhana, tentang oleh-oleh yang sudah dibeli, pengalaman saat di Raudhah, rencana di Makkah besok, sampai saling menggoda karena koper masing-masing mendadak penuh.
Malam terakhir di Madinah ternyata enggak diisi dengan acara yang berlebihan.
Hanya semangkuk Pop Mie hangat, tawa kecil, dan obrolan sederhana bersama teman-teman seperjalanan.
Namun justru momen sederhana seperti itulah yang paling membekas di hati.
Aku tersenyum sendiri. Ternyata berbagi Pop Mie bukan hanya membuat suasana menjadi lebih hangat. Tas yang kubawa pun jadi sedikit lebih ringan. Lumayan, pikirku sambil tertawa dalam hati.
Setelah selesai makan, kami membuang bungkus Pop Mie, lalu bergantian meminum air zamzam yang telah kami isi sedikit demi sedikit setiap shalat di Masjid Nabawi.
Segelas demi segelas kami teguk dengan penuh rasa syukur.
Malam semakin larut.
Obrolan yang tadi begitu ramai perlahan mulai mereda. Tak lama kemudian, suara percakapan berganti dengan keheningan.
Kami pun terlelap.
Mungkin karena lelah. Mungkin juga karena hati kami sudah dipenuhi begitu banyak kenangan indah.
Esok pagi, perjalanan akan berlanjut menuju Makkah.
Sementara malam itu, Madinah memberikan kami satu kenangan terakhir yang hangat, sederhana, dan akan selalu kami rindukan.
Madinah mengajarkanku bahwa kebahagiaan enggak selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa besar. Kadang, ia hadir dalam sebuah Pop Mie hangat, tawa sederhana bersama teman seperjalanan, dan malam terakhir yang diam-diam enggan kami akhiri.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar